Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Aar
KeymasterIya kak @nurul-hidayah-8617
Proses menjalani HS itu ibarat membangun rumah baru. Kita pindah dari rumah lama (sekolah) ke rumah baru (HS).
Tentu saja kita ingin cepat langsung menempati rumah baru. Kita ingin langsung mendekor interiornya. Sayangnya prosesnya tidak bisa secepat itu.
Jika memang mau berpindah ke rumah baru (HS), butuh membangun pondasinya dulu di tempat baru. Setelah itu membangun pilar2 di atasnya, baru tembok, lantai, atap, finishing, sebelum mulai masuk ke interior.
Dalam konteks memulai HS, memang butuh meluangkan waktu belajar setahap demi setahap.
Supaya ada waktu belajar, maka ekspektasi terhadap anak diturunkan dulu. Yang penting anak tidak main gawai dan menjalani keseharian dengan baik. Gunakan alat bantu seperti les/kursus dulu untuk menambah kegiatan anak. Dengan cara itu, orangtua jadi punya waktu untuk proses belajar.
Dari mana belajarnya?
Setiap orang punya kondisi berbeda sehingga perlu memilih sesuai kebutuhannya. Keberanian memilih itu juga adalah keterampilan penting orangtua HS. Tidak ada yang salah dari manapun memulai.
Kekhawatiran yang utama biasanya pada anak usia sekolah. Jadi, proses pertama adalah belajar tentang legalitas. Jika Anda sudah menyelesaikan urusan legalitas (HS Usia Sekolah), maka Anda bisa masuk ke langkah selanjutnya.
Mulai dari kelas HS Usia Sekolah.
Pilih salah satu alat yang paling sesuai dengan Anda. Anda bisa pilih ebook, video, podcast (salah satu saja). Kalau Anda suka teks, download dan baca semua ebooknya. Jika Anda waktunya tidak banyak, tonton videonya saja. Jika Anda belajar sedikit demi sedkit, pilih podcast.
Setelah itu, lanjutkan dengan HS Usia Dini (karena Anda masih punya anak usia dini).
Jika Anda butuh hal yang teknis, pelajari Manajemen Keseharian HS dan 10 Keterampilan Dasar Anak. Ikuti Webinar 10 Keterampilan Dasar anak hari Sabtu (13 Agustus, pk. 13.00 WIB) yang akan datang.
Demikian kak.
Supaya tidak panik, jangan terlalu mengkhawatirkan kondisi anak. Kepanikan akan membuat overthinking dan jalan di tempat berputar-putar. Anak-anak akan baik-baik saja selama menunggu waktu orangtua belajar. Jika Anda meluangkan cukup waktu, selama kurang lebih 1 bulan Anda akan mulai dapat mindsetnya.
Saya tidak memiliki jalan instan untuk belajar tentang HS, kak. Semua materi kelas sudah berusaha kami sederhanakan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan tentang HS yang kami miliki.
Jika memungkinkan, jangan lupa mencari teman sesama praktisi HS sehingga Anda bisa mengobrol dan mendapatkan perspektif lapangan tentang praktek HS di keluarga tersebut.
Aar
KeymasterHalo kak @fadilah
Pertanyaan paling dasar sebenarnya adalah pengamatan dari orangtua: apa yang menyebabkan anak merasa kurang percaya diri? Apa yang dianggap kekurangannya dibandingkan teman-temannya?
Kunci penting membangun kepercayaan diri ada beberapa:
1. Anak merasa diterima sepenuh hati
Anak merasa diterima dengan sepenuh cinta oleh orangtua, tidak dibanding-bandingkan, tidak terlalu banyak dikritik, lebih banyak diapresiasi. Anak yang merasa diterima oleh orangtuanya tidak terlalu membutuhkan validasi eksternal dari orang lain di luar keluarga.
Jadi, cek apakah anak merasa diterima sepenuh hati dengan semua keunikannya?
2. Anak merasa didukung
Anak bisa bertanya dan tidak diomeli; anak bisa berinisiatif dengan leluasa; anak tidak terlalu dimarahi saat melakukan kesalahan, anak dibimbing melakukan hal yang belum bisa atau saat melakukan kesalahan.
3. Anak memiliki kapasitas setara dengan teman2nya
Anak bisa berbicara lancar, jenis kegiatan yang dilakukan di rumah seperti anak-anak yang lain, anak memiliki kemampuan yang setara dengan teman2 mainnya. Jika ada kekurangan pada anak, proses penting yang perlu dilakukan orangtua adalah membimbing dan mengasah kemampuan anak agar bisa bertumbuh setara teman-temannya.
