Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Aar
KeymasterSama-sama kak @tiurnida-pohan
Dalam proses ini ada variabel waktu yang perlu kita perhatikan karena proses yang terjadi membutuhkan waktu bertahun-tahun, selapis demi selapis.
Jadi, kita sendiri perlu lebih santai dan mengelola ekspektasi kita.
Selamat berproses ya kak!
Aar
Keymasterkak @meiliana.loeis
Iya kak, semuanya melalui proses. Banyak aspek yang perlu distimulasi dan diperhatikan. Semua aspek mungkin tidak tumbuh bersamaan.
Jadi, kita perlu mengenali masalahnya di bagian apa dan kemudian merancang stimulasi untuk memperbaiki di area tersebut.
Aar
KeymasterKak @meiliana.loeis
Perpindahan dari sekolah ke PKBM bisa dilakukan di semester 2, kak.
Untuk lebih pastinya bisa dikonsultasikan dengan PKBM yang akan dipilih.
Aar
KeymasterKak @meiliana.loeis
Mengapa harus mendaftar sekarang kak? Pendaftaran PKBM dilakukan setelah anak tidak bersekolah.Jika dia bersekolah sampai kelas 5, berarti nanti daftar di PKBM-nya saat kelas 5. Proses yang dilakukan dalam bentuk mutasi dari sekolah ke PKBM (pindah NISN dan data rapor dari sekolah ke PKBM).
Jika pindahnya semester 2, daftar PKBMnya nanti semester 2 saja.
Informasi detilnya silakan simak materinya yaa..
Aar
KeymasterHalo kak @fransiska-endah-yuniati
Pendaftaran di PKBM tidak bisa dilakukan menjelang Ujian Kesetaraan. Pendaftaran harus dilakukan mulai sekarang ya kak.. (saat anak usia 7 tahun)
Aar
KeymasterHalo kak @monica-meliana
Inisiatif pada anak itu dibangun, bukan muncul begitu saja.
Ada 2 syarat untuk tumbuhnya inisiatif:
1. Lingkungan yang kondusif2. Keterampilan berinisiatif
Lingkungan yang Kondusif
Lingkungan yang kondusif berarti kondisi di keluarga yang memungkinkan anak untuk berinisiatif. Anak tidak takut berinisiatif, toleransi yang besar saat anak melakukan kesalahan dalam inisiatifnya, apresiasi saat anak berinisiatif, dan dukungan pada, anak untuk mewujudkan inisiatinya. Dukungan ini penting karena ada kemungkinan anak baru sebatas ide, tetapi mereka belum terampil mewujudkan keinginannya.
Keterampilan Berinisiatif
Inisiatif diawali dengan kemampuan memutuskan dan memberikan ide. Yang kedua adalah keterampilan untuk mewujudkannya.
Keterampilan pertama yang perlu dimiliki anak adalah memutuskan atau memberikan ide. Keterampilan ini diasah dengan memberikan pilihan ganda, pertanyaan terbuka tentang kegiatan, dan juga menambah referensi/pengalaman tentang jenis2 kegiatan yang bisa dilakukan anak.
Dalam proses mengambil keputusan, penting bagi orangtua untuk menjadi teman diskusi dan pendamping untuk memastikan bahwa ide anak itu masuk akal dan bisa dieksekusi, bukan hanya sekadar ide saja.
Dalam proses melatih keterampilan eksekusi, penting bagi orangtua untuk tidak hanya menunggu anak. Orangtua perlu bertanya, memberi petunjuk, dan membimbing anak melakukan eksekusi (jika anak belum terampil). Seiring waktu, keterampilan mengeksekusi akan meningkat jika dia sudah semakin tahu cara mewujudkan inisiatifnya.
Mengapa anak tidak berinisiatif?
Dari informasi yang kakak berikan, perkiraan saya kondisi yang terjadi adalah: anak belum terampil mengeksekusi dan mewujudkan inisiatifnya.
Anak sudah tahu ingin apa, tapi belum memiliki bayangan cara mewujudkannya. Anak lebih suka main game karena itulah kegiatan yang dia tahu dan dikenalnya.
