Forum Replies Created

Viewing 15 posts - 316 through 330 (of 766 total)
  • Author
    Posts
  • in reply to: Interpretasi Nilai dan Total Nilai Kuesioner #5865
    Aar
    Keymaster

    Wa’alaikum salam wr wb,

    Terima kasih kak @yusuf-firdaus untuk informasi hasilnya.

    Kondisi kak Yusuf sudah bagus sekali. Berarti energi kakak sudah bagus, tinggal di maintain dan ditingkatkan kualitas. Semakin besar dan berkualitas energi kita, semakin besar pula kapasitas kita untuk melakukan aneka kegiatan.

    Nilai yang di bawah 40 berarti menjadi ruang untuk belajar dan peningkatan. Itu yang menjadi fokus untuk diasah dan diperbaiki.

    Nanti kami akan membuatkan podcast khusus tentang interpretasi terhadap kuesioner ini.

    Ditunggu ya kak..

    🙏🤩

    in reply to: kuesioner manajemen Energi #5866
    Aar
    Keymaster

    Kak @nadia-muhammad,

    Terima kasih pesannya.

    Saya membuat kuesioner ini bersifat umum untuk orangtua. Jika ada hal2 khusus yang membuat ada bagian yang tidak bisa diisi, tidak apa-apa.

    Secara substansi tidak mengurangi fungsi kuesioner ini untuk menjadi cermin merefleksikan kapasitas keterampilan diri orangtua.

    Selamat berproses ya kak..

    Kita akan terus berlatih selama 2 minggu ke depan. Kondisi kakak menjadi catatan saya untuk membuat pesan2 selanjutnya.

    🙏🤩

    in reply to: Webinar Dokumentasi dan Portofolio #5867
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @dame.siahaan

    Dari sisi ekspektasi pemerintah, poin besar yang saya tangkap adalah:

    kepentingan negara adalah anak-anak bisa teintegrasi dengan masyarakat dan memenuhi standar kualitas minimal. Detilnya sendiri belum ada. Jadi, kita bisa menafsirkannya secara bebas dengan spirit tersebut.

    Kakak bisa memilih 2-3 kegiatan yang sering dilakukan

    Atau kegiatan rutin + insidental

    Mestinya sih tidak perlu semua kegiatan karena yang terjadi dalam keseharian sebenarnya sangat banyak dan tidak mungkin kalau dicatat semua sebagai dokumentasi. Jadi, yang dilaporkan dalam dokumentasi adalah kegiatan-kegiatan yang dipandang substantif dan/atau milestone perkembangan anak.

    Demikian kak, semoga menjawab. 🙏

    in reply to: Podcast Sosialisasi Homeschooling Anak Usia Dini #5870
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @jessica-layantara,

    Terima kasih pertanyaannya. Dengan informasi yang diberikan, saya ingin memberikan beberapa catatan.

    1.

    Perlu dibedakan antara kecenderungan personal (introvert-extrovert) dengan keterampilan sosial (social skills).

    Introvert-extrovert adalah kencenderungan seseorang dalam pola interaksi orang lain. Introvert berarti orang lebih suka menjaga jarak dalam keramaian, merasa nyaman dalam kesendirian dan lingkaran kecil dibandingkan dalam keramaian. Orang introvert mendapatkan energi saat sendiri, sementara saat dalam keramaian dia justru merasa terkuras energinya.

    Nah, orang introvert maupun ekstrovert perlu memiliki keterampilan sosial, bisa berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain dengan baik. Dia bisa bertanya, menjawab, mengobrol, berdiskusi, dan keterampilan lain yang dibutuhkan untuk hidup.

    Bisa saja orangnya introvert (lebih suka sendiri dan dalam kelompok kecil), tapi dia tak masalah untuk berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain jika dibutuhkan.

    Nah, yang dibutuhkan oleh anak-anak (baik introvert maupun introvert) adalah mengasah keterampilan sosial.

    2.

    Pondasi untuk keterampilan sosial adalah rasa aman dan nyaman anak. Anak merasa aman dan nyaman dengan dirinya sendiri. Jika rasa aman dan nyaman anak besar, secara alamiah dia akan mulai bergerak ke luar.

    Nah, di sinilah titik kritisnya.