4. Anak merasa berharga
Anak memiliki pencapaian2 yang membuatnya bangga dan bahagia, walaupun mungkin berbeda dengan teman-temannya. Apalagi jika pencapaian2 itu terus dibicarakan dan diapresiasi oleh orangtuanya. Kenali kekuatan anak, asah dan apresiasi kekuatannya.
Pencapaian tak harus berupa menang lomba atau juara, tetapi kemampuan anak; misalnya: lancar bercerita, baik hati dan suka menolong, bisa bikin2 craft, bisa masak2, dll.
Demikian kak, semoga membantu. 🙏
August 9, 2022 at 11:31 am in reply to: apakah anak dengan sindrom autisme dapat mengikuti program hs usia sekolah? #6016Aar
KeymasterWa’alaikum salam wr wb
Halo kak @anggirani-qadarsih
Terima kasih sharingnya.
Tentang HS Anak Berkebutuhan Khusus, ada 2 isu yang perlu menjadi pertimbangan:
1. Ekspektasi orangtua terhadap anak
2. Penanganan kekhususan anak
1. Ekspektasi orangtua terhadap Anak
Berbeda dengan sekolah yang bersifat standar, HS adalah model pendidikan yang terkustomisasi. Artinya, orangtua bisa melakukan kustomisasi tentang tujuan pendidikan, proses belajar, dan materi belajar anak.
Dengan sudut pandang tersebut, anak kebutuhan khusus sangat bisa menjalani HS. Kuncinya adalah mengelola ekspektasi orangtua dan keterampilan orangtua memfasilitasi anak.
Dalam konteks ekspektasi, penting bagi orangtua tidak mengambil semua materi belajar seperti sekolah dan cara belajar seperti sekolah. Fokuslah pada kemampuan2 yang dianggap penting untuk hidup anak:
- literasi
- numerasi
- keterampilan hidup untuk menjalani keseharian
- keterampilan berkarya untuk hidup mandiri saat dewasa (berdasarkan kekuatan anak). Asah keahlian anak secara bertahap.
Pertanyaannya: apakah Anda bisa mengelola proses itu secara mandiri maupun dengan bantuan pihak luar (les, kursus, komunitas, dll)? Jika bisa, maka HS bisa dijalani.
Pilihlah PKBM yang cukup fleksibel dan menerima kondisi anak sehingga tidak menuntutkan standar yang ketat seperti anak sekolah. PKBM ini yang nanti akan mengeluarkan Ijazah Paket untuk anak.
2. Penanganan kekhususan anak
Hal yang membedakan dengan anak sekolah secara umum adalah penanganan kekhususan anak. Jika orangtua merasa bisa menangani kekhususan anak secara mandiri oleh keluarga, berarti HS bisa dijalankan.
Dalam praktek keseharian, orangtua tetap bisa menggunakan jasa ahli/terapis untuk menstimulasi kekhususan anak.
Demikian kak beberapa kunci penting jika ingin menjalani HS usia sekolah untuk anak dengan kondisi kebutuhan khusus.
Semoga membantu 🙏
Aar
KeymasterHalo kak @nia.purnama
Terima kasih untuk update perkembangan Hichan.
1. Tantangan personal
Tantangan personal terkait keunikan karakter biasanya memang kurang lebih serupa bentuknya sejak anak kecil hingga dewasa. Itu bagian dari kemanusiaan seseorang dan tidak apa-apa.
Ada 2 proses penting yang bisa dilakukan untuk mengelolanya:
1. Membawanya ke dalam kesadaran sehingga kita (dan anak) memahami pemicunya dan bisa mengelolanya saat muncul. Tujuannya adalah membuatnya menjadi semakin cair dan tidak mengganggu kefungsian.
2. Berlatih untuk memperbaiki kualitas personal secara teknis. Misalnya: berlatih mengambil keputusan, berlatih mengelola emosi dan respon.
Cara yang kak Nia lakukan itu sudah bagus. Kakak tidak melakukan represi terhadap emosi yang dialami anak, tetapi melakukan validasi. Sikap santai kakak juga sangat bagus dan penting untuk membuat emosi-emosi itu semakin terkelola.
