Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Aar
KeymasterKak @puti.stephania
Tidak ada media yang ideal untuk membuat dokumentasi karena tergantung pada kebiasaan keluarga dan preferensi. Semua pasti ada positif dan negatifnya.
Oleh karena itu, menurut kami yang penting dipraktekkan (walaupun tidak ideal) dan berusaha terus ditingkatkan kualitasnya.
Di keluarga kami, Lala suka menjurnal sehingga dokumentasinya dibuat di jurnal yang dilakukannya sebagai bagian morning routine. Jurnal tentang anak tidak setiap hari. Sesuai dengan keadaan saja.
Saya suka menulis sehingga membuat dokumentasi di blog. Kami juga menggunakan medsos untuk menyimpan foto karena foto di medsos memaksa kita mengkurasi (memilih hanya beberapa foto yang utama).
Takut foto akan hilang karena perusahaan tutup? Risiko itu selalu ada. Tapi jika perusahaan ditutup, pasti akan ada pemberitahuan agar kita bisa mengambil foto dan data2 kita.
Kami juga ada dokumentasi di HP dan komputer yang tak semuanya dinaikkan ke medsos atau blog.
Dokumentasi terkadang memang random dan mungkin tidak rapi. Itu hal yang biasa bagi banyak orang, kak. Dan itu tak apa2.
Supaya tidak keterusan, strukturkan dengan membuat dokumentasi per semester atau di akhir tahun. Jika di PKBM ada permintaan membuat dokumentasi/portfolio, lakukan karena itu akan memaksa kita merapikan dokumentasi anak-anak kita.
Demikian kak, semoga membantu.
Aar
KeymasterKak @fadilah
Minat itu sebuah hal yang dipengaruhi oleh lingkungan eksternal, orangtua, keluarga, bacaan, tontonan, pertemanan, dll.
Jika kakak ingin menumbuhkan sebuah minat tertentu (misalnya memasak), pastikan bahwa lingkungan eksternal yang ada memberikan stimulasi dan pengalaman yang asyik tentang kegiatan memasak.
Misalnya:
- orangtua senang memasak dan menikmati kegiatan memasak
- anak mendapatkan pengalaman seru saat makan dan memasak
- anak dapat pengalaman asyik saat terlibat kegiatan memasak
- dapur dan suasana saat kegiatan memasak seru
- anak/keluarga suka menonton film/video tentang memasak
- anak membaca buku tentang petualangan memasak
Dst
Intinya, anak mendapatkan persepsi bahwa memasak itu asyik. Ketika dia mencoba, dia mendapatkan pengalaman bahwa memasak itu beneran seru dan membahagiakan sehingga ingin diulang.
Demikian kak, semoga membantu
Aar
KeymasterHalo kak @imma-kartika-dewi
PKBM itu seperti sekolah, tapi layanannya tidak standar. Ini fitur utama PKBM yang berbeda dari sekolah.
Jadi, ada yang mengharuskan hadir tutorial beberapa per minggu. Ada yang hanya wajib hadir saat ujian. Ada yang disuruh mengerjakan materi belajar online. Ada yang modelnya kelas Zoom. Ada yang keluarga boleh belajar mandiri.
Oleh karena itu, penting untuk melakukan survey ke PKBM dan bertanya tentang sistem yang dipakai di PKBM tersebut.
- Bagaimana sistem belajarnya?
- Bagaimana penilaian untuk rapornya?
- Apakah bisa melakukan belajar sendiri? Kalau boleh, laporan ke PKBMnya berbentuk apa?
Saat mencari PKBM, yang perlu dipastikan untuk keluarga HS adalah fleksibilitas (tidak harus hadir, bisa melakukan belajar mandiri, keluarga bisa laporan ke PKBM).
Di PKBM yang kami ikuti saat ini, proses belajar sepenuhnya ada di tangan keluarga. Setiap semester kami membuat dokumentasi/portofolio untuk melaporkan kegiatan anak selama 1 semester. Untuk peserta baru, ada kontrak belajar tentang hal2 yang akan dilakukan orangtua bersama anak,
Demikian kak, semoga memberikan bayangan.
