Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Aar
KeymasterKak @sumayyah
Makan sambil nonton HP adalah benih2 tidak mindful. Itu adalah bagian dari distraksi yang sebaiknya tidak diperturutkan.
Jika anak usia 4 tahun hanya mau makan tanpa HP, kemungkinan kebiasaan memakai HP saat makan itu sudah terjadi lama. Kebiasaan makan sambil main HP biasanya paduannya adalah anak makan dengan disuapi. Anak hanya buka mulut dan makanan masuk tanpa dinikmati dan dirasakan.
Ini bukan proses yang mudah.
Kalau menurut kami, prosesnya yang dibutuhkan adalah mencabut HP dari anak.
Konsekuensinya biasanya anak akan meronta dan mengancam tidak mau makan.
Di sinilah ujian untuk kekuatan hati orangtua untuk berproses.
Apakah orangtua mau menemani anak mengobrol saat makan?
Jika anak tak mau makan, apakah orangtua bisa bersikap tegas?
Jika kak Dinah ingin melakukan dengan lebih mulus, prosesnya perlu dilakukan bertahap yang intinya mengurangi ketergantungan anak pada HP saat makan.
Prosesnya dimulai dengan negosiasi dan penjelasan baru, misalnya:
- Prosesnya dibalik. HP boleh dipakai setelah makan. Jadi, harus makan sampai habis dulu, baru boleh pakai HP 30 menit.
- Ada waktu2 tertentu yang makan tanpa HP. “Ini makan spesial kesukaan kakak. Kakak boleh makan, tapi tidak pakai HP.”
- Sekarang kita kurangi HP yaa.. hanya boleh saat makan siang/pagi/malam. Di waktu lain tidak boleh. Saat tidak boleh, jelaskan mengapa tidak boleh makan sambil main HP. Contoh penjelasannya: “Makanan itu perlu dinikmati dengan rasa syukur karena Allah sudah kasih kita makanan. Jadi, adik perlu belajar manikmati makanan, mengunyah dengan benar, sambil kita mengobrol.”
Demikian kak, semoga membantu.
Aar
KeymasterTerima kasih kak @Cika atas testimoninya.
Nafas sadar ini kelihatannya sederhana, tapi memang betul-betul powerful.
Dengan melakukan Nafas Sadar secara konsisten, kita bukan hanya akan meningkatkan level kestabilan emosi kita. Kita juga akan banyak mendapatkan perbaikan kualitas stamina dan energi kita.
Selamat berlatih kak! 🤩
Aar
KeymasterKak @sumayyah
Teorinya begini kak.
Berbeda dengan pandangan umum bahwa kita butuh oksigen sebanyak-banyaknya saat bernafas, tubuh kita juga membutuhkan CO2 untuk membantu agar pelepasan O2 dari haemoglobin ke jaringan tubuh kita.
Memperpanjang proses exhale adalah sebuah cara untuk meningkatkan CO2 di darah dan membantu agar O2 terurai lebih baik ke dalam tubuh kita.
Tentang teknik bernafas yang baik, ada 1 referensi yang mudah-mudahan bermanfaat:
Aar
KeymasterHehehe.. no problem kak @annisya.handayani
Take it easy, kak.
Yang penting ketika melakukan hal yang dirasa kurang tepat atau bersalah adalah menyadarinya. Setelah menyadarinya, jangan kelamaan melekat atau diingat-ingat. Segera bergeser fokus ke aksi yang bisa dilakukan.
Jadi…. maju terus ya kak. 🔥☀
Aar
KeymasterKak @nailah.annavia
Mental block atau freeze terjadi ketika cara berpikir rasional kita yang menggunakan mode rasional (bagian prefrontal cortex) dibajak dan diarahkan ke berpikir survival menggunakan otak limbik.
