Forum Replies Created

Viewing 15 posts - 241 through 255 (of 766 total)
  • Author
    Posts
  • in reply to: Podcast Lima Tahap Perkembangan #5679
    Aar
    Keymaster

    Kak @nongki-sakinah,

    Boleh kah diberikan contoh lebih jelas tentang yang dimaksud? Kakak ingin anak mandiri dalam hal apa? Dan apa yang tidak bisa diteladankan oleh orangtua?

    Ketidaksempurnaan kita sebagai manusia itu hal yang memang nyata kak. Kita semua mengalaminya, bukan hanya kakak.

    Kalau isunya sesekali tidak bisa memberikan teladan karena kelelahan, itu adalah hal yang sangat wajar.

    Untuk hal-hal yang kita sendiri susah melakukannya, itu menjadi bahan bagi kita sehingga bisa lebih berempati pada anak.

    “Iya nak, itu memang susah. Bunda pun susah melakukan yang itu. Tapi itu hal yang baik kalau kita punya. Kita sama-sama berjuang yuk supaya bisa melakukan itu…”

    Itu salah satu contoh sikap yang bisa kita ambil terkait harapan kita pada anak untuk fokus pada upaya, sambil kita juga berusaha menjadi lebih baik lagi sebagai personal.

    in reply to: Podcast Apa Itu Pembelajar Mandiri #5680
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @nongki-sakinah

    Memahami tujuan bisa berbeda-beda kualitasnya untuk setiap anak. Perkembangan usia juga sangat berpengaruh pada pemahaman anak tentang tujuan. Anak biasanya masih fokus pada kegiatannya dan belum tahu tentang tujuannya.

    Untuk anak-anak usia dini hingga SD, pengenalan tujuan biasanya masih perlu dibantu orangtua. Berikan contoh2 yang cukup dekat dengan anak tentang manfaat2 kegiatan yang dilakukannya.

    Misalnya:

    ~ anak suka menulis. Ceritakan dan obrolkan tentang penulis2 terkenal yang karyanya disukai anak-anak.

    ~ anak suka berenang, diskusikan tentang manfaat berenang untuk kesehatan

    – kegiatan membaca Al Quran, ceritakan tentang hal-hal baik yang didapat anak dengan membaca Al Quran

    Saat bercerita, pastikan penekanannya pada manfaat dan rasa asyik yang berpihak pada kepentingan anak, bukan pada kewajiban/keharusan dan hal2 yang dirasakan membebani anak.

    Demikian kak, semoga membant

    🙏

    in reply to: Podcast Apa Itu Pembelajar Mandiri #5681
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @nongki-sakinah,

    Perkembangan kemandirian anak memang berbeda-beda untuk setiap area. Jadi, kondisi yang kakak alami itu sangat wajar dan memang demikianlah kondisi di lapangan.

    Dengan mengetahui stage anak, kita bisa menentukan cara penyikapan yang tepat pada setiap area perkembangan anak.

    Semoga membantu 🙏

    in reply to: Checklist Parameter Perkembangan Anak Diknas #5687
    Aar
    Keymaster

    Kak @dina-oktaviana,

    Terima kasih untuk curhatnya. Saya kebayang strugging emosi yang sedang dihadapi. Memang tidak mudah jika ada anggota keluarga yang dalam kondisi terbatas, misalnya sakit. Kondisinya akan mempengaruhi emosi dan pola pertumbuhan anggota keluarga yang lain.

    Saat kondisi kakak sakit dan perlu disuapi, adik kemudian ingin disuapi juga. Mengapa? Karena dia belum bisa memahami sepenuhnya apa yang terjadi.

    Ada beberapa strategi dasar yang bisa dilakukan:

    1. Menerima dengan ikhlas

    Ini pondasi paling penting untuk menstabilkan emosi kita. Tak ada kehidupan yang sempurna. Setiap keluarga punya perjuangan dan struggling-nya masing-masing. Jadi, kita perlu menggeser sudut pandang dengan mengubah masalah menjadi pintu pertumbuhan berbeda yang sedang disediakan Tuhan untuk keluarga kakak.

    2. Menjaga kestabilan emosi

    Dengan keikhlasan dan kestabilan emosi, banyak hal baik yang akan terjadi. Kita bisa berpikir lebih jernih. Kita tak memperburuk masalah.