Aar
KeymasterHalo kak @pinta-anandayu
Tidak semua PKBM meminta portofolio. Ada banyak PKBM yang masih menggunakan cara konvensional untuk membuat rapor yaitu dengan menggunakan tes/ujian akhir semester. Jadi, pastikan Anda bertanya pada PKBM yang Anda minati tentang cara PKBM membuat rapor anak karena setiap PKBM memiliki kebijakan yang berbeda-beda.
Dalam konteks HS, portofolio itu penting untuk menunjukkan kemampuan/skills anak. Dengan terbiasa memiliki portofolio, orang jadi lebih mudah memahami kemampuan anak dan anak bisa menggunakan portofolio sebagai alat komunikasi untuk mencari peluang berkolaborasi, magang, atau bekerja.
Demikian, semoga membantu..🙏
Aar
KeymasterHalo kak @rifqi-taufan
Praktek2 HS yang kami jalani memiliki kedekatan cukup banyak dengan CM, tapi akar yang kami gunakan adalah Unschooling. Tapi, karena faktor budaya peran kami sebagai orangtua masih cukup terasa untuk memberikan arahan pada anak sehingga kami juga merasa tidak menggunakan pendekatan Unschooling yang murni.
Dari buku “Cinta yang Berpikir” karya mbak Ellen Kristi, Anda bisa membaca perbedaan-perbedaan antara Unschooling dan CM.
Secara praktis, kami sangat mengandalkan “penciptaan lingkungan” sebagai sarana besar untuk stimulasi perkembangan anak. Kami berusaha menjaga intervensi kami secara minimum pada anak.Ada direction dan feedback yang diberikan orangtua, tapi kami berusaha menumbuhkan kesadaran internal anak-anak terkait pendidikannya sendiri.
Proses yang kami lakukan tidak terstruktur dibandingkan CM. Kami banyak menggunakan kegiatan spontan dan inisiatif anak sebagai pintu masuk untuk proses belajar.
Kami tidak mengatur materi belajar anak secara ketat. Kami tidak menentukan materi-materi apa saja yang harus dipelajari anak. Basic yang kami jaga dari sisi materi belajar adalah literasi/berbahasa dan numerasi/logika. Selebihnya, anak-anak banyak melakukan proses belajar berdasarkan ketertarikannya.
Pola kegiatan belajar anak relatif longgar. Kami terus mengasah anak-anak agar mereka terampil menentukan tujuan belajarnya dan mengelola proses belajarnya sendiri. Tujuan besarnya adalah pembelajar mandiri (self-regulated learner).
Kami tidak menggunakan living books sebagai alat belajar utama. Kami tidak menyeleksi buku yang dibaca secara ketat. Kami menggunakan materi apapun untuk belajar anak: komik, musik, film, game, dsb. Kami menggunakan keseharian dan dunia nyata sebagai materi belajar anak.
Itu diantaranya.
Sebagai praktisi yang menjalani prinsip “pendidikan adalah kehidupan“, kami biasanya tidak pernah mengotak-kotakkan dan membandingkan yang kami jalani dengan sebuah konsep/metode tertentu. Yang penting bagi kami adalah praktik yang cocok dan sesuai dengan anak dan konteks kehidupan kami, yang bisa membantu anak untuk terus bertumbuh optimal.
Membandingkan itu biarlah menjadi tugas dari pengamat dan peneliti, hehehe
Demikian kak, semoga membantu menjawab pertanyaan kakak yaa… 🙂
Aar
Keymaster- Terima kasih kak @ayu-puspita untuk sharing dan pertanyaannya.
Tentang DLM, no problem kak. Ada keluarga2 HS yang dipimpin oleh Ibu dengan kondisi suami yang beragam (kerja di lepas pantai, proyek di luar kota, tentara, dll).
Kunci keberhasilan dalam HS adalah Ibu.
Kak Ayu sudah punya modal yang bagus yaitu tekad yang kuat, ada persetujuan suami, dan anak juga mau belajar di rumah.
Proses selanjutnya yang dibutuhkan adalah membangun SISTEM PENDUKUNG.
Sistem Pendukung HS
Sistem pendukung HS dibuat untuk memudahkan proses agar lebih bisa dikelola.
Goalnya adalah:
- keseharian lancar dan terkelola
- anak bisa melakukan kegiatan belajarnya dengan terkelola
Di aspek pertama, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:
- Cari formula keluarga antara kegiatan rutin dan spontan. Perbanyak kegiatan terpola, baik dilakukan bersama Ibu, dilakukan mandiri oleh anak, atau menggunakan bantuan eksternal (kelas online, komunitas, kursus, klub, dll).