    Setiap anak punya daya tahan berbeda-beda saat berhubungan dengan orang dan lingkungan yang asing. Jika anak menangis dan ketakutan saat berinteraksi dengan orang baru, tandanya kapasitasnya memang masih terbatas. Dan it’s okay karena setiap anak unik.

    Penyebabnya bisa 2:

    ~ anak masih belum cukup besar rasa aman dan nyaman dengan dirinya sendiri. Kepercayaan dirinya masih terbatas.

    ~ anak belum terbiasa dengan lingkungan yang sama sekali baru

    3.

    Karena anak usianya belum 2 tahun, sebenarnya tidak perlu ada kekhawatiran yang berlebihan. Memaksa anak untuk berinteraksi dengan dunia yang asing pada saat anak belum siap justru bisa menimbulkan ketakutan berlebihan pada anak, membuat anak menarik diri, dan mengalami pengalaman buruk yang menjadi masalah dalam jangka panjang

    Yang dibutuhkan anak adalah:

    a. Pastikan hubungan anak dengan orangtua kuat. Anak tidak rewel, anak menjalani keseharian dengan ceria, anak bisa berbicara dengan baik, anak bisa mengungkapkan keinginannya dengan jelas, anak bisa mengelola emosinya. Ini yang menjadi fokus utama.

    b. Secara perlahan orangtua perlu memaparkan anak dengan lingkungan baru, misalnya main di taman, belanja ke supermarket, ketemu sepupu, dll. Pada saat memaparkan pada lingkungan baru,

    • pastikan orangtua ada bersama anak dan memberikan rasa aman dan nyaman pada (jangan dilepas sendiri)
    • lakukan proses yang sama berulang (main di taman, ketemu orang/lingkungan yang sama) sehingga anak lama2 semakin mengenal bahwa itu hal yang aman dan tidak apa2
    • jangan memaksa anak main dengan anak/orang lain jika anak belum siap. Berikan ruang dan waktu yang cukup buat anak menentukan sendiri kapan dia siap.
    • berikan komentar yang mendukung (kamu bisa, kalau nggak belum mau tak apa2), tidak melabeli negatif (cengeng, nggak mandiri, lemah, dll)
    • lindungi anak dari komentar orang dewasa yang menghakimi (Oo.. dia memang masih lebih senang main sama mama papanya, nanti kapan2 dicoba lagi yaa..)

    Demikian kak, semoga membantu. 🙏

    Aar
    Keymaster

    Halo kak @jessica-layantara,

    Dalam lebih dari 20 tahun proses kami menjalani homeschooling, memang banyak dinamika pengaturan terkait homeschooling. Tapi perubahan itu bersifat teknis, tidak bersifat fundamental.

    Perubahan fundamental itu misalnya: dari boleh menjadi dilarang. Itu sangat fundamental.

    Untuk hal ini, yang menjadi pegangan adalah peraturan di level UU (Undang-undang) yang merupakan aturan dibuat oleh pemerintah bersama DPR. Peraturan ini sangat sulit diubah. UU terakhir tentang pendidikan adalah no 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang usianya hampir 20 tahun lalu.

    Dalam undang2 Sisdiknas, ada 3 jalur yang diakui pemerintah yaitu:: formal, nonformal, dan informal. Homeschooling masuk dalam jalur pendidikan informal, diselenggarakan secara mandiri oleh masyarakat dan keluarga.

    Nah, yang berubah biasanya adalah hal2 yang sifatnya teknis, biasanya terkait administrasi dan proses Ujian Kesetaraan. Dulu bisa ikut ujian langsung daftar setahun sebelumnya, sekarang harus terdaftar di PKBM dan punya catatan belajar. Itu contohnya.

    Perubahan aturan memang faktor eksternal yang perlu dimasukkan sebagai bagian dari risiko yang perlu disadari (sebagaimana yang terjadi di bidang lain) karena tak seorang pun bisa memberikan jaminan yang terjadi di masa datang.

    Apakah HS bisa dilarang? Kemungkinannya kecil, hampir mustahil.

    Apakah aturan terkait operasional HS akan berubah? Kemungkinannya ada, tapi kita tidak bisa pastikan apa saja yang akan berubah selama 10 tahun ke depan.