Apa yang bisa dilakukan?
Jadi, jangan menunggu anak mewujudkan idenya, kak. Tapi bantulah.
Lihatlah kemampuan berinisiatif itu seperti spektrum: sama sekali tidak berinisiatif hingga sangat terampil berinisiatif. Jadi, ada banyak anak tangga yang perlu diasah untuk membimbing anak agar terampil berinisiatif.
Jenjang2 yang mungkin ada:
1. Anak punya ide, idenya tidak jelas, belum punya banyak dan keterampilan langkah mewujudkan ide => bimbing anak mengambil keputusan. prosesnya didampingi dan dicontohkan orangtua
2. Anak punya ide dan mulai bisa mengeksekusi, tapi idenya terbatas. Berarti isunya adalah ide. Anak butuh banyak masukan dan pengalaman ide kegiatan lain dan keterampilan mengeksekusi ide kegiatan tersebut.
3. Anak punya ide, tapi kemampuan mengeksekusinya terbatas. Berarti anak perlu didampingi dan diasah secara bertahap kemampuan eksekusi inisiatifnya.
Dimulai dari diskusi:tentang proses: nanti prosesnya seperti apa? Kalau anak belum kebayang, kita yang menjelaskan prosesnya.
Jika anak lupa dan ada distraksi, kita ingatkan: kakak sudah melakukan xxx?
Sekali lagi, inisiatif ini adalah proses ya kak.. bukan bentuk jadi. Butuh kesabaran orangtua untuk membimbing anak agar punya ide dan sekaligus terampil mengeksekusi idenya. Dan itu butuh waktu bertahun-tahun.
Demikian kak, semoga membantu.
Aar
KeymasterHalo kak @tiurnida-pohan
Ada beberapa aspek yang perlu dikembangkan terkait proses mengasah kapasitas anak untuk terampil melakukan perjalanan mandiri.
1. Aspek mental
2 Aspek keterampilan
1. Aspek Mental
Aspek mental meliputi keberanian dan kepercayaan diri anak-anak untuk melakukan interaksi sosial, dan mengambil keputusan berada dalam situasi yang dikenal, situasi baru, dan ketidakpastian.
2. Aspek keterampilan
Aspek keterampilan melihat keterampilan dasar terkait komunikasi personal & sosial serta keterampilan-keterampilan praktis terkait perjalanan, misalnya: literasi (membaca teks, petunjuk, peta), keterampilan bertanya, keterampilan mengikuti petunjuk.
Tahapan yang bisa dibangun pada setiap anak berbeda-beda, tergantung konteks dan perkembangan kapasitas anak. Kurang lebih prosesnya sebagai berikut:
1. Perjalanan dalam lingkungan yang dikenal
- Anak belajar berbelanja ke warung dekat rumah. Anak belajar keberanian dan orientasi jalan sekitar rumah. Awalnya dilakukan bersama orangtua. Secara bertahap dilepas dengan pengawasan dari jauh hingga akhirnya dilepas mandiri. Jarak warung juga ditingkatkan secara bertahap sesuai kapasitas anak.
- Anak menginap di rumah teman/saudara tanpa orangtua. Anak belajar menguatkan mental dan keterampilan awal terkait perjalanan (persiapan barang, packing, membawa diri di tempat menginap).
- Membuat denah perjalanan dan mengenal nama-nama jalan di sekitar rumah.
2. Mengenal berbagai moda transportasi
- Anak mengalami perjalanan naik berbagai moda kendaraan umum bersama orangtua, mulai angkutan kota, bus, kereta api, kapal, pesawat; juga moda kendaraan umum point-to-point seperti Gojek & GoCar.
- Anak sering mendapatkan pengalaman tersebut sehingga semakin memahami cara melakukannya (jika diperlukan)
3. Bepergian rutin ke tempat yang sama
- Anak bepergian naik kendaraan umum ke tempat yang sama secara berulang bersama orangtua. Orangtua sering mendiskusikan penanda jalan dari rumah menuju tempat tujuan hingga anak memahami tujuan dan titik-titik kritis di perjalanan.