- Manfaatkan materi/proses belajar yang bisa dilakukan anak secara mandiri dengan sedikit pendampingan orangtua, misalnya: kelas online, aplikasi belajar, dll.
- Cari bantuan untuk memudahkan pola keseharian keluarga (bikin meal plan, menyederhanakan pola belajar/memasak/mencuci, menggunakan bantuan eksternal/ART, dll).
Demikian kak, semoga membantu.
Semangat!
🤩🔥
Aar
KeymasterHalo kak @irene-ommi
Terima kasih pertanyaannya.
Hal pertama yang perlu diketahui, HS itu bukan memindahkan sekolah ke rumah. Tidak ada materi panduan teknis yang siap pakai dan tinggal diikuti untuk menjalani HS.
HS juga bukan sekadar mendaftarkan anak ke PKBM karena PKBM itu fungsinya hanya alat bantu untuk mendapatkan ijazah. Tujuan dan arah belajar dalam HS ditetapkan sendiri oleh orangtua.
Mengapa?
Karena HS adalah customized education. Model yang dijalani HS sangat berbeda-beda di setiap keluarga. Ada keluarga yang menjalani HS mengadaptasi model sekolah, ada yang menggunakan pendekatan unschooling yang sama sekali tidak mirip sekolah, ada yang menggunakan model Charlotte Mason, dan lain-lain.
Oleh karena itu, orangtua yang mau HS harus mau belajar dulu sebelum memutuskan dan menjalani HS agar bisa mendapatkan mindset yang tepat untuk menjalani HS.
Jika tidak, orangtua nanti akan mengalami kesulitan menjalaninya.
Proses Belajar
Jadi, yang penting adalah orangtua perlu belajar dengan cara apapun. Baca artikel2 tentang HS di Internet, baca aneka buku tentang HS, ikut kelas HS, bertemu dengan praktisi HS, dan lain-lain.
Di Rumah Inspirasi ada kelas2 untuk belajar HS, salah satunya adalah: “Memulai HS Usia Sekolah“.
Kelas ini hanya salah satu cara belajar tentang HS yang perlu dilakukan orangtua. Silakan dipilih sesuai kebutuhan kakak.
Langkah Legal
Secara legalitas, anak perlu mendaftar di PKBM agar datanya tercatat sebagai siswa belajar dan punya NISN (Nomor Induk Siswa Nasional). Data ini dibutuhkan jika nanti anak bisa mengikuti Ujian Kesetaraan.
Proses pendaftaran di PKBM mulai dilakukan sejak anak usia 7 tahun.
Demikian kak, semoga membantu.
Aar
KeymasterTerima kasih kak @evi.wiliyanti untuk sharing ceritanya.
Bagus sekali.
Lapbook bisa menjadi proyek kegiatan bersama anak-anak yang berbeda usia. Semua anak mengerjakan satu proyek yang sama dengan peran-peran yang berbeda sesuai usia dan kemampuannya.
Proyek kemudian diperkaya dengan mengobrol dan diskusi sesuai konteks kehidupan anak. Proses semacam ini akan meningkatkan kualitas belajar dan kelekatan (stickyness) materi yang dipelajari anak karena secara emosional memiliki kedekatan dengan kehidupan anak.
Semangat Syafiqa & Syakila!
🤩
Aar
KeymasterIkut bahagia dengan proses yang dijalani Syahmi, kak @evi.wiliyanti
Secara umum, anak-anak itu senang dan membutuhkan hal yang menantang. Tantangan (dalam hal apapun) akan membuat mereka terus bertumbuh dan berkembang.
Tebak-tebakan dengan berbagai variasi dan bentuk adalah tantangan yang biasanya disukai anak-anak.
Kuncinya tantangan itu sedikit sulit, tapi tidak terlalu sulit bagi anak. Jika anak kesulitan, pada akhirnya dia tetap tahu jawabannya dan bisa memahami jawabannya.
Tantangan dan tebak2an juga menjadi stimulasi berpikir kritis dan kreativitas anak.
