Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Aar
KeymasterUntuk menjadi arsitek, banyak aspek yang perlu diasah pada anak, baik dari sisi logika matematika, kemampuan visual-spasial, termasuk hubungan manusia (karena dia akan perlu berinteraksi dengan klien).
Salah satu proses penting yang juga perlu diajarkan pada anak adalah mencari sumber belajarnya.
Untuk belajar matematika, banyak sekali sumber, tinggal diipilih yang cocok dengan anak, misalnya Khan Academy, IXL Math, dll.
Untuk informasi2 lain, ajari anak untuk melakukan Googling atau lakukan Googling bersama sehingga dia bisa memilih yang paling cocok dengan kebutuhannya, misalnya Googling dengan kata kunci: “channel Youtube Arsitektur”.
Jika mau hal yang teknis terkait belajar desain, biasanya anak-anak suka belajar alat terkait desain arsitektur seperti belajar: Blender atau Sketchup, Banyak tutorial di Youtube terkait Blender & Sketchup yang bisa diikuti anak.
Semoga membantu. π
Aar
KeymasterHalo kak @khalida-wahdatullaili
Terima kasih atas sharingnya yang panjang dan memberikan konteks tentang kondisi yang dialami Ananda.
Menyimak informasi dari kakak, anak kakak berarti memiliki IQ Jenius tetapi memiliki tantangan dalam pengelolaan emosi, ya?
Ada istilah khusus yang biasa digunakan untuk anak seperti inii yaitu: gifted asynchronous. Artinya, berbakat tetapi perkembangan emosinya lebih lambat dibandingkan perkembangan kecerdasannya.
Tentu saja istilah indikasi ini perlu dicek ke psikolog profesional, ya.. supaya lebih jelas treatment apa yang perlu dilakukan untuk anak.
Sebagai praktisi HS, saya hanya bisa memberikan masukan:
~ proses pendidikan anak bisa dilakukan melalui sekolah maupun HS. Tentu saja, perlu adaptasi2 pilihan sekolah agar bisa menerima kondisi kekhususan anak~ jika kakak tertarik menjalani HS, kuncinya ada di ketersediaan waktu dan leadership orangtua. Orangtua perlu apa yang ingin dikejar dan tahu mau ngapain dengan proses anak karena proses HS itu dipimpin oleh orangtua.
~ baik pilihan bersekolah maupun HS, biasanya orangtua mencari partner psikolog untuk menangani kekhususan anak terkait perkembangan emosinya. Sementara itu, peran orangtua adalah menjadi pembimbing anak dalam keseharian.
~ enaknya bersekolah, ada struktur dasar materi belajar yang disediakan oleh sekolah dan guru yang menjadi pengganti orangtua. Nggak enaknya anak belum tentu cocok. Enaknya HS proses belajar menjadi fleksibel. Nggak enaknya semua tanggung jawab dan teknis penyelengaraan belajar ada di tangan orangtua.
Sebelum kakak memutuskan HS, pastikan kakak siap dan memahami konsekuensinya.
Di Rumah Inspirasi ada kelas Menimbang Homeschooling yang mungkin bisa menjadi alat cek awal kesesuaian dengan HS: https://member.rumahinspirasi.com/courses/menimbang-homeschooling/
Semoga membantu π
Aar
KeymasterHalo kak @christine-natalia-0414
Terima kasih sharingnya.
Proses menyiapkan anak menjadi pembelajar mandiri adalah sebuah proses yang panjang dan membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Proses itu membutuhkan pendampingan terus-menerus, terkait stimulasi, feedback, dan pembimbingan dari orangtua pada anak.
Apa yang bisa dilakukan orangtua?
Memelihara Keingintahuan
Yang perlu dijaga adalah spirit keingintahuan (curiosity) anak. Caranya adalah dengan menjawab pertanyaan apapun yang diajukan anak dengan santai. Tidak ada yang salah dengan keingintahuan anak. Anak tidak punya pikiran buruk.