- Orangtua mengajarkan aspek keamanan terkait perjalanan dan kondisi di tempat umum. Anak belajar cara bertanya dan minta bantuan dalam kondisi darurat.
- Anak bepergian ke tempat tersebut bersama orang dewasa lain atau kakaknya (bukan orangtua).
Itu pondasinya, kak.
Selaras dengan pertambahan usia anak, kapasitas mental dan keterampilan anak semakin ditingkatkan.
Perjalanan semakin jauh, perjalanan ke luar kota, perjalanan bersama rombongan (tanpa orangtua), dll.
Anak belajar membuat checklist barang yang akan dibawa, belajar menyiapkan barang bawaannya sendiri.
Demikian kurang lebih prosesnya.
Pegangan orangtua setiap saat adalah: safety first, keamanan perlu menjadi prioritas tertinggi.
Jika nanti anak semakin besar dan sudah mulai melakukan perjalanan tanpa orangtua, salah satu alat untuk memantau anak adalah HP. Anak diajarkan untuk berbagi fitur “live loc” sehingga lokasinya bisa dipantau orangtua, anak melapor saat pergi dan sampai di lokasi, dst.
Semoga membantu. 🙏
Aar
KeymasterBagus kak @kartika.handriani
Semua hasil pengamatan Anda sudah tepat.
Dengan latihan mengamati tanpa menghakimi, Anda akan belajar dan mengasah untuk melihat kondisi anak tanpa melibatkan emosi.
Anda berhenti pada fakta.
Ini latihan yang perlu terus dilakukan.
Setelah kita berjarak dan tidak terlibat emosi, kita kemudian bisa merancang kegiatan follow up terkait stimulasi-stimulasi dan kegiatan pengembangan anak.
Demikian kak, semoga membantu.
Aar
KeymasterHalo kak @liza.darmawan
Tidak ada panduan yang khusus membahas tentang adaptabilitas. Secara umum, gagasan adaptabilitas mengacu pada kemampuan seseorang menyesuaikan diri dengan hal baru.
Menyesuaikan diri memiliki beberapa aspek:
- tidak resisten
- menerima
- terlibat secara aktif
Hal baru bisa memiliki wujud beragam:
- lingkungan fisik baru, misalnya pindah rumah atau tempat kegiatan baru
- lingkungan sosial baru (teman baru)
- gagasan/pengetahuan
- keterampilan baru
Keterampilan penting dalam proses menjadi adaptif adalah:
- keterampilan belajar (learn)
- keterampilan menerima perubahan (unlearn)
- keterampilan belajar ulang hal yang baru (relearn)
Demikian kak, semoga membantu
Aar
KeymasterHalo kak @pinta-anandayu
Kami tidak punya daftar referensi PKBM tertentu. Anak kami terdaftar di PKBM Piwulang Becik Salatiga: https://piwulangbecik.com/
Di PKBM ini kegiatan belajar anak dilakukan berdasarkan kesepakatan. Setiap semester orangtua membuat portofolio/dokumentasi kegiatan belajar anak.
Salah satu PR kalau mau homeschooling memang survey PKBM yang cocok, kak.
Prosesnya dimulai di sini: https://referensi.data.kemdikbud.go.id/index31.php
Apakah anak bisa ikut ujian Paket tahun depan?
Syaratnya adalah anak terdaftar di PKBM dan memiliki rapor yang masuk ke sistem Dapodik. Lebih pasti, silakan dikonsultasikan dengan PKBM yang dituju.
Aar
KeymasterKak @pinta-anandayu
Dibawa lebih rileks dulu kak, Setiap anak berbeda-beda timing dan prosesnya. Apalagi anaknya merasa tenang dan kondisinya baik-baik saja.
Tugas orangtua dalam masa “transisi” itu adalah menurunkan ekspektasi. Dorong anak untuk mulai mengambil inisiatif.
Tugas anak adalah menjalani keseharian dengan baik sampai menemukan hal yang mau ditekuni lagi dengan serius.