    Demikian kak, semoga menjawab.

    in reply to: Daftar ke Pkbm dan usulan RUU Sidiknas terbaru #5911
    Aar
    Keymaster

    Kak @utami-fk,

    Terima kasih pertanyaannya.

    1. Pendaftaran PKBM

    Pendaftaran di PKBM biasanya lebih longgar secara aturan dibandingkan sekolah. Untuk anak yang menjelang usia 7 tahun mestinya sudah bisa didaftarkan di PKBM.

    Lebih pasti, silakan mulai survey PKBM yang dianggap fleksibel dan cocok, kemudian mengkonsultasikan perihal usia kepada pengelola PKBM.

    2. RUU Sisdiknas

    Pemerintah sudah mengajukan RUU Sisdiknas kepada DPR tetapi DPR menolak untuk memasukkannya ke dalam prioritas legislasi 2023. Jadi belum ada rencana pembahasan di DPR dalam waktu dekat. DPR meminta pemerintah untuk melakukan revisi dan konsultasi dengan para stakeholder pendidikan yang lain.

    https://www.cnnindonesia.com/nasional/20220921124023-32-850704/baleg-dpr-putuskan-ruu-sisdiknas-tak-masuk-prolegnas-prioritas-2023

    Demikian semoga menjawab. 🙏

    in reply to: Aturan diknas terbaru #5914
    Aar
    Keymaster

    Kak @jessie-wijaya

    Semestinya bisa, kak. Coba dikonsultasikan dulu dengan PKBM yang menjadi tempat kakak nanti terdaftar supaya proses peralihan legalitasnya bisa berlangsung lebih mulus.

    in reply to: Aturan diknas terbaru #5916
    Aar
    Keymaster

    Kak @jessie-wijaya

    Terima kasih pertanyaannya.

    Proses perpindahan dari sekolah ke homeschooling tetap bisa dilakukan karena itu dijamin oleh UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang menganut prinsip: multi-entry multi-exit. Jadi, perpindahan dari sekolah (formal) ke HS (informal) dan sebaliknya dijamin secara hukum.

    Berbeda dengan zaman dulu di mana anak2 yang mau ujian Paket bisa daftar di kelas terakhir (kelas 6), saat ini prosedur dan prosesnya sedang dirapikan. Anak perlu mendaftar dan terbukti menyelesaikan materi belajarnya.

    Untuk proses perpindahan, yang perlu dilakukan adalah mutasi dari sekolah ke PKBM karena anak HS perlu terdaftar di satuan pendidikan non-formal (PKBM) supaya bisa mengikuti Ujian Kesetaraan.

    Setelah proses mutasi dilakukan, pengelolaan NIM dan data pendidikan anak beralih dari sekolah ke PKBM.

    Anak tidak perlu mengulang proses belajar sebelumnya. Tidak ada turun kelas. Jika ada PKBM yang meminta anak turun kelas, maka Anda perlu mencari PKBM lain.

    Jadi, jika awal tahun ajaran baru 2023 nanti kakak mau mulai HS, maka yang perlu dilakukan adalah:
    1. Mencari PKBM yang fleksibel utk proses HS dan cocok dengan nilai2 keluarga. Pastikan PKBM sudah memiliki NPSN (Nomor Pokok Sekolah Nasional) dan terakreditasi. Jangan lupa melakukan survey ke PKBM dan mengajukan pertanyaan personal untuk memberikan keyakinan.

    2. Urus surat pindah dari sekolah (keluar dari sekolah) ke PKBM.

    3. Serahkan surat pinda ke PKBM.

    Demikian kak, semoga menjawab. 🙏

    in reply to: Podcast Keragaman Kurikulum Usia Dini #5929
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @arsita-putri,

    Mengapa kakak sangat ingin sekali anak suka mewarnai? Apa yang Anda harapkan?

    Ketika melakukan stimulasi pada anak usia dini, hal yang perlu kita perhatikan adalah:

    1. Berangkat dari minat yang ada

    Minat itu ketertarikan anak dan setiap anak unik, berbeda-beda. Ada anak yang tertarik boneka, masak-masak, mengobrol, kegiatan fisik, craft, menggambar, dan lain-lain.

    Semua minat itu bagus. Yang penting tidak main gawai (gadget) yang bikin anak menjadi tidak tertarik pada hal-hal yang lain selain gawainya.