Jika kakak tetap bisa bersikap santai dan menjelaskan dengan tenang apapun pertanyaan anak, maka itu akan membantu anak terpelihara keingintahuannya.
Bahkan ketika yang dicari anak dianggap bertentangan dengan nilai-nilai yang dimiliki orangtua, penting bagi orangtua untuk tetap tenang dan menjelaskan dengan dingin sehingga anak tidak menutup diri dari orangtuanya.
Mengelola ekspektasi orangtua
Anak usia 6 tahun itu masih sangat kecil. Kemandirian belajar biasanya mulai terbangun (jika anak distimulasi dengan baik) pada jenjang usia SMP (sekitar 13 tahun). Jadi, pastikan kakak menurunkan ekspektasi pada anak.
Anak mencari dengan Googling, itu pertanda bagus bahwa anak terampil memakai teknologi dan bisa menulis kata kunci (keyword).Anak masih akan butuh banyak pendampingan dari kakak.
Tidak ada sebuah cara mengontrol hasil pencarian Google agar sesuai dengan usia tertentu.
Jika Anda concern dengan hasil Googling, pastikan setting pencarian Google adalah safe search,
Berikut ini salah satu tutorialnya: https://inwepo.co/setting-google-youtube-agar-aman-untuk-anak/
Tetap bertanya-jawab dan mengobrol
Pastikan Anda tetap mengobrol dan bertanya-jawab tentang aktivitas online anak. Ini adalah cara untuk membangun trust dan memahami cara berpikir anak. Yang kakak lakukan sudah bagus dan perlu diteruskan.
Pilihkan materi-materi yang sesuai Anda & anak
Lakukan kurasi dan seleksi website dan kanal Youtube yang menurut Anda sesuai dengan anak dan nilai-nilai keluarga Anda.
Lakukan kegiatan bersama
Lakukan kegiatan belajar bersama, misalnya: memasak atau membuat craft dengan panduan tutorial dari Youtube. Itu adalah proses membimbing anak untuk memanfaatkan Internet secara positif.
Sediakan sumber belajar
Sediakan buku2 dan ensiklopedia yang menarik buat anak, misalnya serial Why. Persering membacakan buku dan mendiskusikan isi buku bersama anak.
Demikian kak, semoga membantu.
Jika kakak ingin mendalami materi dengan tema ini, kakak bisa mengakses materi kelas Menyiapkan Anak menjadi Pembelajar Mandiri: https://member.rumahinspirasi.com/courses/menyiapkan-pembelajar-mandiri/
Aar
KeymasterHalo kak @desma-juwita
Terima kasih pertanyaannya.
PILIHAN PENDIDIKAN
Homeschooling dan sekolah itu sama-sama baiknya. Keduanya adalah opsi yang sah untuk anak-anak kita.
Kita bisa memilih HS atau sekolah sesuai kebutuhan dan kondisi kita. Tak ada yang lebih baik.
Walaupun anak-anak kami menjalani HS semua, bukan berarti kami merasa lebih baik dibandingkan keluarga yang anaknya bersekolah. Kami hanya merasa bahwa HS cocok dengan kebutuhan keluarga kami.
Jadi, jangan merasa bersalah dengan pilihan apapun yang diambil keluarga kakak. Yang penting kita menyadari pilihan itu dan selalu berusaha melakukan yang terbaik.
Dalam konteks anak bersekolah, yang bisa dilakukan oleh orangtua adalah melakukan pendampingan bersama anak.
MINAT-BAKAT ANAK
Minat adalah sebuah hal yang disukai anak. Minat ditandai dengan ENJOY, FREQUENT, INITIATIVE. Dengan bahasa sederhana, minat adalah hal-hal yang sering dilakukan anak tanpa disuruh, dinikmati, dan dia sering melakukannya.
Minat bersifat fluktuatif dan berubah-ubah. Memang begitu nature minat karena minat dipengaruhi oleh lingkungan.
Dalam tahap awal pengembangan minat-bakat, proses yang penting dilakukan orangtua adalah memaparkan anak dengan beragam pengalaman. Jadi, memang proses awalnya coba-coba.