Jika mau ujian Kesetaraan, proses saat ini berbeda dengan zaman dulu. Zaman dulu bisa daftar di tahun terakhir (kelas 3 SMP). Proses sekarang tidak bisa lagi. Anak harus sudah daftar di PKBM dan data rapornya lengkap di Dapodik sebagai syarat mengikuti Ujian Kesetaraan.
Jika memang mau Ujian Kesetaraan, jangan lupa segera ke PKBM dan berkonsultasi. Jangan sampai anak ingin ujian Paket, tapi tidak bisa karena tidak memenuhi persyaratan.
Demikian kak, semoga membantu.
Aar
KeymasterIya kak @evita.nasdiyah .. membacakan buku dan berdiskusi/mengobrol tentang buku itu termasuk kegiatan tanpa gawai.
Tidak susah, kan? 🙂
Aar
KeymasterHalo kak @yulita-khosuma
Buku referensi utama unschooling biasanya merujuk pada tulisan-tulisan John Holt. Ada beberapa bukunya: “How Children Fail”, “How Children Learn”, “Teach Your Own”. Buku2 tersebut setahu saya sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
Selain itu, perbanyak blog walking praktisi2 unschooling. Dalam pengalaman saya dulu, proses blog walking itu lebih efektif untuk memberikan aspek praktis dari unschooling.
Salah satunya adalah: https://happinessishereblog.com/
Aar
KeymasterHalo kak @arienda-auliya-perdhana
Terima kasih sharingnya.
Dalam konteks mindful parenting, penting untuk terus meningkatkan kapasitas kakak agar tidak mudah terpicu emosi karena perilaku anak. Tingkatkan kebahagiaan, rasa nyaman, kecukupan tidur cukup untuk memperbesar kapasitas energi cinta kakak.
Dengan kapasitas energi yang semakin besar, kakak bisa lebih tenang menyikapi. Kakak juga bisa berbicara lebih jelas dan tegas, tanpa tercampur dengan amarah.
Mindfulness membuat Anda lebih dingin menganilisis masalah. Tapi masalah ini lebih karena aturan main yang tidak dijalankan dengan konsisten.
Jadi, kondisi ini perlu diselesaikan secara teknis dalam bentuk manajemen pemakaian gawai dan melatih anak bersikap dengan baik.
1. Buat aturan main gawai & tegakkan
Buatlah aturn durasi memakai gawai. Tegakkan dengan jelas. Jika kakak merasa kasihan, itu berarti kakak sendiri tidak yakin bahwa aturan itu baik untuk anak. Selama orangtua bisa ditekan dan diancam, anak akan terus menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan keinginannya.
2. Jika anak melanggar, tegakkan aturan main
Tidak usah marah-marah, tidak usah emosi. Tegakkan saja aturannya.
“Kakak, 5 menit lagi waktu memakai gawai habis yaa…”
Setelah 5 menit, ambil gawainya dan tidak ada diskusi.
3. Jika anak marah dan berkata kasar, respon dengan tepat
“Mengapa kakak berbicara kasar? Siapa yang mengajari? Bunda tahu kakak kecewa, tapi itu semua untuk kebaikan kakak. Kalau kakak kebanyakan main HP jadinya emosi kakak jadi tidak stabil dan mudah marah-marah.”
“Kakak boleh sedih dan nangis, tapi Bunda tetap tidak akan menambah jadwal main HP. Kakak bisa melakukan kegiatan lain terserah, misalnya A, B, C.”
“Jika kakak berbicara kasar kepada Bunda, itu berarti kakak melakukan kesalahan tambahan. Kakak tahu kalau itu jelek? Kalau kakak mengulang lagi, berarti besok main HP-nya dikurangi xxx menit. Kalau besok kakak bicara kasar lagi, maka jatah main HP hilang satu hari. Kalau diulangi lagi, jatah main HP hilang dua hari. Mengerti?”
Bicaralah dengan jelas dan tegas, tanpa marah. Lalu, tegakkan apa yang sudah Anda katakan.
Anak akan marah dan meronta. Tapi lama-lama anak akan mengikuti apapun kebijakan orangtua. Kuncinya adalah konsistensi orangtua terkait kebijakan yang dibuatnya.