Dengan pendekatan yang dilakukan saat ini, semoga Hichan semakin lama semakin terampil mengenali dan mengelola emosinya. Semoga penerimaan orangtua membuatnya menjad semakin santai dengan dirinya sendiri.
2. Budaya instan
Betul sekali pengamatan kak Nia. Kita semua tidak steril dari pengaruh lingkungan. Bahkan, kita memang dipengaruhi oleh lingkungan tempat kita hidup.
Karakter (hasil bentukan) adalah buah dari tindakan-tindakan berulang yang kita lakukan.
Nah, pola perilaku kita (dan anak) juga dipengaruhi oleh pola2 yang ada di zaman dan tempat kita tinggal.
Salah satu dampak dari perkembangan digital adalah cepatnya pola feedback (instant feedback) terhadap perilaku sosial di Internet. Game membuat anak2 terbiasa semua hal yang serba cepat dan jelas antara berhasil dan gagal. itu juga mempengaruhi anak2 menjadi sulit fokus, mudah berganti2, dan cenderung menjadi tidak sabaran untuk berproses.
Itulah sebabnya, diantara tantangan untuk anak2 zaman sekarang adalah fokus, sabar, deep work (melakukan pekerjaan bermakna dalam durasi panjang).
Demikian, semoga membantu 🙏
Aar
KeymasterTerima kasih sharingnya. Informasi dari Anda membuat saya lebih memahami konteks dan kondisi Anda yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan Anda.
Dalam masa transisi memulai HS, proses yang utama memang membutuhkan kesabaran dari orangtua untuk memandu proses agar berlangsung lebih mulus.
Tujuannya adalah mencari pola yang paling cocok dengan keluarga.
1. Mulai dari pola yang dikenal
Berdasarkan pilihan Anda sebelumnya mengirimkan anak bersekolah di Kuttab, porsi kegiatan keagamaan menjadi aspek penting yang menjadi panduan pendidikan di keluarga Anda.
Untuk itu, alokasikan waktu yang cukup untuk membangun pola kegiatan keagamaan sebagai pondasi keluarga Anda.
Bagaimana caranya:
a. Anda bisa membangun budaya terkait kegiatan keagamaan di keluarga. Anda bisa membangun budaya solat Subuh bersama. Setelah Subuh, lakukan 1 sesi kegiatan keagamaan (seperti mengaji) dipimpin oleh Ayah & Ibu.
Untuk anak2 yang masih kecil, fokuslah untuk membangun budaya sholat berjamaah dan melakukan kegiatan bersama. Pengetahuan dan hafalan diberikan menyusul secara bertahap.
Selain kegiatan Subuh, Anda bisa memanfaatkan kegiatan antara Maghrib-Isya. Lakukan sholat Maghrib berjamaah disusul kegiatan keagamaan lain dipimpin oleh Ayah & Ibu.
Mengapa Ayah & Ibu? Karena itulah yang menjadi substansi HS. Orangtua terlibat aktif dalam pendidikan anak (bukan hanya menitipkan anak pada orang/lembaga lain).
b. Jenis kegiatan Subuh & Maghrib sangat bisa disesuaikan dengan preferensi Ayah-Ibu, misalnya: mengaji, menghafal, belajar sirah, dll.
c. Bangunlah pola kegiatan itu sebagai prioritas utama. Ini PR yang membutuhkan waktu tidak sedikit, tapi merupakan pondasi dalam jangka panjang. Pastikan proses dan kegiatannya berlangsung membahagiakan dan anak menikmatinya. Selingi hal-hal serius dengan hal yang santai dan asyik sehingga membahagiakan semuanya.
d. Saat pagi hingga sore, Anda bisa memanfaatkan bantuan eksternal jika merasa ada materi lain yang perlu dikuasai anak dan tidak dikuasai orangtua. Anda bisa mengundang guru privat mengaji, anak ikut kursus bahasa Arab, belajar tafsir, dll (dengan guru yang bukan orangtua).
2. Membangun Kebiasaan Baik
Lakukan proses membangun kebiasaan baik. Anda sudah bagus memulainya dengan membangun 10 Keterampilan Dasar Anak.
Kebiasaan baik terkait aktivitas keseharian anak: tidur, mandi, makan, bermain, berkegiatan.
Perkuat itu dengan melibatkan anak mengurus keseharian rumah: ikut menyapu, mengepel, berbelanja, bersenang2 dengan proyek memasak bersama.