Proses coba2 ini butuh sumberdaya dan energi besar orangtua untuk mendampingi proses anak. Walaupun minat anak berubah-ubah, orangtua tetap bisa mengajarkan anak-anak keterampilan mengambil keputusan, keterampilan berkomitmen, bertekun, dan tentu saja kemampuan teknis terkait bidang yang diminati anak.
Dengan semakin banyaknya pengalaman anak, semakin lama akan semakin terlihat hal-hal yang menjadi benang merah kesukaan anak. Inilah yang menjadi bibit untuk diasah lebih intens.
Karena setiap anak unik, proses memaparkan dan memberikan pengalaman ini bisa berbeda-beda setiap anak. Prosesnya bisa berlangsung sampai anak remaja.
Jadi, tetap sabar saat anak mencoba ya kak.. berikan keleluasaan anak memilih kegiatan ekskul di sekolah atau kegiatan lain di luar sekolah. Itu yang akan menjadi benih2 penting dalam pengembangan minat-bakat anak.
Pembahasan tentang minat-bakat ini merupakan salah satu strategi dalam Pengembangan Potensi Anak. Kelasnya ada di: https://member.rumahinspirasi.com/courses/pengembangan-potensi-anak/
Semangat, kak! π€©π₯
Aar
KeymasterHalo kak @husna-qonitah
Maksudnya homeschooling intensif itu bagaimana, kak?
Ketika orangtua menjalani homeschooling pasti prosesnya dengan kesungguhan hati.
Bentuk-bentuk kegiatan yang sederhana pun dilakukan sepenuh hati.
Untuk anak-anak usia dini, tujuan, prioritas dan bentuk kegiatannya berbeda dengan anak usia sekolah.
Jadi, mulai saja kapan pun mau mulai. Kalau kakak mau mulai, bisa dimulai dari sekarang.
Yang penting adalah keterlibatan aktif orangtua.
Untuk anak usia dini fokus utamanya adalah membangun: rasa aman & nyaman anak, membangun hubungan (bonding) yang kuat, dan stimulasi sesuai tumbuh kembang anak.
Tentang stimulasi sesuai tumbuh kembang anak, salah satu alat bantunya adalah Parameter/Checklist Perkembangan Anak sesuai usia.
Demikian kak, semoga menjawab. π
Aar
KeymasterHalo kak @mars-immanuel
Untuk anak balita, pastikan Anda mengunduh Parameter Perkembangan Anak di free member. Lalu lihat bagian yang sesuai usia anak.
Prinsip kegiatan anak balita adalah:
- bangun hubungan (koneksi) yang kuat antara orangtua bersama anak
- perbanyak kegiatan fisik bersama anak. Jalan pagi, main balok, main di taman, dll.
- perbanyak mengobrol bersama anak. Apa saja diobrolkan. Yang orangtua lihat, rasakan, pikirkan, semuanya diobrolkan kepada anak.
“Eh lihat ini makananmu. Ini wortel, ini nasi dan sayur.. sayurnya enak lho…”
“Tahu nggak yang itu namanya apa? Itu pintu, itu jendela. Eh, di jendela ada burung. Burungnya ada berapa.. yuk kita hitung bersama.. satu… dua…”
Dst
- jauhkan anak dari gawai. Gawai perlu sangat dibatasi untuk anak usia di bawah 5 tahun. Untuk anak usia di bawah 3 tahun sebaiknya tanpa gawai sama sekali. Gawai akan membuat anak malas bergerak, malas ngomong, pasif, dan akhirnya tidak mau berbicara.
Begitu prosesnya kak. Jadi, kurangi pemakaian gawai dan padukan dengan mengalokasikan waktu untuk berkegiatan bersama anak. Saat anak dicabut gawainya pasti akan rewel karena dia mungkin sudah merasa nyaman dan kecanduan. Tapi jika kakak tidak mencabut gawai dari anak, masalahnya nanti akan menjadi semakin parah.
Demikian kak, semoga membantu.