    Kakak jadi bisa berkomunikasi dengan baik bersama anak pertama maupun kedua. Kakak tidak mudah terpancing amarah, kesal, dan merasa gagal.

    Dengan ketenangan kakak, semoga kondisi lapangan ini bisa lebih mudah ditangani.

    3. Mengenali pintu yang terbuka

    Ketika satu pintu tertutup, pintu yang lain terbuka. Kuncinya adalah kita tak fokus hanya pada pintu yang tertutup, tapi membuka diri untuk melihat pintu lain yang sedang terbuka.

    Apa pembelajaran yang bisa dilakukan? Ini pertanyaan yang perlu kakak refleksikan dengan kondisi yang ada saat ini.

    Saat pintu kemandirian masih tertutup, kita mungkin perlu mencari jalan melingkar dan melihat pintu pertumbuhan lain.

    Mungkin pintu pertumbuhan terkait kemandirian makan sedang tertutup, tapi pintu komunikasi dan empati mungkin sedang terbuka lebar.

    4. Mengobrol sebagai pintu belajar

    Untuk mengetuk dan membuka pintu komunikasi dan empati, proses terpenting adalah mengobrol dengan santai bersama anak (bukan dengan nada emosi).

    “Adik tahu nggak kenapa kakak perlu disuapi? Itu karena kakak sedang sakit… bla bla bla… Kalau kakak sehat, pasti kakak akan makan sendiri. Kalau adik sehat atau sakit?”

    “Nah, semua orang yang sehat pasti makan sendiri. Untuk anak yang masih kecil seperti adik, sesekali boleh disuapi Bunda. Tapi adik juga perlu belajar makan sendiri. Bisa makan sendiri itu tanda anak yang sudah besar dan anak yang keren. Adik mau jadi anak yang keren?”

    “Eh, apa ya yang bisa dibantu adik untuk menolong kakak? Adik bisa bantu xxxxx?”

    Itu kurang lebih ide obrolan bersama adik untuk menstimulasi keterampilan berkomunikasi, memahami kondisi sekitar, empati, dan menolong kakak.

    Demikian kak, semoga membantu 🙏

    in reply to: Checklist Parameter Perkembangan Anak Diknas #5688
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @nora-teresa,

    Poin penting saat melakukan menemani tumbuh kembang anak usia dini adalah orangtua tidak panik, hehehe… Gimana caranya jadi orangtua yang santai, tidak tegang, dan asyik.

    Kondisi paling umum, ada checklist pertumbuhan yang melampaui usianya. Ada beberapa yang di bawah. Itu hal yang normal, kak. Jangan dibawa panik.

    Ada bagian yang terlewat stimulasinya? No problem.

    Proses stimulasi bisa ditambahkan.

    Kunci dari proses stimulasi anak usia dini (khususnya terkait motorik kasar) adalah kesediaan orangtua untuk aktif bergerak dan tidak mager. Proses stimulasi sangat bisa dilakukan dengan proses-proses sederhana yang diintegrasikan dalam kegiatan keseharian seperti jalan pagi ke taman/lapangan.

    Sambil jalan pagi, kena hangatnya matahari pagi, ngobrol2 dan cerita (stimulasi bahasa), sambil memperhatikan sekitar mengenali nama-nama benda (stimulasi keingintahuan), menghitung benda2 yang dilihat, sambil jalan, lari, lompat, injak batu, dll; di lapangan main bola, dst.

    Satu kegiatan, banyak stimulasi yang didapatkan anak.

    Demikian kak, semoga membantu. 🙏

    in reply to: Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional #5692
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @vera-marsella

    Tidak kak. Kakak tidak harus mendaftar ke Dinas Pendidikan dan tidak harus melaporkan kurikulum yang digunakan.

    Inilah kondisi peraturan hukum di Indonesia, hehehe…

    Peraturan dibuat indah di atas kertas tapi terkadang tidak sesuai dengan kondisi lapangan sehingga tidak berjalan.

    Peraturan tentang Sekolahrumah itu tak pernah dipraktekkan, kak.

    Dalam realitasnya, Dinas Pendidikan tidak berhubungan langsung dengan keluarga praktisi HS, tapi berhubungan dengan satuan pendidikan (sekolah & PKBM). Oleh karena itu, urusan legalitas HS dilakukan dengan cara mendaftarkan anak di PKBM, lalu PKBM yang melaporkannya ke Dinas Pendidikan.