    Jadi, berangkatlah dari yang ada, temani dan dampingi anak berkegiatan pada hal yang diminatinya.

    2. Orangtua memberikan lingkungan

    Jika ada hal-hal yang menurut orangtua penting buat anak, orangtua bisa memaparkan anak dengan pengalaman yang asyik dengan kegiatan tersebut.

    Bagaimana jika anak tidak tertarik? Ya tidak apa-apa.

    Ada anak yang tertarik ikan, ada yang tidak tertarik ikan. Ada yang tertarik masak-masak, ada yang tidak. Itu adalah hal yang biasa. Ada anak yang suka mewarnai, ada yang tidak.

    Itu hal yang biasa saja.

    3. Merefleksikan harapan

    Dari cerita kakak, kelihatannya yang ingin anak belajar mewarnai adalah orangtua, bukan anak.

    Pertanyaannya sebenarnya adalah:

    • mengapa kakak sangat ingin anak belajar mewarnai?
    • apa yang ingin kakak raih jika anak suka mewarnai?
    • apa risikonya jika anak tidak suka mewarnai?

    Saya ingin bercerita pengalaman kami dengan 3 anak terkait kegiatan mewarnai. Tak ada satupun diantara ketiga anak kami yang suka mewarnai dan kami memang tidak memaparkan secara khusus anak-anak kami dengan kegiatan mewarnai.

    Apakah itu membuat pertumbuhan mereka menjadi buruk?

    Anak kami pertama (21 tahun) walaupun tidak mewarnai saat kecil tapi senang desain dan terampil mendesain. Tapi dia lebih suka lagi hal-hal terkait wawasan dan pengetahuan (ilmuwan).

    Anak ketiga (14 tahun) tidak suka mewarnai dan memang tidak terlalu suka seni. Dia sekarang menjadi atlet catur dan tidak membutuhkan kemampuan mewarnai.

    Anak kedua (18 tahun) suka seni dan saat ini menjadi seniman grafis. Dia waktu kecil senang menggambar tapi tidak mewarnai. Walaupun tidak suka mewarnai, dai menyukai dunia seni, bahkan saat ini punya kelas online menggambar yang siswanya ribuan. Kalau kakak mau melihat, karyanya di sini: Kreasita.

    Begitu kak, semoga membantu 🙏

    in reply to: Podcast Memulai Homeschooling Usia Dini #5931
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @arsita-putri,

    Terima kasih sharingnya.

    1. Menguatkan kesehatan Ibu

    Walaupun anak bersama kita 24 jam, bukan berarti kita melakukan kegiatan 24 jam hanya mengurusi anak. Jika anak terus rewel dan minta perhatian tak ada habisnya, ada beberapa kemungkinan yang terjadi:

    a. Anak dalam kondisi tidak sehat secara fisik

    b. Anak merasa tidak nyaman dengan suasana di rumah

    c. Ibu dan/atau orang di sekitar anak sedang berada dalam kondisi tidak nyaman dengan dirinya sendiri yang mempengaruhi energi yang memancar ke sekitar (dan dirasakan anak)

    Kunci penting untuk proses menjalani HS, terutama HS usia dini, adalah kesehatan fisik & mental orangtua.

    Jika orangtua memiliki kendala dalam aspek fisik & mental, maka proses itu perlu diselesaikan dulu.

    Kakak sudah ada di track yang tepat untuk berkonsultasi dengan psikolog dalam penguatan kesehatan mental kakak. Proses ini perlu diteruskan hingga kakak merasa nyaman menjalani keseharian (untuk diri sendiri) maupun bersama anak.

    Kalau kakak merasa sehat dan nyaman dengan keseharian yang kakak jalani, respon kakak kepada anak dan sekitar akan menjadi lebih baik. Ini akan menciptakan spiral positif untuk kesehatan kakak dan anak.

    2. Kegiatan Harian

    Tentang membersamai anak-anak, yang dimaksud kegiatan 30 menit/hari itu adalah waktu khusus yang dialokasikan untuk menemani anak berkegiatan. Dalam waktu 30 menit tersebut, Anda hadir sepenuh hati, tanpa distraksi, dan melakukan kegiatan aktif bersama anak. Bentuknya bisa mengobrol, bercerita, membacakan buku, kegiatan bikin2, jalan2, masak2, dll.