3. Materi Akademis
Untuk materi akademis, semuanya tergantung pada preferensi orangtua. Anak tak harus belajar semua pelajaran seperti anak sekolah. Kalau mau dapat semuanya: (agama + akademis lengkap + life skills + minat/bakat) pasti berat sekali.
Kakak perlu menyederhanakan apa yang penting dan bisa dilakukan. Jangan semuanya.
Apalagi di awal proses HS. Nanti jadi kusut semua, kak.
Nah, untuk bisa menyederhanakan, butuh kelapangan hati orangtua bahwa tidak belajar semua hal itu tak apa-apa.
Mulai dari yang bisa dilakukan. Misalnya: ikut tutorial PKBM, ikut bimbel, mengundang guru privat, memakai aplikasi, dll. Materi akademis bisa dipegang sendiri oleh orangtua, bisa juga menggunakan alat bantu eksternal.
Kalau dipegang sendiri orangtua, berarti orangtua perlu mencari cara belajar yang asyik.
Di keluarga kami. yang utama adalah Matematika dan Bahasa Inggris. Kami memakai aplikasi (IXL Math & Reading Eggs). Anak2 belajar dalam pendampingan kami, tanpa guru eksternal.
4. Pengembangan Minat Bakat
Tugas orangtua memperkenalkan kegiatan pada anak. Itu saja dulu fokusnya di awal. Jangan berharap prestasi dan fokus.
Tempat kegiatan sangat tergantung lokasi kakak. Mulai dulu dari yang ada. Tak harus yang fancy seperti robotika, dll. Mulai dari basic misalnya terkait kesehatan & olahraga, misalnya berenang. Yang lain2 sambil jalan aja nanti lihat kesempatan yang ada.
Demikian kak, yang penting dicoba kesehariannya dulu. Dalam 3 bulan pertama, jangan berpikir portofolio karya dulu. Yang penting keseharian terkelola dengan baik.
Itu dulu pondasinya.
Demikian, semoga membantu. 🙏
Aar
KeymasterHalo kak @indah-susanti-3380
Terima kasih pertanyaannya.
Secara umum, usia anak masih kecil dan tak perlu ada yang terlalu dikhawatirkan. Semua pemimpin pasti suka mengatur. Jika anak memiliki karakter alamiah senang mengatur, bisa jadi itu tanda bahwa dia memiliki bakat kepemimpinan yang baik. Itu sudut pandang positif yang juga perlu dilihat, bukan hanya aspek yang mengkhawatirkan saja.
Jika ada hal yang perlu diperbaiki, maka inilah kesempatan bagi Anda untuk membimbing dan mengajari anak cara berkomunikasi dan memimpin yang baik. Belajar berkomunikasi dengan jelas dan baik, bersikap adil, bergantian, kepentingan bersama, membela yang lemah, dll.
Jadi, jika ada merasa ada yang dikhawatirkan, lakukan aksi teknis agar tak hanya berhenti pada kekhawatiran di pikiran semata. Overthinking itu menguras energi dan melumpuhkan.
Dalam konteks memberikan stimulasi pada anak, diantara Anda, pasangan dan keluarga dekat, apakah ada yang memiliki karakter yang serupa atau cukup dekat dengan anak?
Jika ada, yang memiliki karakter cukup dekat, bagaimana kehidupannya? Bagaimana karakter itu berdampak pada kehidupannya? Apa dampak positif dan negatifnya?
Dari sana, Anda bisa menentukan aspek apa yang perlu diperkuat dan aspek apa yang perlu diantisipasi agar intensitas buruknya berkurang.
Demikian kak, semoga membantu. 🙏
Aar
KeymasterSama-sama kak @indah-susanti-3380
Semoga pengetahuan ini bisa memberikan arah yang lebih jelas dan membuat Anda merasa nyaman saat membersamai tumbuh kembang anak-anak. 🤩
Aar
KeymasterWa’alaikum salam kak @nurul-hidayah-8617
Terima kasih sharing dan pertanyaannya.
Proses transisi penting HS dari sekolah ada 2:
- transisi legal
- transisi operasional
Transisi legal dilakukan dengan mendaftarkan anak ke PKBM. Jika kakak sudah melakukannya, maka proses 1 sudah selesai. Tinggal menunggu arahan dan mengikuti alur kegiatan dari PKBM yang dipilih.