Aar
KeymasterHalo kak @zulvi.andriyani
Ada beberapa aspek terkait anak marah dan melempar barang/merusak sebagaimana yang Anda sampaikan.
- Memahami Emosi
- Mengelola Ekspresi Emosi
Memahami Emosi
Hal pertama yang perlu disadari adalah anak memiliki emosi dan itu adalah hal yang wajar dan baik. Emosi bersifat netral, bukan baik atau buruk. Baik atau buruknya emosi tergantung pada pengelolaan terhadap emosi itu.
Jadi, hal pertama yang perlu disadari orangtua adalah menerima emosi anak sebagai hal yang wajar dan mencoba memahami penyebabnya.
Teknik yang digunakan biasanya adalah validasi emosi:
- Menerima emosi (memeluk anak, memberikan comfort, atau membiarkan anak tenang)
- Mengalihkan anak ke tempat yang aman atau memastikan tak ada barang yang bisa dirusak di sekitarnya
- Bertanya kepada anak jika emosinya sudah mulai turun: “Kakak marah? Kakak sedih? Apa yang kakak rasakan?”
- Validasi/terimalah emosinya dan teguhkan dengan mengulang jenis emosi yang disebutkan anak. “Oh.. Mama mengerti kenapa kamu marah. Marah itu boleh, kok.” (Sesuaikan kata “marah” dengan yang disebut anak, misalnya: kesel, sedih, benci, dll).
- Biarkan anak tenang di tempat yang aman
Mengelola Ekspresi Emosi
Aspek kedua adalah memahami dan mengajarkan anak mengekspresikan emosi dengan sehat. Ada 2 metode umum yaitu modelling (keteladanan orang sekitar saat marah) dan pesan yang diteguhkan (nasihat).
- Pastikan nasihat diberikan pada saat emosi sudah mereda (karena jika diberikan saat anak masih emosi, tidak akan masuk).
- Pastikan anak berada dalam lingkungan yang aman (pindahkan anak ke kamar atau jauhkan benda2 dari anak)
- Setelah anak tenang, ajarkan cara mengelola emosi yang baik:
“Kakak boleh marah, tapi tidak melempar barang. Nanti kalau dilempar barangnya jadi rusak dan tidak bisa dipakai.”
“Kalau kakak marah, kakak boleh menangis dan berteriak.”
“Kalau kakak marah, kakak boleh mengadu ke Bunda dan cerita apa yang bikin marah.”
“Kalau kakak marah,, kakak perlu pergi menjauh dan cuci muka.”
“Kalau kakak mau marah, kakak tarik nafas panjang 3 kali.”
Itu contoh tips terkait mengekspresikan emosi yang bisa disampaikan pada anak dan dicontohkan oleh orangtua.
- Jelaskan dengan bahasa sederhana prosedur cara mengekspresikan kemarahan. Pastikan anak mengerti. Jika kondisi berulang, tanyakan pada anak apa yang perlu dilakukannya: “OK, kalau marah kakak seharusnya bagaimana?”
- Proses ini tidak instan, tapi dalam jangka panjang akan membantu anak semakin terampil mengelola emosinya.
- Jangan lupa, orangtua tidak terpancing untuk emosi dan marah-marah juga pada anak, hehehe
Demikian kak, semoga membantu.
Aar
KeymasterKak @sulifeka.umbara
Selalu ada kesempatan dan peluang tidak pernah tertutup selama kita hidup. Prosesnya mungkin tidak mudah dan tidak ideal.
Tapi kita selalu bisa melakukan sesuatu untuk membuat kondisi tidak memburuk, bahkan menjadi lebih baik.