    Di luar waktu itu, Anda dan anak2 melakukan kegiatan seperti biasa.

    Anda mungkin memasak, beres2 rumah, olahraga, berkebun, belajar terkait hobi, melakukan hobi, dll.

    Untuk anak2, sediakan alat2 berkegiatan yang sesuai dengan kesukaan mereka dan bisa Anda sediakan, misalnya: aneka jenis balok, kertas warna-warni, pensil warna, mainan, dll. Berikan anak keleluasaan melakukan kegiatan mereka secara mandiri.

    Sambil Anda melakukan kegiatan pribadi, sesekali Anda mengobrol bersama anak, menanggapi anak, dll (tapi tidak perlu dilakukan secara terus-menerus bersama anak). Intinya, kegiatan harian Anda tetap terlaksana dan anak belajar mengelola kegiatannya sendiri.

    Demikian kak, semoga membantu.

    Jika ada pertanyaan lanjutan, dipersilakan. 🙏

    in reply to: Podcast Infrastruktur HS Remaja #5932
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @umi-salihah

    Homeschooling adalah alat untuk meraih tujuan-tujuan pendidikan buat anak. Kualitasnya sangat tergantung keterampilan kita menggunakan alat tersebut. Homeschooling bukan tujuan, jadi keberhasilannya diukur dari: apakah tujuan pendidikan yang diharapkan tercapai?

    Apa yang bisa dilakukan setelah lebih dari 6 tahun menjalani HS?

    1. Refleksikan keberhasilan & kegagalan

    Refleksikan apa yang sudah berhasil dalam proses selama ini dan apa yang masih belum berhasil. Bandingkan dengan tujuan2 yang Anda tetapkan dalam proses HS saat memulainya dulu.

    Pertanyaan lanjutannya:

    ~ apakah tujuan yang ingin dicapai itu masih bisa dijalankan dengan HS?

    ~ atau perlu mengubah alat yang digunakan dengan beralih ke alat lain, misalnya: sekolah, sekolah alternatif, sekolah alam, pesantren, dll?

    Saat merefleksikan dan merencanakan langkah ke depan, libatkan anak yang besar dalam proses diskusi. Jangan merefleksikan sendiri.

    2. Perkuat komunikasi dan hubungan

    Jika tetap mau menjalankan HS, perkuat komunikasi dan hubungan bersama anak. Ini adalah pondasi homeschooling untuk anak usia berapapun.

    Semua tujuan yang ingin diraih maupun perbaikan masa lalu tidak akan bisa dilakukan jika komunikasi bersama anak tidak berjalan baik.

    3. Cari solusi bersama

    Diskusikan bersama anak pertama (yang remaja) tentang concern Anda. Cari titik temu antara harapan Anda dan keinginan anak. Sepakati kegiatan yang akan dilakukan selama 1 semester ke depan. Lakukan proses pendampingan untuk eksekusi kesepakatan tersebut.

    4. Pola kegiatan HS

    Pola kegiatan HS itu sangat kondisional. Sangat tergantung tujuan yang ingin diraih dalam HS, pola keluarga yang ada saat ini, dan sumber daya yang tersedia (di keluarga dan lingkungan).

    Tidak ada pola standar, kak. Mengapa? Karena HS itu berangkat dari tujuan keluarga, bukan dari standar yang ada di luar.

    Pertanyaan perlu kakak jawab:
    1. Apa tujuan yang ingin diraih 1 tahun ke depan untuk anak pertama, anak kedua, dan anak ketiga?

    2. Apa kegiatan sehari-hari anak pertama, anak kedua, dan anak ketiga saat ini?

    3. Apa yang dianggap berhasil dan nyaman dari pola kegiatan yang dijalani saat ini?

    4. Apa yang dianggap gagal dan perlu diperbaiki dari pola kegiatan saat ini?

    Dari jawaban atas pertanyaan ini mungkin saya bisa lebih terbayang kondisi di lapangan yang kakak alami dan memberikan masukan-masukan yang lebih teknis.

    Semangat, kak!