Transisi operasional ini yang lebih substansial. Prosesnya membutuhkan banyak kesabaran karena tidak bisa berlangsung cepat. Butuh waktu 6 bulan atau lebih agar keluarga bisa mendapatkan pola kegiatan yang sesuai dengan anak, sesuai harapan orangtua, dan kondisi keluarga. Keluarga perlu melakukan eksperimen/coba2 bikin pola kegiatan hingga ketemu yang cocok.
Untuk melengkapi pertanyaan kak Nurul, apakah boleh dijawab dulu pertanyaan berikut ini:
a. Apa alasan kakak memilih HS?
b. Apa tujuan yang ingin diraih dengan HS (yang berbeda dari sekolah)?
c. Apa pola kegiatan yang dijalani anak sehari-hari saat ini?
Jawaban kak Nurul akan membantu saya menjawab pertanyaan Anda sebelumnya dengan lebih tajam.
Semoga berkenan ya kak.. 🙏
Aar
KeymasterHalo kak @meri-azmi
Mengapa pencapaian harian anak perlu diberi reward?
Bukankah jika pencapaian itu tercapai, yang paling bertumbuh dan mendapatkan manfaat adalah anak?
Jika diberi hadiah, fokus anak nanti pada hadiahnya, bukan kebahagiaan karena dirinya bertumbuh (bisa bikin jadwal, tambah pengetahuan/wawasan, semakin terampil, semakin percaya diri, dll).
1.. Membangun motivasi intrinsik
Jika kakak ingin membangun motivasi intrinsik (dari dalam) pada anak, maka hadiah2 yang sifatnya eksternal perlu dikurangi. Yang dibangun adalah kebahagiaan anak karena dia berhasil mencapai sesuatu.
Peneguhan dari orangtua bisa dilakukan dengan apresiasi2 lisan atas pencapaiannya. Fokuskan apresiasi pada pencapaian dan pertumbuhannya. Misalnya:
- “Wah, kakak keren sekarang selalu jadwalnya selalu dikerjakan. Kalau kamu terampil bikin jadwal dan menepati jadwalnya sendiri, hidupmu nanti akan enak kalau sudah besar.”
- “Good job. Hari ini kakak cuma diingetin sekali. Berarti kesadaran kakak semakin baik.”
- “Selamat ya kak.. walaupun pagi sempat terlambat mulai, tapi kakak berhasil menyelesaikan semua jadwal.”
Sesekali kakak memberikan hadiah sebagai kejutan tidak apa2, tapi jangan rutin dan terpola.
2. Konsekuensi
Ketika berbicara kesepakatan dan konsekuensi, semua prosesnya ada di depan. Jadi, jika tidak terlaksana, anak sudah tahu apa risiko yang dialaminya.
Sebagaimana apresiasi dibuat ringan, demikian pun konsekuensi jangan dibuat terlalu keras tapi tetap terasa dan bisa menjadi pelajaran buat anak.
“Kalau xxx tidak dikerjakan, jam main dikurangi 5 menit. Kalau 2 hari berturut-turut, dikurangi 10 menit. Dst.”
3. Pengalaman keluarga
Keluarga kami tak menggunakan pendekatan reward & punishment. Kami berusaha membangun kesadaran anak bahwa semua proses belajar/kegiatan itu untuk kepentingannya.
“Bikin jadwal dan menepati jadwal itu ilmu penting untuk hidup. Kalau kamu jago, hidupmu akan mudah kamu kelola.”
“Tugas Bapak/Ibu membantumu agar semakin terampil mengelola diri dan belajarmu. Kalau kamu jadi jago, siapa yang mendapat manfaat? Kalau kamu jadi tambah terampil, siapa yang senang? Kalau kamu bisa bikin2 yang bagus, siapa yang beruntung?”
“Bapak dan Ibu akan membantumu jika kamu memiliki kesulitan. Tapi belajar itu milikmu. Lakukan proses belajarmu karena hasilnya akan jadi bekal baik untuk hidupmu.”
Sesekali kami memberikan “hadiah” misalnya menambah jam main jika anak berhasil membuat pencapaian besar, misalnya pulang turnamen, bikin karya yang bagus, dll.
Demikian kak, semoga membantu. 🙏
Aar
KeymasterTerima kasih banyak kak @azma-azzahra atas sharing pengalamannya di lapangan.
Sangat inspiratif dan membantu.
Selamat menikmati perjalanan pendidikan bersama anak-anak, ya kak… semoga dimudahkan dan dilapangkan jalan untuk memberikan yang terbaik buat anak2 & keluarga.