Semangat untuk Syahmi! 🤩
Aar
KeymasterBagus kak @indah-susanti-3380
Saya bahagia mendengar perkembangan ananda. Jika anak tidak sampai speech delay dan emosinya tidak terganggu, itu berarti kakak bisa mengelola proses penggunaan gawai.
Terus dijaga agar proses-prosesnya banyak kegiatan fisik ya kak..
Gawai dipakai secukupnya saja.
Semoga proses-proses yang kakak lakukan bisa memberikan pondasi yang kuat untuk bertumbuh dalam jangka panjang.
🤩
Aar
KeymasterHalo kak @indah-susanti-3380
Untuk anak usia di bawah 5 tahun sebenarnya idealnya anak menggunakan gawai sesedikit mungkin. Anak sebaiknya berkegiatan fisik dan menggunakan benda2 nyata, bukan menggunakan materi digital.
Mengapa?
Karena anak masih membutuhkan paparan dunia nyata dan ritme keseharian yang bersifat fisik. Paparan yang terlalu banyak pada gawai pada usia dini akan memberikan efek samping:
- Anak menjadi pasif, malas berbicara. Dampak yang sering muncul adalah speech delay dan keterbatasan kosakata
- Anak sangat menempel pada gawai dan tidak tertarik kegiatan fisik/dunia nyata. Anak mudah merasa lelah dan menjadi tidak sabaran.
- Anak mengalami gangguan emosi (menjadi lebih labil) dan mungkin mengalami gangguan tidur.
Yang menantang, gawai ini memang sering menjadi alat yang membuat anak tenang dan diam. Dan itu sering dianggap sebagai pertolongan pengganti kehadiran orangtua, terutama jika orangtua sibuk atau bekerja.
Prioritas Kegiatan
Untuk kesehatan jangka panjang, saya tetap menyarankan untuk diperbanyak kegiatan fisik anak.
Jika kakak bekerja, masukkan anak ke preschool atau TK sehingga bisa main kejar-kejaran bersama temannya dan banyak melakukan kegiatan fisik.
Jika ada orang dewasa yang menjadi pendamping anak di rumah, kakak bisa sediakan materi2 fisik sebagai alat kegiatan seperti: balok, pasir, aneka kertas warna, dll.
Penggunaan Gawai untuk Usia Dini
Untuk penggunaan gawai saran saya 30 menit per hari, maksimal 1 jam per hari. Isi dengan materi yang sudah dipilihkan, misalnya video2 Youtube dalam bahasa Inggris yang kakak anggap bagus. Anak menonton sekaligus belajar bahasa Inggris.
Atau pilihkan video2 DIY, misalnya video bikin origami, menggambar, dll. Aplikasi belajar seperti Reading Eggs biasanya juga tidak bisa dilakukan sendiri oleh anak, tetapi membutuhkan pendampingan.
Saya tidak menyarankan anak Googling sendirian tanpa pendampingan.
Penggunaan gawai boleh lebih longgar saat berkegiatan bersama orangtua di hari Sabtu dan Minggu.
Demikian masukan dari saya kak, semoga bisa diterima.
Aar
KeymasterBentuk dokumentasi bisa bermacam-macam, kak. Medianya disesuaikan dengan yang tersedia dan dikuasi orangtua.
Jika kak @yulita-khosuma merasa nyaman dengan Youtube Short, it’s okay.
Yang penting bikin dokumentasi dan terus menabung..
Yang buruk adalah jika ingin ini dan itu, terus menimbang dan tidak bikin-bikin, hehehe…
Semangat kak! 🤩
Aar
KeymasterHalo kak @antik.ernawati
Salah satu proses penting terkait mendorong anak untuk melakukan sesuatu adalah kepemimpinan orangtua (leadership).
Dalam leadership, ada tujuan yang hendak dicapai dan ada cara untuk mencapai tujuan.
Berkaitan dengan keinginan kakak agar anak membuat presentasi, pertanyaannya adalah:
- apakah membuat presentasi hanya harapan yang boleh dikerjakan dan boleh tidak dikerjakan?
- atau membuat presentasi adalah hal penting (menurut kakak) yang harus dikuasai anak?
Persuasi
Jika kakak merasa itu adalah hal yang bagus untuk dilakukan, tetapi juga tidak apa-apa jika tidak dilakukan, maka yang kakak lakukan adalah persuasi. Persuasi berarti meyakinkan anak bahwa itu adalah hal yang perlu dilakukannya, misalnya menjadikannya menjadi satu paket dengan kegiatan. Jika ini bukan keharusan, jangan kecewa jika anak tak mau melakukannya.