Kondisi ini biasanya terjadi karena ada “pengalaman buruk” di masa lalu yang membuat kita sensitif dan membuat kita masuk mode survival. Mungkin kita pernah melihat ada orang yang dipersalahkan karena urusan pengasuhan, ada pengalaman traumatik terkait anak atau pribadi, ada kekhawatiran/ketakutan salah bersikap, dll.
Dalam mode survival, otak merespon dengan fight (marah/melawan), flight (kabur/menghindar), atau freeze (beku).
Jika mengalami kondisi seperti ini, salah satu cara mengatasinya adalah melakukan nafas sadar.
Tarik nafas halus melalui hidung, tarik dan keluarkan dengan perlahan. Ulangi beberapa kali.
Semoga proses semacam ini bisa membantu kakak lebih santai dan bisa mencairkan mental block yang terjadi.
Aar
KeymasterKak @dinah-sumayyah
Nanti saya buatkan podcast tentang cara membaca hasilnya yaa..
Aar
KeymasterHalo kak @Desy
Kunci utamanya adalah anak mengalami kegiatan asyik bersama orangtua. Ini sebenarnya yang paling menantang. Sebab, jika anak merasa asyik berkegiatan bersama orangtua, penjelasan orangtua biasanya menjadi lebih mudah diterima. Trust kepada orangtua sudah terbangun.
Sebaliknya jika anak merasa ada pengalaman yang dirasakannya kurang bersama orangtua, maka mereka akan lebih mudah “tergoda” dengan kegiatan lain di luar.
Penjelasan sederhana untuk anak usia 3 tahun kurang lebih adalah: “Belajar itu macem-macem. Ada yang pergi ke sekolah, ada yang di rumah bersama papa & mama. Nah, kalau kita caranya adalah belajar di rumah. Yang kakak lakukan bersama Mama itu sama dengan yang dilakukan anak-anak di sekolah.”
Standar komunikasinya seperti itu. Komunikasi itu sebenarnya hanya penjelas terhadap keseharian yang kita jalani bersama mereka.
Tapi saya kebayang komunikasi seperti itu mungkin bukanlah sebuah hal yang mudah untuk kak Desy yang sedang merintis bisnis dan menjadi orangtua tunggal. Waktu untuk berkegiatan bersama anak mungkin relatif terbatas karena ada bisnis yang baru dibangun.
Secara rasional, menurut saya kakak perlu mempertimbangkan sebaik-baiknya solusi yang paling sesuai dengan kondisi.
Anak bersekolah di TK bukanlah pilihan yang buruk. Itu juga pilihan yang baik dan tetap bisa ditambahkan kegiatan bersama anak saat kondisinya memungkinkan. Menguatkan bonding saat anak pulang sekolah sangat penting dan bisa dilakukan, pada saat bersamaan kakak punya waktu luang untuk fokus pada bisnis saat anak sedang di sekolah.
Demikian kak,
Diantara pilihan-pilihan kondisi yang ada di hadapan kita, kita perlu memilih cara menjalaninya yang paling memungkinkan.
Semoga kak Desy bisa menemukan jalan terbaik yang sesuai kondisi. Jalan terbaik adalah jalan optimal yang bisa dijalani, bukan jalan ideal yang tak mungkin kita lakukan.
Aar
KeymasterTerima kasih sharing dan pertanyaannya kak @Desy
Saya sangat memahami tantangan kondisi Anda yang sangat tidak mudah sebagai single parent, sedang merintis bisnis, penopang satu-satunya keuangan keluarga, dan pada saat bersamaan menjalani HS untuk anak usia dini (3 tahun).
Kesadaran dan komitmen Anda adalah modal yang sangat besar untuk terus meningkatkan kapasitas personal sekaligus meningkatkan kualitas pengasuhan bersama anak.
Kak Desy sudah membuat satu pengakuan yang sangat tepat untuk melonggarkan harapan terhadap kesempurnaan dan lebih fokus untuk membangun rasa nyaman/bonding bersama anak.
Ini langkah yang sangat tepat, kak.