Semoga membantu.
Aar
KeymasterHalo kak @prita-anandayu,
Terima kasih sharing dan pertanyaannya.
Tes Minat & Bakat
Yang ditanyakan mungkin bakat ya, bukan minat? Minat itu hal yang disukai, bersifat temporer, biasanya dipengaruhi oleh lingkungan (stimulasi, tempat, waktu). Sementara bakat adalah potensi internal yang menunjukkan kekuatan yang ditandai: kapasitas belajar yang besar, kemampuan/hasil karya excellent, pengakuan eksternal terhadap kualitas skills/karya.
Minat diamati dari kegiatan yang dinikmati. Tidak perlu dites. Secara alamiah memang berubah-ubah.
Minat biasanya menetap lama jika: ada dampak manfaat/keuntungan yang dirasakan, ada tantangan untuk terus bertumbuh, kepercayaan diri karena punya kapasitas melakukan dengan baik, umpan balik dari luar (pengakuan, uang, penghargaan, kemenangan, dll.
Ada tes2 psikologi terkait bakat (potensi). Tapi itupun tidak bersifat conclusive (kepastian). Dia membantu memberikan arah, tapi pengambilan keputusan tidak bisa hanya digantungkan pada hasil tes tersebut.
Keberhasilan
Mengapa bakat & minat tidak bisa dijadikan satu-satunya patokan untuk keberhasilan. Karena ada banyak faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan. Salah satu yang sangat penting menurut riset Angel Duckworth adalah grit (kegigihan, kerja keras tak mudah menyerah).
Minat + grit = prestasi
Bakat + grit = prestasi
Minat & bakat tanpa grit tak akan menjadi apa-apa.
Jadi, faktor besar yang penting untuk dikuasai anak adalah grit; kapasitas bekerja keras, ulet, pantang menyerah.
Bagaimana grit dibangun?
Dengan memiliki tujuan yang sifatnya internal (dorongan dari diri sendiri), tujuan2 lebih kecil yang bermakna dan bisa diraih, kepercayaan diri karena seringberhasil, juga konsistensi berlatih mengasah diri.Pandemi & kesehatan mental
Pandemi selama 2 tahun yang mengakibatkan halangan melakukan kegiatan di luar menimbulkan dampak yang sangat besar, termasuk pada para remaja. Mereka merasa tidak berdaya dan banyak yang sangat kecewa karena kehilangan masa-masa emas dan kesempatannya meraih berbagai hal.
Kondisi ini banyak menimbulkan isu kesehatan mental bagi remaja, dengan berbagai tingkat mulai yang ringan hingga berat (depresi).
Karena pandemi sudah turun dan kegiatan di luar mulai aktif dilakukan, hal yang bisa dilakukan orangtua adalah:
1. Menerima & menemani
Menemani anak menerima kondisi yang tidak ideal yang berada di luar kontrol. Dalam bagian dari penerimaan itu adalah memberikan ruang toleransi yang besar pada anak yang sedang mengalami kekecewaan besar. Perbanyak penerimaan, kurangi tuntutan pada anak.
2. Bersama-sama menata ulang prioritas dan jenis kegiatan.
Apakah kegiatan lama masih akan dikejar? Jika iya, berarti mulai lagi secara bertahap.
Apakah momentum sudah hilang dan perlu mencari pintu yang baru? Jika iya, berarti perlu berproses bersama mulai dari nol. Karena mulai dari awal lagi, butuh kesabaran untuk bersama-sama menemukan pola baru yang paling sesuai.
3. Melihat saat ini dan ke depan
Kita tak bisa melakukan apapun untuk waktu yang hilang selama pandemi. Yang bisa kita lakukan adalah merencanakan dan melakukan aksi saat ini sambil melangkah ke depan.
Percayalah, waktu yang tersedia masih banyak. Tak ada istilah terlambat.
Dunia menyediakan banyak kesempatan yang bisa dan perlu dijajagi.
Demikian jawaban dan catatan saya, semoga membantu.🙏
-
AuthorPosts