    Saat ini sedang ada upaya untuk merevisi peraturan itu agar sesuai dengan kondisi lapangan praktik homeschooling. Kita masih menunggu perkembangannya hingga bisa ditandatangani oleh Mendikbudristek.

    Demikian, semoga menjawab pertanyaan kak Vera. 🙏

    in reply to: Checklist Parameter Perkembangan Anak Diknas #5694
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @indah-susanti-3380

    Sebenarnya tidak ada standar kapan waktu yang tepat untuk mengecek perkembangan anak.

    Tapi karena kita biasanya butuh pola untuk memudahkan kegiatan kita, prosesnya pengecekan bisa dilakukan sebulan sekali, di akhir bulan.

    Setiap akhir bulan, cek perkembangan anak sesuai checklist. Dengan mengecek perkembangan, kita jadi disegarkan kembali tentang aspek apa yang perlu kita stimulasi untuk bulan berikutnya.

    Jadi, fungsi checklist bukan hanya untuk membandingkan dengan kondisi anak (yang sudah terjadi), tapi bisa menjadi sumber inspirasi untuk stimulasi (rencana ke depan).

    Demikian kak, semoga membantu. 🙏

    in reply to: Konsep Dasar tentang Pembelajar Mandiri #5697
    Aar
    Keymaster

    Terima kasih pertanyaannya kak @nongki-sakinah,

    Sebuah kegiatan dirasakan biasa saja atau keren tergantung pada pemaknaan. Realitasnya sama, tapi dengan pemaknaan yang berbeda akan menghadirkan rasa dan emosi yang berbeda. Emosi yang berbeda akan memicu sikap dan aksi lanjutan yang berbeda pula.

    Kesadaran penting yang perlu kita miliki adalah: membangun makna yang memberdayakan.

    Kegiatan rutin yang berulang bisa dilihat dengan 2 makna:

    • kegiatan gitu2 aja yang bikin kita bosan dan tidak percaya diri
    • ini rutinitas penting sebagai latihan menguatkan otot belajarmu

    Dua makna tersebut menghasilkan rasa yang berbeda, kan?

    Misalnya lagi pergi ke pasar untuk berbelanjan. Kegiatan tersebut dapat dimaknai:

    • anak melakukan kegiatan sederhana dan dipekerjakan
    • anak sedang berlatih keterampilan komunikasi, matematika uang, dan menguatkan stamina bekerja

    Nah, tugas kita sebagai orangtua adalah:

    1 . Memaknai kegiatan yang positif dan memberdayakan

    2. Mengkomunikasikannya kepada anak sehingga mereka tahu bahwa kegiatannya itu keren

    Mengapa perlu mengkomunikasikan makna kegiatan?

    • supaya anak menikmati dan melakukan kegiatan dengan mindful
    • supaya anak (dan orangtua) bisa melihat bahwa belajar itu bisa dilakukan dengan banyak cara (bukan cuma mengerjakan worksheet)
    • supaya anak (dan orangtua) bisa memanfaatkan dunia yang luas untuk belajar

    Demikian kak, semoga menjawab 🙏

    in reply to: Podcast Legalitas Homeschooling #5703
    Aar
    Keymaster

    Kak @vera-marsella ,

    Dulu (sekitar 10 tahun lalu) tidak ada pengaturan tentang waktu ujian sehingga anak bisa akselerasi Paket, Paket, dan Paket C.

    Sejak beberapa tahun terakhir, proses ujian Paket diatur lebih ketat sehingga tidak memungkinkan untuk akselerasi.

    • Syarat ujian Paket A: usia 12 tahun atau punya rapor lengkap kelas 1-6
    • Syarat ujian Paket B: tahun ijazah Paket A + 3 tahun
    • Syarat ujian Paket C: tahun ijazah Paket B + 3 tahun

    Jadi, jalur akselerasi tidak memungkinkan dikejar melalui PKBM.

    Lalu, bagaimana praktisi HS menyikapi?

    Bagi praktisi HS, kondisi seperti ini dilihat sebagai kesempatan untuk pengembangan minat-bakat dan hal-hal non-akademis. Anak melakukan travelling, eksplorasi minat baru, magang, mengasah keterampilan hidup, mencoba bisnis, dan sebagainya.