Lupakan sementara kekusutan memikirkan jenis konten. Kapan pun ada kesempatan saat bersama anak, pastikan kakak selalu berusaha menjalin hubungan yang berkualitas. Diantara kesibukan bisnis dan keseharian, ciptakan (secara aktif) momen2 bersama anak seperti makan es krim bersama, main tebak2an, dll yang sederhana, butuh waktu/energi sedikit, pada saat bersamaan membangun kedekatan/intimasi bersama anak.
Jika kondisi keuangan sudah memungkinkan, semoga nanti bisa ada asisten yang bisa jadi teman sementara anak saat kakak perlu berkonsentrasi urusan bisnis. Atau sebaliknya, ada asisten/tim bisnis yang membuat sebagian pekerjaan bisa didelegasikan sehingga kakak punya waktu lebih fleksibel bersama anak.
Semoga dengan kedekatan yang kuat, anak merasa puas dan tenang secara psikologis yang membuatnya bisa bertumbuh semakin baik.
Semangat ya kak.. 🙏☀
Aar
KeymasterKak @ipop.purintyas
Proyek bersama yang paling sering kami lakukan bersama 3 anak biasanya terkait makanan, mulai coklat, keju, pizza, dan lain-lain.
Proyek belajar terkait makanan bisa dilakukan untuk satu anak (solo project) maupun bersama-sama. Anak yang sudah besar bisa melakukan riset dan membuat lapbook terkait makanan (dengan struktur/isi sesuai kesepakatan) yang diakhiri presentasi. Yang kecil bisa disesuaikan dengan kemampuannya.
Proyek belajar tentang makanan biasanya diakhiri dengan mencari resep, memasak bersama, dan menikmati hasil masakan bersama.
Demikian kak, semoga membantu.
Aar
KeymasterKak @lydia
Keberhasilan kecil adalah hal-hal yang berhasil dilakukan anak dan merupakan perkembangan dari kondisi dia sebelumnya.
Seringkali yang terjadi dalam proses parenting adalah orangtua terlalu fokus pada harapan agar anak meraih tujuan besar/ideal, tapi mengabaikan atau tidak menghargai perkembangan yang lebih kecil. Akibatnya orangtua menjadi lebih mudah emosi atau merasa insecure, dan itu bisa memicu sikap-sikap orangtua yang kurang tepat.
Contohnya begini:
- Orangtua punya harapan anak yang supel, ramah dengan anak lain, langsung berbaur dengan teman-teman barunya. Ini adalah keberhasilan besar (yang membutuhkan waktu panjang dan proses bertahap pada anak).
Ketika anak bertemu dengan orang baru (misalnya saat Lebaran) dan tidak terlihat aktif membaur, orangtua langsung mengeluhkan anaknya bermasalah secara sosial.
Padahal, ada kemajuan-kemajuan dan keberhasilan kecil yang sebenarnya diraih anak: dia tidak ketakutan/kabur saat bertemu orang baru, anak mengamati dengan lebih santai temannya, anak mulai berani mengobrol setelah beberapa waktu, dll.
- Contoh lain, orangtua mengharapkan anak menguasai materi belajar dan bisa mengerjakan semua soal. Itu keberhasilan besar.
Keberhasilan kecil dalam konteks ini: anak bertambah pengetahuannya pada area xxx, anak sudah mulai mengerti bagian xxx dibandingkan sebelumnya tapi masih butuh latihan dan penguatan lagi.
Jadi, poin penting yang perlu dibangun dalam proses pendampingan anak adalah:
- menjaga agar kepercayaan diri anak tetap terjaga
- mengenali aspek-aspek yang bertumbuh (dibandingkan dirinya sebelumnya, bukan dibandingkan orang lain)
- bersyukur dan mengapresiasi pertumbuhan yang terjadi
- menjadikan pertumbuhan anak sebagai basis stimulasi berikutnya
Demikian kak, semoga membantu.