    Semoga membantu. 🙏☀

    in reply to: Podcast Mindset Homeschooling Usia Dini #5938
    Aar
    Keymaster

    Wa’alaikum salam wr wb

    Kak @nur-afifa-fajarina

    Perilaku anak sehari-hari adalah ekspresi dari kondisi emosi dan mentalnya. Karena dia belum terampil mengungkapkan diri tentang apa yang dirasakannya, maka ekspresinya terkadang hanya bisa disalurkannya melalui perilaku.

    Dari penjelasan kakak, yang saya tangkap anak mengalami problem emosi yang mungkin membuatnya merasa insecure atau merasa khawatir. Mungkin pemicunya kelahiran adik. Mungkin ada faktor2 lain yang memperburuk, misalnya dia dimarahi (yang kena ke hatinya) atau peristiwa2 lain.

    Masa2 seperti ini memang periode yang tidak mudah bagi semuanya, baik Ibu maupun anak. Ibu mungkin dalam kondisi yang secara fisik & emosional tidak stabil karena lelah (dan mungkin tekanan kondisi keseharian). Anak merasa kehilangan rasa aman dan nyaman yang biasanya dia peroleh.

    Secara umum, yang kakak lakukan sudah bagus; yaitu mengisi tanki cinta.

    Kondisi yang perlu digali lebih dalam adalah: apa yang membuat tanki itu tak kunjung penuh sehingga anak masih merengek dan belum selesai?

    Tanki penerima bocor

    ~ apakah ada kebocoran di tanki anak sehingga mudah habis dan terus kekurangan? Kebocoran pada anak terjadi karena anak belum menemukan kesehariannya yang mengasyikkan atau masih ada luka emosi yang belum sembuh & menguras isi tanki terus.

    Jika kondisi ini yang terjadi, berarti perlu mencarikan anak kegiatan yang asyik. Mungkin perlu bantuan pasangan/saudara/tetangga dalam konteks menemukan kegiatan yang asyik ini.

    Kualitas air yang disalurkan

    ~ apakah kualitas air yang disalurkan ke tanki jernih?

    Jika kualitas airnya kotor, kemungkinan efektivitasnya rendah walaupun tanki sudah diisi penuh. Kualitas air terkait dengan kualitas kesehatan emosi Ibu. Ini memang hal yang tak mudah karena Ibu mungkin merasa capek secara fisik & emosional saat menangani bayi & keseharian.

    Akan menjadi hal yang baik jika kondisi ini dikomunikasikan dengan pasangan dan keluarga. Mungkin Ibu perlu mendapatkan waktu istirahat yang cukup (sesekali) untuk menjaga kesehatan mental. Tidur yang kurang bisa jadi penyebab gangguan ini dan ini lumrah terjadi pada Ibu dengan bayi karena kacaunya pola tidur Ibu akibat bayi.

    Tapi jika disadari bahwa ini kemungkinan penyebabnya, solusi2nya bisa dipikirkan.

    Kualitas pipa penyalur

    ~ apakah suasana lingkungan keseharian di rumah kondusif?

    Saat berkegiatan, anak bukan hanya butuh ditemani secara fisik tapi energi kehadiran Ibu perlu dirasakan oleh anak. Ini tentu saja hal yang sangat berat untuk Ibu (karena kelelahan) dan susah dimengerti oleh anak sehingga anak selalu merasa kurang.

    Selain itu, lingkungan keseharian terkait juga suasana yang nyaman, tentang, terpola. Anak makan, mandi, dan berkegiatan secara teratur (tidak hanya disuruh melakukannya sendiri karena pondasi kemandiriannya masih sangat lemah). Jika dia belum bisa mandiri, sementara Ibu sedang keteteran dengan fisik, mental, dan adik; itu bisa memicu emosi Ibu yang akibatnya justru bisa menjadi spiral negatif bersama anak.

    Demikian kurang lebihnya, kak.