🙏🤩
Aar
KeymasterHalo kak @yulita-khosuma
Dalam proses HS tugas orangtua adalah menakar kapasitas anak dan merancang kegiatan yang sesuai dengan bebannya. Jika anak tidak sanggup dan kegiatan sebagian besar dilakukan oleh orangtua selama 3 hari, itu menunjukkan bahwa beban kegiatannya terlalu besar.
Jadi, ini bukan tentang suka dan tidak suka, tapi tentang beban yang berlebihan.
Tentang suka dan tidak suka, PR orangtua adalah memberikan prolog di depan sehingga anak tertarik.
Di materi premium printable Rumah Inspirasi juga tersedia aneka lapbook yang tinggal dipakai: https://member.rumahinspirasi.com/lapbook/
Tapi, penggunaannya tetap juga membutuhkan strategi lapangan.
Awalnya mungkin yang bikin orangtua, anak hanya membantu, Yang dibantu juga disesuaikan dengan kapasitas anak. Mungkin dia hanya tempel2, warna2, dll. Jika anak capek, berhenti. Orangtua yang melanjutkan bikin. Sambil bikin orangtua bercerita dan mengobrol isi lapbooknya. Anak jadi belajar membaca dan mendengarkan isinya.
Setelah lapbook selesai dibuat, diobrolkan dan dijadikan materi belajar bersama.
Intinya lapbook adalah alat. Jangan terlalu fokus pada penguasaan konten, tapi fokus untuk memberikan pengalaman yang asyik bagi anak sehingga mereka ingin mengulang lagi kegiatannya di waktu lain. Gunakan lapbook sesekali, jangan setiap saat.
Silakan lihat di halaman lapbook tentang contoh pengalaman2 keluarga lain memakai lapbook. Ini salah satu contohnya: https://member.rumahinspirasi.com/lapbook-k4-peta/
Demikian, kak. Semoga membantu.
Aar
KeymasterWa’alaikum salam wr wb,
Kak @diany-justiana
Proses HS berbeda dengan anak bersekolah karena peran orangtua sangat krusial. Anak tak bisa hanya dibuatkan jadwal seperti anak sekolah dan disuruh mengikuti jadwal, hanya mengundang tutor, atau ikut les.
1.
Peran orangtua sangat krusial untuk memimpin proses keseharian HS agar berlangsung lancar.
Oleh karena itu, prioritas pertama dalam keseharian HS bukan membuatkan jadwal untuk anak, tapi memastikan kesehatan orangtua, baik fisik maupun mental. Kesehatan fisik berarti orangtua sehat dan bisa menemani anak tanpa masalah. Kesehatan mental berarti orangtua tidak kusut, tidak stress, dan berbahagia saat berinteraksi/berkegiatan bersama anak.
Mengapa perlu koordinasi kegiatan anak dan orangtua?
Karena HS bukan berarti orangtua mengajari anak setiap saat. Ketika anak semakin besar, proses yang dilakukan pada anak adalah mengajari mereka agar bisa mandiri mengelola jadwal dan kegiatannya. Itulah sebabnya, anak perlu diajari membuat jadwal kegiatannya sendiri.
Koordinasi diperlukan karena orangtua juga punya kegiatan masing-masing. Jadi, saat pagi hari orangtua dan anak bisa saling bercerita tentang rencana kegiatannya:
Orangtua bercerita: “Hari ini Ibu ada kegiatan xxx, target yyy, nanti jam x ada urusan keluar untuk yyy… Apa jadwalmu hari ini? Apa yang kamu butuhkan dari Ibu hari ini?”
2.
Kesehatan mental orangtua bisa dilihat dari:
- orangtua tidak kusut menjalani keseharian
- orangtua bisa berkomunikasi bersama anak dengan santai (tidak ngegas terus)
- orangtua dan anak bisa berkomunikasi dua arah tanpa harus marah2
Kesehatan mental anak bisa dilihat dari:
- anak menjalani kesehariannya dengan semangat
- anak melakukan kegiatan yang produktif (tidak bingung dan tidak cuma main game saja)
Tema manajamen keseharian ini dibahas lebih mendalam di kelas “Manajemen Keseharian Homeschooling”.
Demikian kak, semoga membantu.
Aar
KeymasterSama-sama, kak @meri-azmi
Selamat berproses untuk mendapatkan model pendidikan yang terbaik untuk anak-anak ya kak..
Jika ada pertanyaan terkait homeschooling dan materi terkait, jangan segan untuk menyampaikannya.