Aar
KeymasterVideo ini juga memberikan penjelasan: https://www.youtube.com/watch?v=su98SiGkuhY
Aar
KeymasterKak @jihad.karim
Artikel tentang keterkaitan keterampilan rumah dan keberhasilan saat dewasa bisa dibaca di sini (di dalamnya ada pembahasan tentang riset yang saya maksud): https://www.mother.ly/child/child-learn-play/chores-for-kids-can-be-the-key-to-success/
Aar
KeymasterKak @Taniags
Bisa kak. Dalam konteks anak usia dini, apalagi di bawah 3 tahun, tujuan utama dalam homeschooling adalah membangun kematangan psikologis anak dan melakukan stimulasi sesuai tumbuh kembang anak.
Proses utamanya adalah:
- memenuhi kebutuhan keamanan fisik (makanan bergizi, tempat berteduh, suasana/lingkungan yang aman)
- memenuhi kebutuhan psikologi anak (bonding yang kuat, rasa tenang, rasa nyaman, rasa percaya diri, rasa percaya/trust terhadap sekitar)
- stimulasi sesuai tumbuh kembang anak
Dalam proses HS Usia Dini, peran utama memang ada di orangtua, terutama Ibu. Aspek yang penting yang perlu dilakukan oleh Ibu adalah memenuhi kebutuhan psikologis anak yang dilakukan saat orangtua sedang bersama anak. Prosesnya dengan banyak bermain, mendengarkan mereka, mengobrol, membacakan dongeng, bermain musik bersama, berkegiatan bersama.
Aspek keamanan bisa dilakukan dengan bantuan orang lain dengan arahan dari orangtua.
Aspek stimulasi bisa dilakukan bersama oleh orangtua dan saat anak bersama ART. Proses yang perlu dilakukan adalah dengan melihat checklist perkembangan anak usia 1-2 tahun dan 2-3 tahun untuk melihat perkembangan anak. Dari checklist, orangtua bisa merancang kegiatan dan stimulasi anak (yang dilakukan orangtua dan ART).
Demikian kak, semoga membantu.
Aar
KeymasterWa’alaikum salam wr wb,
Kami tidak punya sumber tunggal, kak. Biasanya memadukan berbagai sumber.
Pertanyaan kakak ini terkait PTK (Penelitian Tindakan Kelas) ya?Jika iya, mohon maaf kami tidak bisa banyak membantu.
Konteks materi-materi Rumah Inspirasi semuanya adalah keluarga, bukan kelas. Saya tidak punya pengalaman mengelola kelas.
Untuk proses belajar membaca (pasif), yang penting dikenali adalah tujuan yang ingin diraih:
- bisa melafalkan huruf, suku kata, kata, kalimat
- memahami kata/kalimat yang dibaca: judul, tokoh, alur cerita, tema gagasan.
Menyusun kalimat termasuk dalam komunikasi, keterampilan berbahasa (aktif). Ini bagian lain dari proses belajar anak.
Secara praktis, tujuannya adalah:
- anak bisa berbicara/berkomunikasi dengan lancar
- anak mengenali pola pembentukan kalimat: subyek, predikat, objek, keterangan (ini agak teoritis)
- anak mengenali kalimat aktif dan pasif: mengenali pola subjek, predikat, objek
Demikian kak. Semoga membantu.
Aar
KeymasterHalo kak @mariana.virdanianty
Jika kakak ikut kelas lengkap, pertanyaan terkait bisa disampaikan kapan pun di tema-tema kelas yang sesuai.
Misalnya, kakak ingin menanyakan tentang minat dan bakat, kakak cek kelas Pengembangan Potensi Anak bagian Pengembangan berbasis Minat. Di sana ada pembahasan dan juga tanya-jawab.
Jika dirasa ada pertanyaan, silakan disampaikan langsung. Pertanyaan biasanya akan menjadi lebih tajam jika kakak sudah membaca/mendengarkan podcast terkait.
Jika bingung, langsung bikin thread pertanyaan baru juga tidak apa-apa, kak. 🙂
-
AuthorPosts