    Dengan sudut pandang seperti itu, anak-anak HS bisa memiliki pengalaman hidup yang kaya dan beragam; bukan hanya fokus pada hal-hal yang sifatnya akademis dan kelulusan.

    Demikian kak, semoga menjawab.

     

    in reply to: Podcast Legalitas Homeschooling #5707
    Aar
    Keymaster

    Kak @zulhy-adham,

    Amin.. kami mengamini doa kakak dengan sepenuh hati. Terima kasih banyak, kak.

    Tentang kondisi kakak, ada tantangan praktis di lapangan terkait legalitas yang perlu segera dicari solusinya.

    1. Syarat Ujian Paket

    Syarat agar anak mengikuti ujian Paket adalah data anak ada di Dapodik dan memiliki data kelengkapan proses belajar sesuai jenjang. Dengan kata lain, dia memiliki rapor lengkap.

    Zaman dulu, proses pendaftaran Ujian Paket bisa dilakukan setahun menjelang ujian. Tapi beberapa tahun terakhir ini tidak bisa karena mensyaratkan rapor.

    2. Mendaftar di PKBM

    Saran saya kakak mencari PKBM di dekat lokasi kakak dan berkonsultasi agar bisa difasilitasi untuk proses Ujian Kesetaraan. Proses pendaftaran di Dapodik & pembuatan rapornya silakan mengikuti petunjuk dari PKBM.

    Karena data PKBM belum semuanya terintegrasi dengan sistem Dapodik, ada PKBM-PKBM kecil yang masih melakukan proses manual. Kemungkinan PKBM-PKBM tersebut masih bisa memfasilitasi. Pastikan PKBM-nya memiliki NPSN (Nomor Pokok Sekolah Nasional) dan terakreditasi. Jika dia tidak terakreditasi, pastikan menumpang ujian di PKBM yang terakreditasi.

    3. Pindah ke Sekolah

    Proses perpindahan dari HS ke sekolah paling mudah dilakukan saat anak selesai Ujian Paket A, Paket B, Paket C.

    Jika anak belum terdaftar di PKBM, kemungkinan akan sulit melakukan perpindahan ke sekolah karena tak ada rapor yang menjadi basis menentukan anak sekarang ada di kelas berapa.

    Apakah anak yang terdaftar di PKBM bisa pindah ke sekolah di tengah proses (misalnya kelas 5, kelas 7, kelas 8)?

    Secara aturan bisa. Syaratnya:

    • rapor lengkap PKBM
    • ada kursi kosong di sekolah yang dituju
    • sekolah bisa melakukan placement test untuk menguji kesesuaian jenjang anak

    Demikian kak, semoga membantu menjawab pertanyaan kakak 🙏

     

     

    in reply to: Podcast Panduan Sederhana HSUD #5710
    Aar
    Keymaster

    Terima kasih tambahan informasinya kak @semi-asih,

    Dari informasi tambahan yang kakak sampaikan, saya menduga ada isu non-teknis terkait kemandirian kakak.

    Isu non-teknis itu terkait hal-hal yang lebih basic yaitu aspek emosional. Tantangan emosional ini tidak terlihat langsung, tidak terucapkan, biasanya dikenali melalui tanda (symptoms) terkait masalah perilaku anak.

    Beberapa kondisi yang mungkin terjadi antara lain:

    • anak merasa kehilangan perhatian ibunya karena kelahiran adik baru dan kondisi Ibu yang mungkin lelah/kurang sehat
    • anak merasa insecure dengan dirinya. Ada perubahan-perubahan yang terjadi di keluarga yang tidak dapat dipahaminya dengan pikiran sederhana. Dia merasa takut dan khawatir sehingga mencari cara untuk mendapatkan rasa aman (dengan mendekat pada Ibunya)
    • anak mencari perhatian dan belum/tidak bisa mengungkapkan kebutuhannya sehingga responnya adalah minta tolong. Kadangkala wujud mencari perhatian ini adalah kenakalan. Dengan cara2 seperti ini, anak merasa mendapatkan kebutuhannya akan perhatian
    • karena ada adik baru, secara alamiah perhatian Ibu terpecah, ibu lebih banyak mengurus adik. Kondisi ini bisa diperburuk jika kesehatan ibu turun dan tidak ada anggota keluarga lain yang bisa membantu kakak melewati perubahan ini dengan lebih mulus

    Sebagai orangtua, kita berharap anak sudah mengerti akan kondisi ini. Yang sering terjadi di lapangan, kapasitas anak masih terbatas untuk mengerti sehingga aspek emosinya terusik dan mengganggu perkembangannya.