Saya akan berusaha sebaik-baiknya menjawab pertanyaan Anda. 🙏
Aar
KeymasterHalo kak @meri-azmi
Ada 2 isu terkait proses HS yang dijalani oleh kakak.
1. Pendampingan orangtua
2. Metode HS yang dipilih
Pendampingan orangtua
Dalam pengetahuan dan pengalaman saya, prasyarat terpenting dalam proses HS adalah pendampingan orangtua.
Mengapa? Karena HS hanya salah satu alat. Selain HS ada sekolah yang juga bagus untuk meraih tujuan pendidikan. Buktinya, kita semua (saya dan Anda) adalah produk sekolah. Demikian pula sebagian besar profesional dan orang dewasa yang ada di sekitar kita.
Nah, jika anak bersekolah, kita berarti mendelegasikan proses pendidikan pada guru dan sistem sekolah. Kita menitipkan dan mempercayakan hal-hal yang pokok dalam pendidikan anak pada sistem sekolah. Sementara itu, kita menambahkan aspek pengasuhan dalam interaksi kita bersama anak-anak.
Sementara itu, saat HS berarti kita memilih bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anak-anak. Kita membuat rancangan sekaligus menjalankan pendidikan untuk anak-anak kita.
Jadi, kehadiran kita adalah kebutuhan yang pasti dalam proses HS. Apalagi untuk anak usia dini dan anak SD yang masih membutuhkan bimbingan secara langsung dalam bentuk pendampingan. Jika orangtua bekerja dan tidak setiap saat bersama anak, orangtua perlu betul2 menyiapkan sistem jika memang mau HS; terutama menentukan:
- siapa yang akan mendampingi anak saat belajar dan orangtua sedang bekerja?
- bagaimana mekanisme untuk membantu anak melakukan troubleshooting masalah terkait masalah belajar yang dialaminya?
- apa saja yang dilakukan orangtua saat bersama anak (pagi & malam) dalam konteks HS?
Jadi, 3 hal tersebut yang perlu kakak pikirkan sebagai pilar penting dalam pelaksanaan HS kakak.
Metode HS yang dipilih
Saat mengambil sebuah metode, perlu dipertimbangkan juga prasyarat apa yang dibutuhkan agar sebuah metode bisa dijalankan. Yang dipertimbangkan bukan hanya apakah sebuah metode bagus atau keren, tetapi apakah juga apakah kita bisa menjalankannya.
Mengapa? Karena sebuah metode juga terkait dengan kecocokan..
Contohnya begini.
Salah satu proses yang kami lakukan sebagai keluarga HS adalah belajar tentang model dan metode HS.
Keluarga kami dulu juga tertarik metode CM. Saya membaca buku “Cinta yang Berpikir” dan mempelajari aneka sumber lain.
Kami suka gagasan CM dan banyak terinspirasi dengan CM. Setelah mencoba, kami memutuskan tidak cocok dan merasa tidak sanggup menjalani HS menggunakan metode CM.
Mengapa?
- Secara budaya, keluarga kami termasuk tipe yang santai dan relatif tidak terstruktur. Kami mengalami kesulitan dan merasa lebih cocok dengan unschooling.
- Saya suka baca buku-buku serius, Lala belajar dengan mendengarkan podcast & video. Kami sama-sama penikmat buku jenis apapun, termasuk komik. Jadi, kami merasa tidak cocok dengan tradisi CM yang cukup rigid dalam pemilihan jenis buku. Buat kami, yang penting anak suka membaca. Lebih baik anak membaca komik dengan sukacita daripada dipaksa membaca living books dengan berlinang air mata. Ini sudut pandang keluarga kami.
- Anak-anak suka seni dan olahraga, serta tidak terlalu tertarik materi belajar akademis. Bahkan, anak ketiga kami sangat fokus pada catur dan tidak tertarik lainnya. Anak tidak tertarik melakukan narasi dan kami juga tidak memaksa mereka melakukan narasi.
Jadi, walaupun kami suka CM, kami memutuskan bahwa CM tidak cocok untuk keluarga kami.
Walaupun kami tidak cocok dan tidak bisa menjalani model CM, bukan berarti kami berhenti HS. Kami tetap HS dan menjalaninya dengan metode lain.