Bagaimana caranya?
a. Fokus pada yang bisa dilakukan
Jangan berharap anak berubah. Lihatlah perubahan anak sebagai dampak dari hal-hal yang bisa kita lakukan. Yang bisa kita lakukan adalah semua hal terkait diri kita sendiri: sudut pandang kita, harapan kita, sikap kita, alokasi waktu kita, cara kita merespon, pertanyaan kita, pilihan kegiatan kita, komentar kita, dll.
b. Mulai dengan komunikasi baru
Jika Anda memang punya tekad bulat, Anda bisa memulai dengan minta maaf kepada anak atas kesalahan yang pernah dilakukan. Anda bisa menyampaikan komitmen dan rencana Anda untuk perubahan yang berbeda dibandingkan sebelumnya.
c. Mulai dengan mengurangi komentar/penilaian
Kurangi komentar buruk, emosi/kemarahan, dan penghakiman. Fokus dan cari cara untuk mengapresiasi. Ungkapkan secara lisan hal baik yang dilakukan setiap kali Anda menemukan hal baik yang dilakukan anak.
d. Bersikap lebih santai dan lebih banyak mendengarkan
Sebagai bukti perubahan, turunkan ekspektasi yang sering bikin Anda emosi. Bersikaplah lebih santai saat anak melakukan hal (yang menurut Anda bermasalah). Bertanyalah dan dengarkan anak dengan tulus. Jangan berkomentar. Fokus menjalin ulang hubungan dengan anak.
“Tadi ada apa?”
“Mengapa begitu?”
Jika anak menjawab, jangan mengomentari apapun. “O iya.. begitu yaa…”
Jika pola komunikasi semacam ini terus Anda lakukan, anak-anak semakin lama akan semakin lembut hatinya dan sedikit demi sedikit akan terbangun trust-nya kepada Anda.
“Bunda mau berubah. Bunda pengin kita bisa berkomunikasi yang enak tanpa marah-marah dan suara tinggi.”
e. Mengajukan pertanyaan reflektif
Jika Anda sangat berani, Anda bisa bertanya:
“Apa yang perlu Bunda perbaiki dari sikap Bunda sebelumnya supaya kita bisa lebih baik?”
Apapun yang dikatakan anak, dengarkan dan terima. Jangan dibantah dan dimentahkan,
Pertanyaan ini untuk menunjukkan itikad baik kita.
Dalam bentuk yang lebih netral, pertanyaan ini adalah:
“Apa yang bisa kita lakukan supaya kita bisa menjadi lebih baik? Apa yang perlu Bunda lakukan? Apa yang mau kamu lakukan?”
Demikian kak, Semua proses itu tidak instan. Butuh banyak aksi dan bukti untuk membangun jembatan agar jarak yang lebar semakin dekat. Semakin banyak aksi dan bukti, semakin terbangun trust dan hubungan.
Jangan lupa untuk memperbanyak canda dan mengobrol yang santai tentang apapun yang tidak berakhir dengan penilaian/penghakiman/nasihat.
Semoga membantuπ
Aar
KeymasterKak @zulvi.andriyani
Untuk membuatkan anak tangga proses pada anak, salah caranya adalah mengenali standar profesional di bidang yang ditekuni, kemudian membayangkan komponen-komponennya. Dalam implementasinya, prosesnya tergantung keunikan setiap anak.
Sebagai contoh dalam bidang memasak seperti yang kakak tanyakan.
Seorang profesional memasak memiliki kapasitas:
- sikap/mental bekerja
- keterampilan bekerja terkait proses
- kualitas karya terkait hasil
SIKAP/MENTAL
Dalam hal sikap kerja, aspek yang perlu diasah pada anak antara lain:
- Ketertarikan, anak dari tidak peduli menjadi peduli, dari tidak tertarik menjadi tertarik, dari tertarik sesekali menjadi suka
- Stamina bekerja (semakin lama semakin kuat bekerja)
- Peduli pada kualitas proses (pra kerja=persiapan bahan & alat kerja, saat bekerja, dan setelah bekerja = membereskan alat kerja)
KETERAMPILAN PROSES
- Keterampilan proses berarti keterampilan menggunakan alat-alat memasak, mulai manual hingga otomati.
- Keterampilan bekerja dengan aman, mulai tanpa pisau tanpa kompor, hingga memasak menggunakan pisau, kompor, dan proses berisiko (misalnya: menggoreng dengan minyak)
- Keterampilan aneka jenis proses memasak: merebus, membakar, menumis, menggoreng, memanggang, dll.