    Apa yang bisa dilakukan jika kondisinya seperti ini?

    Pertama, kondisi saat ini memang susah, tapi perlu diterima dengan lebih sadar. Memang sedang ada 2 manusia kecil yang membutuhkan perhatian. Kondisi ini memang tidak mudah. Semakin kita ingin mendorong kemandirian sang kakak, biasanya emosi kita menjadi mudah terpantik, resistensinya semakin tinggi. Kemungkinan akan terjadi banyak “drama emosi” dalam hubungan Ibu-anak.

    Kedua, cari cara agar kakak semakin meningkat kapasitas energinya sehingga cukup untuk menangani 2 anak yang sama-sama membutuhkan perhatian. Secara teknis saya tidak tahu apa yang bisa dilakukan; mungkin kakak butuh bantuan pasangan, ART, nenek/saudara. Minimal adalah upaya agar pasangan bisa membantu. Juga, cari cara agar bisa memperbaiki kualitas tidur. Ini hal yang kelihatannya tak berhubungan secara langsung, tapi berpengaruh besar.

    Ketiga, bantu anak secara teknis jika dia minta bantuan. Jangan dipermasalahkan dan dimarahi. Justru, berikan komentar untuk menunjukkan bahwa Anda mengetahui dan menerima masalah emosinya.

    “Kamu kangen dibantuin Bunda, yaa… OK nggak apa2 Bunda sekarang bantuin”

    Keempat, cari cara untuk memberikan perhatian spesial pada anak untuk memenuhi kebutuhan emosi rasa aman dan nyaman di hatinya. Ngobrol bareng, makan es krim sambil ngobrol, dan hal-hal asyik lain yang biasanya Anda lakukan bersamanya dan disukainya. Perbanyak komentar2 yang santai dan tertawa bersama anak.

    Saat emosinya sudah lebih tenang dan kebutuhannya terpenuhi, anak biasanya tidak rewel dan akan lebih rileks.

    Jika sudah rileks, stimulasi tumbuh kembang dan kemandiriannya biasanya akan berkembang normal kembali.

    Demikian kak, semoga membantu.

    🙏

    in reply to: Podcast Legalitas Homeschooling #5711
    Aar
    Keymaster

    Kak @vera-marsela,

    Terima kasih pertanyaannya.

    Betul kak, jika mau HS dan memperoleh ijazah, anak perlu didaftarkan di PKBM sejak kelas 1 agar datanya tercatat di PKBM.

    Akreditasi adalah penilaian dari pemerintah terkait kelengkapan sarana dan prasarana di PKBM. Secara sederhana, ini menunjukkan kualitas minimum PKBM, walaupun belum tentu menunjukkan kualitas proses di PKBM dan kesesuaian dengan kebutuhan keluarga HS. Jika akreditasi bagus, PKBM bisa menyelenggarakan Ujian Paket sendiri. Jika belum terakreditasi, PKBM perlu menumpang ujian di PKBM lain.

    Jadi, akreditasi termasuk salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam pemilihan PKBM.

    Dalam grup Coaching nanti kita akan membahas tentang legalitas ini.

    Jika kakak ingin langsung belajar, kakak bisa mengakses materi di kelas Memulai HS Usia Sekolah pada bagian Mindset & Legalitas:

    https://tumbuh.rumahinspirasi.com/courses/memulai-homeschooling-usia-sekolah/

    Semoga membantu

    🙏

    in reply to: Podcast Panduan Sederhana HSUD #5715
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @semi-asih,

    Terima kasih pertanyaannya.

    Pertanyaan yang disampaikan ini sangat luas sehingga saya agak kesulitan untuk memahami konteksnya.

    Mengapa perlu konteks?

    Sebuah masalah yang terjadi pada anak adalah sebuah simptoms (tanda) bahwa ada proses-proses yang kurang pas yang sedang terjadi. Kurang pas itu bisa terjadi karena ada gangguan pertumbuhan pada anak (misalnya, sakit), bisa pula terjadi karena ada lingkungan yang tidak nyaman, atau pola hubungan antara anak dan sekitar (orangtua dan/atau orang lain) yang tidak pas.