Nah, dalam konteks masalah yang kakak hadapi terkait aplikasi CM dalam keseharian HS Anda, ada 2 solusi yang mungkin bisa diambil:
1. Jika kakak merasa suka dengan CM dan merasa bahwa CM itu bisa dijalankan di keluarga kakak, kakak perlu berkonsultasi secara langsung dengan praktisi dan teman2 yang menguasai metode CM. Kami tidak menggunakan CM sehingga tidak bisa memberikan masukan teknis terkait implementasi CM.
2. Jika kakak membuka diri dengan metode lain selain CM, saran saya adalah fokus pada tujuan yang ingin Anda raih dengan HS dan menjadikan anak sebagai subjek pendidikan. Artinya, jika anak tidak cocok dengan sebuah metode tertentu, maka gantilah metodenya; bukan mengubah anak agar cocok dengan metode tertentu.
Sekali lagi, kenali tujuan belajar yang ingin Anda raih, kemudian cari alat yang sesuai untuk meraih tujuan. Untuk belajar akademis, Anda bisa menggunakan experience learning seperti belajar tematik atau project-based learning. Atau Anda menggunakan pendekatan yang praktis, mengundang tutor belajar.
Demikian masukan dari saya, kak. Semoga berkenan.
Aar
KeymasterHalo kak @semi-asih
Pondasi besar untuk membangun keterampilan sosial anak adalah kepercayaan diri dan keterampilan komunikasi
Kepercayaan diri sumbernya adalah rasa aman dan nyaman yang dirasakan oleh anak.
Ini hal-hal yang perlu disiapkan pada agar mereka semakin terampil berinteraksi dengan teman dan orang lain di luar keluarga. Jika rasa aman dan nyaman anak sudah dimiliki, mereka pasti akan berani dan mencoba ke luar dari zona nyamannya bersama orangtua.
Jadi, rasa aman dan nyaman itu yang perlu diperbaiki dulu, kak. Jangan terburu-buru anak didorong untuk main dengan temannya jika dia belum siap. Semakin didorong dan semakin tidak siap, dampaknya akan lebih buruk buat anak.
Perilaku anak menangis adalah simpton atau petunjuk suasana hati dan emosinya. Mungkin dia takut, khawatir, atau merasa belum nyaman bermain dengan teman2nya, apalagi yang usia lebih tua. Apalagi jika teman2nya lebih aktif dan lebih banyak berinisiatif/berbicara.
Jadi, yang perlu dilakukan adalah:
1. Terima kondisi anak
“OK, tak masalah jika kamu belum mau main bersama teman-temanmu. Kita main di rumah saja sama Bunda sampai kamu siap main dengan mereka. Kalau kamu pengin main, kamu bilang ya?”
2. Perbanyak main bersama anak
Perkuat rasa aman dan nyaman anak saat berinteraksi bersama Anda dan penghuni rumah lainnya. Dalam kondisi santai, tanyakan kepada anak perasaannya terkait main bersama temannya:
“Apa yang kamu rasakan saat main bersama xxx (nama teman2nya)?”“Apakah ada yang kamu takutkan?”
“Apa yang kamu harapkan dari Bunda? Apakah kamu mau ditemani? Atau kamu mau sendiri?”
3. Asah keterampilan berkomunikasi anak
Perbanyak mengobrol dan mendengarkan anak. Mengobrol berarti dua arah. Perbanyak kegiatan melakukan permainan yang mulai ada aturannya sehingga anak memahami aturan main (seperti yang biasa dilakukan teman2nya).
4. Lakukan proses main secara bertahap
Tahapan proses bisa bermacam2 tergantung kondisi. Bisa dimulai dari anak2 main di rumah Anda dan anak ikut. Bisa juga main bersama 1 & 2 anak yang baik dan kooperatif. Saat anak bermain, pastikan Anda ada di dekatnya untuk memperhatikan dinamikanya.
Lihat respon anak apakah dia sudah siap atau belum untuk maju ke kondisi lebih menantang.
5. Masih banyak ruang bertumbuh
Usia anak masih kecil, jangan terlalu khawatir. Ruang bertumbuhnya masih sangat besar. Jadi, perkuat modalnya dulu sebelum main ke luar.
Sekali lagi, perkuat kepercayaan diri anak dan keterampilan komunikasinya. Paparkan realitas sosial secara bertahap sesuai kapasitas anak.
Kepercayaan diri dan keterampilan komunikasi akan menjadi modal besar untuk membangun keterampilan sosial anak.
Demikian kak, semoga membantu. 🙏
-
AuthorPosts