- Keterampilan bekerja dengan prosedur sederhana hingga kompleks.
KUALITAS HASIL
- Yang penting masak dan bisa dimakan
- Memasak dengan rasa enak dan konsisten.
- Memasak dengan penampilan yang baik (memperhatikan penyajian)
Kurang lebih semacam itu prosesnya, kak. Anak tangga itu juga dibuat sesuai kebutuhan, misalnya: yang penting bisa masak untuk bersenang-senang dan masak untuk sendiri. Anak tangga berikutnya memasak untuk keluarga. Anak tangga berikutnya lagi memasak untuk orang banyak/dijual.
Pembuatan anak tangga proses juga dipengaruhi oleh kapasitas orangtua dan ketersediaan alat kerja. Yang penting dilakukan adalah untuk kepentingan diri sendiri (survival) dan berkontribusi pada keluarga.
Jika hendak didorong ke level yang lebih serius (profesional), biasanya membutuhkan alat bantu keahlian dari luar, misalnya anak ikut kursus memasak.
Demikian kak, semoga membantu π
Aar
KeymasterHalo kak @fadilah
Apakah kakak sudah mendengarkan materi podcast atau menonton pembahasan tentang introvert vs. extrovert?
Ada orang/anak yang yang senang mengobrol dan menikmati proses mengobrol sebagai cara untuk memperkuat energinya.
Tapi ada juga orang dewasa dan anak yang menikmati untuk menjadi pengamat dan justru mendapatkan energi besar saat dalam kesendirian.
Keduanya normal dan tidak ada masalah, kak. Yang penting, jika dibutuhkan anak tetap bisa melakukan komunikasi dengan baik.
Saya termasuk orang introvert dan kehidupan sosial saya normal. Apakah di keluarga kakak (ayah/ibu) ada yang introvert?
Jika anak termasuk introvert, yang perlu diperhatikan adalah ekspektasi orangtua. Jangan mengharapkan anak introvert berperilaku seperti anak ekstrovert.
Silakan didengarkan podcast atau ditonton videonya dulu ya kak..
Jika setelah itu masih ada pertanyaan lanjutan, silakan disampaikan. π
Aar
KeymasterHalo kak @meri-azmi
Terima kasih pertanyaannya.
Konsistensi adalah masalah manusiawi yang dialami oleh semua orang, bukan hanya oleh anak-anak.
Banyak orang dewasa ingin olahraga, hanya bertahan 1 minggu saja. Banyak yang ingin diet mengatur pola makan, tapi yang berhasil tidak banyak. Banyak yang membuat resolusi awal tahun, biasanya hanya bertahan satu bulan pertama.
Coba kakak refleksikan juga, bagaimana pengalaman kakak mengasah konsistensi? Pada aspek apa kakak konsisten dan pada aspek apa kakak belum bisa konsisten?
Refleksi dari pengalaman diri itu bisa membantu kita untuk bisa lebih berempati terhadap proses-proses yang dijalani anak-anak.
Ini memang masalah kita semua.
Membangun Kebiasaan Baik
Lalu, bagaimana untuk meningkatkan peluang keberhasilan dan mengasah otot konsistensi?
1. Start small
Pastikan kegiatan yang dilakukan sederhana dan mudah dilakukan. Semakin mudah dilakukan, semakin besar peluang keberhasilannya. Ukuran sederhana dan mudah adalah anak, bukan anak lain, apalagi kita.
2. Anak merasakan manfaat personal
Kebiasaan dibangun bukan hanya karena itu alasan baik untuk dilakukan, tetapi karena memang dirasakan manfaatnya. Anak merasa mendapatkan keuntungan dengan melakukan kebiasaan itu.
3. Teladan dan bantuan
Apakah kegiatannya dilakukan oleh semua anggota keluarga tanpa kecuali? Apakah semuanya melakukan dengan sukacita? Apakah ada alat bantu untuk memudahkan dan mengingatkan?