Perintah
Jika kakak merasa itu adalah hal yang penting dan anak harus melakukannya, maka berikan perintah.
“Menurut Ibu ini penting dan kamu perlu berlatih untuk membuat presentasi. Jadi, kegiatan ini perlu kamu bikin jadi presentasinya. Deadline-nya sampai hari xxx. Nanti setelah selesai kamu bercerita berdasarkan presentasi yang kamu buat.”
Perintah adalah sebuah hal yang wajar dalam proses homeschooling. Jangan merasa bersalah. Jangan hanya menggantungkan pada kesadaran dan kerelaan anak melakukannya.
Untuk hal yang menurut orangtua penting (untuk anak), gunakan otoritas Anda sebagai orangtua untuk memaksa anak melakukannya.
Yang penting jangan hanya memberikan perintah, tetapi berikan juga pendampingan.
Proses lanjutan yang perlu dilakukan dalam pendampingan untuk membuat presentasi adalah:
- Menawarkan bantuan: “Apakah kamu perlu bantuan Ibu? Jika kamu butuh bantuan, bilang saja kapan pun Ibu akan datang membantumu.”
- Mengecek perkembangan: “Sampai di mana presentasimu? Mengapa tidak dikerjakan? Yuk dikerjakan sekarang, Ibu temani.” ==> Pastikan Anda duduk dan menemani anak membuat presentasinya.
- Memberikan masukan tentang konten dan desain sesuai kondisi: “Menurut kamu urutan isinya bagaimana? Mengapa tidak begini urutannya? Apakah pilihan desain dan font-nya sudah bagus menurutmu? Mengapa tidak begitu?”
- Temani prosesnya sampai selesai. Jangan biarkan proses berhenti di tengah jalan. Ini untuk menunjukkan bahwa Anda memang menganggap proses membuat presentasi ini penting. Jadi, bola prosesnya ada di orangtua, bukan tergantung pada anak.
Demikian kak, semoga membantu kakak dalam proses mendampingi anak-anak.
Aar
KeymasterKak @yani-hastuti
Sebelum masuk ke urusan teknis jenis kegiatan, kakak sebaiknya mengenali tujuan-tujuan yang perlu diraih anak dalam rentang tumbuh kembang yang sesuai umur.
Untuk itu, kakak bisa unduh Checklist Perkembangan Anak (GRATIS).
Untuk proses belajar yang lebih lengkap, saran saya kakak memulai proses belajar dengan:
2. Membangun Keterampilan Dasar Anak
Tentu saja, kakak masih punya pilihan lain yaitu membeli kelas lengkap yang secara value to price jauh lebih ekonomis karena kakak mendapatkan semua kelas, printables, live webinar, webinar pengayaan, parents club, dan aneka kegiatan komunitas online Rumah Inspirasi.
Jika kakak ada pertanyaan tentang kelas, kakak bisa tanyakan melalui WA Rumah Inspirasi atau di sini.
Semoga membantu ya kak..
Aar
KeymasterHalo kak @Ami
Proses memulai HS dari sisi legalitas untuk anak sekolah mirip seperti mutasi/pindah sekolah.
1. Cari PKBM yang dituju
Pilih PKBM yang sesuai dengan pilihan Anda. Pilih yang memiliki nomor NPSN (Nomor Pokok Sekolah Nasional), terakreditasi, dan memiliki pola kegiatan yang fleksibel.
Kunjungi PKBM dan lakukan tanya-jawab. Sampaikan keinginan Anda untuk mendaftarkan anak HS di PKBM sebagai naungan legalitas. Tanyakan syarat dan proses pendaftarannya.
2. Surat Pindah
Setelah menentukan PKBM yang dituju, urus surat pindah dari sekolah lama dengan tujuan pindah ke PKBM. Selesaikan proses pengurusan kepindahan (biasanya sekolah bisa membantu mengurus surat ini).
3. Bawa surat mutasi ke PKBM
Setelah surat mutasi selesai, bawa ke PKBM untuk pendaftaran anak.
Demikian, semoga menjawab.
-
AuthorPosts