    Saran saya,

    • terimalah kondisi kakak sebagai kondisi temporer yang perlu dimaklumi. Jangan direspon dengan marah & kecewa. Turunkan ekspektasi pada kakak. Fokus dulu untuk survival dan menjalani keseharian dengan asyik (minim drama).
    • perkuat kesehatan fisik dan mental ibu. Ini akan menjadi kunci besar untuk daya tahan kakak mengelola dinamika keseharian.
    • jika memungkinkan, cari bantuan untuk meringankan beban Ibu sehingga Ibu bisa recover lebih cepat kesehatan fisik & mentalnya.
    • jika memungkinkan, carikan anak kegiatan yang disukainya bersama teman/tetangga (yang tidak tergantung pada Ibu)

    Semoga membantu 🙏

    in reply to: Pkbm sekolah murid merdeka #5946
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @fara-diba

    Saya mendengar tentang PKBM SMM.

    Ada praktisi HS yang bergabung di SMM utk pendukung proses HS-nya. Tapi saya tidak dalam posisi memberikan persetujuan atau tidak persetujuan pada PKBM tertentu.

    Biaya PKBM itu biasanya selaras dengan jenis layanan yang diberikan. Semakin banyak layanan yang diberikan dan diharapkan oleh keluarga, semakin mahal biayanya. Semakin sedikit layanan yang disediakan PKBM, biasanya harganya juga menjadi lebih murah.

    Mengapa? Karena layanan berkorelasi dengan penyediaan tenaga tutor/karyawan yang perlu digaji.

    Tentang rapor, aturannya memang sejak kelas 1 perlu terdaftar di PKBM dan punya rapor. Apakah jika tak punya rapor kelas 1-3 akan dapat masalah?

    Tergantung pada PKBM-nya karena praktek di lapangan berbeda-beda.

    Ada PKBM yang mensyaratkan tetap harus punya rapor dan harus ujian melalui mereka. Ada biaya utk ujian dan pembuatan rapor kelas 1-3. Ada yang rapornya dibantu oleh PKBM.

    Ada PKBM yang memproses pendaftaran langsung kelas 4 dan tidak mensyaratkan kelas 1-3.

    Jadi, ditanyakan langsung ke PKBM yang diinginkan kakak saja tentang kondisi yang kakak miliki saat ini (tidak punya rapor kelas 1-3).

    Demikian kak, semoga menjawab.

    in reply to: AKM #5948
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @taswirul-afiyatin

    Apakah kakak menjalani homeschooling atau anak-anak bersekolah?

    AKM diselenggarakan oleh pemerintah untuk anak sekolah dan PKBM saat anak kelas 5, 8, dan 10. AKM ini bersifat opsional karena merupakan survey kualitas belajar yang diselenggarakan oleh pemerintah. AKM tidak mempengaruhi nilai, rapor, dan kenaikan/kelulusan anak.

    Proses AKM juga tidak diikuti oleh seluruh anak, tapi dipilih oleh sekolah/PKBM sesuai petunjuk dari Dinas Pendidikan.

    Tahun ini AKM sudah diselenggarakan.

    Jika tahun anak ada di kelas 5, 8, 10; silakan berkomunikasi dengan PKBM/sekolah tentang keinginan untuk ikut serta dalam AKM.

    Demikian, semoga membantu.

    in reply to: Mengajarkan membaca pada anak usia dini #5950
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @dina-mei-setyowati

    Untuk anak usia dini kegiatan belajar membaca adalah: pra-membaca.

    Yang menjadi tujuan utama adalah anak mengenali bahwa buku dan kegiatan membaca adalah sumber kesenangan dan sukacita.

    Jadi tidak langsung mengenal alfabet atau kata.

    Yang perlu dilakukan adalah orangtua melakukan read aloud (membaca nyaring) buku cerita anak sambil memegang buku. Juga membahaskan gambar-gambar yang ada di buku, berkhayal, dst.

    Dari proses ini akan terbangun kecintaan pada buku, kegiatan membaca, dan anak mulai tertarik pada tulisan2 yang ada di buku.

    Itulah yang menjadi pintu untuk mengenalkan nama benda, huruf, warna pada anak-anak. Jika anak sudah mulai mengenal huruf, kegiatan yang dilakukan selanjutnya adalah main tebak-tebakan huruf saat sedang melakukan kegiatan membaca nyaring (read aloud).

    Ini adalah pondasi penting yang akan membangun kecintaan anak pada buku dan kegiatan membaca. Pondasi ini penting sekali untuk jangka panjang.

    Demikian prosesnya kak.

    Semoga membantu. 🙏

Viewing 15 posts - 316 through 330 (of 766 total)
Scroll to Top