4. Kesepakatan saja tidak cukup
Jadi, tidak cukup karena sudah disepakati lalu kita berharap anak akan konsisten. Karena anak-anak masih kecil, turunkan ekspektasi dan lihatlah semuanya sebagai proses berlatih. Jangan lupa, pastikan kegiatan dilakukan dengan sukacita.
Distraksi Tamu
Tentang distraksi tamu, memang begitu kondisinya kak. Ini bukan masalah anak-anak, tapi masalah ekspektasi kita terhadap mereka.
Jika kita menyadari bahwa distraksi tamu itu memang mengganggu pola rutinitas, maka setelah tamu pulang kita perlu membangun kebiasaan itu dari awal lagi. Kita segarkan komitmen anak-anak mengapa kebiasaan itu perlu dilakukan dan baik buat mereka, kemudian kita mulai lagi.
Jadi, dimulai ulang ya kak.. tetap semangat karena memang beginilah proses parenting dan membangun kebiasaan baik.
Jika kita tak mengomel-ngomel, malah bisa menertawakan kondisi, kemudian bersama anak-anak mencoba membangun pola baru lagi; peristiwa-peristiwa semacam ini akan menjadi alat bertumbuh bagi seluruh anggota keluarga, bukan hanya untuk anak-anak.
Ini memang bukan petunjuk teknis, tetapi tentang sudut pandang dan cara mengolah hati kita saat menemani proses anak-anak. Jika hati kita lebih lapang dan lentur, ekspektasi kita terjaga (tidak tinggi), biasanya kita jadi bisa lebih menikmati proses.
Saat kita dan anak2 menikmati proses (dan tak ingin segera melihat hasil), efektivitasnya biasanya akan semakin meningkat.
Demikian kak, semoga membantu. π
Aar
KeymasterSemangat belajar dan bertumbuh kak @dessy-liyanawati
π€©π
Aar
KeymasterHalo kak @dessy-liyanawati
Terima kasih sharingnya, kak. Semoga bukan merasa mendapat kekerasan domestik yaa.. hehehe
Jika kakak ingin mendapatkan pendalaman materi, nanti siang ada webinar tentang tema 10 Keterampilan Dasar ini. Saya akan menjelaskan secara lisan dan lengkap.
Kakak juga bisa bertanya dan akan saya jawab langsung secara lisan dalam sesi webinar nanti siang.
Sampai ketemu kak.. π
Aar
KeymasterSama-sama kak @nia-purnamasari
Semakin nyaman hubungan antara kak Nia & Hichan, prosesnya semoga semakin mulus.
Dengan kenyamanan dan trust, direction dan petunjuk teknis akan lebih mudah diberikan untuk membantu dia agar bisa terus bertumbuh.
Selamat menikmati prosesnya, kak!
Aar
KeymasterHalo kak @dina-mei-setyowati
Terima kasih pertanyaannya.
Sebelum menjawab detil pertanyaan kakak, boleh diinformasikan beberapa informasi tambahan berikut ini:
1. Usia anakBerapa usia anak saat ini?
2. Kegiatan terkait membaca
Apa kegiatan pra-membaca yang sudah dilakukan bersama anak?
Contoh kegiatan pra-membaca adalah mendongeng sebelum tidur dan membacakan buku cerita. Anak hanya mendengarkan ibunya membaca cerita dan melihat bahwa buku cerita itu terkait dengan hal yang asyik dan seru.
Jika sudah sering dilakukan, apa cerita dan buku cerita kesukaan anak?
3. Kegiatan lain
Apa kegiatan yang disukai anak?
Apakah anak menggunakan gawai (nonton Youtube, main game, dll) dalam kesehariannya? Jika iya, berapa lama dia biasanya memakai gawai dan apa kegiatannya di gawai?
Usia, kegiatan pra-membaca, dan pola keseharian anak sangat mempengaruhi proses belajar membaca.
Berdasarkan informasi tambahan dari kakak, nanti saya menjawab lebih detil.
π
-
AuthorPosts