    Dalam konteks ini, mungkin bisa diinformasikan:

    1. Berapa usia anak saat ini?

    2. Apakah masalah terjadi baru-baru saja? Artinya, sebenarnya dia sudah pernah makan sendiri dan pipis sendiri, tapi beberapa waktu terakhir berubah. Jika masalah baru terjadi, apa peristiwa yang kira-kira memicu anak melakukan perubahan ini?

    3. Apakah masalah ini terjadi lama? Artinya, anak memang sudah dilatih pipis sendiri dan makan sendiri, seharusnya sudah bisa, tapi tetap tidak mau melakukannya sendiri.

    Dalam konteks kakak, yang terjadi adalah yang ke-2 atau ke-3?

    Jika ada cerita lebih lengkap tentang perkiraan kakak tentang kondisi yang menyebabkan masalah, itu akan sangat membantu saya memahami sehingga bisa memberikan masukan yang lebih sesuai.

    Terima kasih ya kak.. 🙏

    in reply to: Pengembangan Minat dan Bakat #5718
    Aar
    Keymaster

    Kak @sonia-fitria,

    Kunci penting dalam proses stimulasi terkait minat dan bakat adalah pengalaman yang dirasakan anak.

    Prosesnya bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang ingin dicoba dan dilakukan anak, yang difasilitasi sehingga menjadi pengalamaan riil yang dijalani. Bentuk-bentuknya tak harus dengan les/kursus.

    Tak ada standard/panduan terkait usia karena karakter setiap anak berbeda-beda dan respon mereka terhadap hal yang diminati juga berbeda. Kita tak pernah tahu hal apa yang akan memicu motivasi internal anak. Kita juga tak pernah tahu kapan motivasi internal itu terpicu.

    Jadi, tugas orangtua ada 2:

    • memfasilitasi pengalaman berkualitas
    • memberikan paparan pengalaman penambah referensi

    Yang penting fokus pada kualitas pengalaman, bukan pada jumlah kegiatan. Jangan buru2 menambah kegiatan hanya karena keinginan supaya anak punya banyak referensi pengalaman.

    Carilah keseimbangan antara mendalam (fokus) dan melebar (menambah pengalaman).

    Yang pasti, nikmati momennya setiap saat.

    Jika Anda merasa perlu menambahkan pengalaman kegiatan, tambahkan tapi longgarkan ekspektasi. Jika Anda merasa kegiatan anak sudah cukup memenuhi kebutuhannya, jangan ditambah lagi agar tidak terlalu membebani anak dan agar dia bisa belajar memfokuskan pada yang ada saat ini..

    Demikian kak, semoga membantu.

    🙏

    in reply to: Service Learning #5725
    Aar
    Keymaster

    Kak @elsa-murdiana,

    Ada beberapa strategi untuk mengajarkan anak terkait sikap/karakter seperti berlapang hati (ikhlas):

    1. Modelling

    Anak terbiasa melihat orangtuanya menghidupi sikap tersebut, bukan sebaliknya. Kemudian orangtua mendiskusikannya bersama anak:

    “Memasak itu capek banget lho, kak. Kamu tahu nggak Bundo itu sebenarnya sedang sakit tapi Bundo bela-belain bantuin/nganterin kakak. Saat melakukan itu, kakak lihat Bundo mengeluh, nggak?”

    Modelling juga bisa dilakukan dengan cara ‘meniru anak’ hal buruk yang dilakukannya dan kemudian mendiskusikannya.

    “Enak nggak kalau orang lain bersikap seperti itu ke kamu?”

    2. Membawa ke dalam kesadaran

    “Kak, menurutmu bersikap ikhlas itu perlu nggak? Melakukan sebuah hal dengan ikhlas itu gimana sih tandanya?”

    Dorong agar anak mengungkapkan persepsi dan pikirannya.

    3. Feedback

    Berikan feedback langsung saat nilai-nilai yang disepakati dan diketahui oleh anak, tapi dilanggarnya.

    “Kakak kok gitu sikapnya? Kenapa? Itu bagus, nggak? Kalau Bundo melakukan seperti itu boleh, nggak?”

    Demikian kak, semoga membantu.

    🙏

Viewing 15 posts - 241 through 255 (of 766 total)
Scroll to Top