Forum Replies Created

Viewing 15 posts - 406 through 420 (of 766 total)
  • Author
    Posts
  • in reply to: Membangun Keterampilan Manajemen Diri #6332
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @donna.muliadi

    Salam kenal juga kak, terima kasih pertanyaannya.

    Senang kakak sudah bersedia menyiapkan diri dan belajar dalam rangka menimbang dan menyiapkan diri untuk homeschooling.

    Pondasi awal

    Dalam proses persiapan awal homeschooling, penting sekali untuk fokus memperbaiki hubungan dan meningkatkan komunikasi bersama anak. Ini kelihatannya sepele, tapi betul-betul pondasi dalam homeschooling.

    Kondisi HS berbeda dengan anak sekolah. Saat anak bersekolah, kita bisa punya masalah komunikasi dengan anak dan anak tetap bisa belajar di sekolah bersama gurunya. Tapi jika HS, komunikasi itu menjadi pondasi yang sangat krusial karena kita yang menemani anak-anak dalam proses pendidikannya.

    Jadi, kakak punya waktu lebih dari 1 tahun untuk meningkatkan kualitas komunikasi. Perbanyak mengobrol santai, mencari titik temu, dan melakukan “hal-hal tidak penting” bersama anak.

    Strategi belajar

    Strategi belajar dalam homeschooling ada banyak sekali, mulai belajar dengan cara meringkas buku, belajar memakai aplikasi, menggunakan tutor, belajar tematik, belajar berbasis proyek, belajar menggunakan game, dll.

    Strategi belajar adalah cara untuk mencapai tujuan. Jadi, yang menjadi pegangan adalah tujuannya (menguasai materi belajar). Caranya bisa dipilih sesuai kecocokan. Sebuah cara bisa digabung dengan cara yang lain. Tak masalah.

    Demikian kak, jawaban ini membantu. 🙏

    in reply to: Podcast Pilihan Pendidikan Anak #6334
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @ayu-wulandini

    Kehadiran di PKBM

    Memang sebagian PKBM mensyaratkan tutorial minimal hadir sekali seminggu untuk proses belajar di PKBM. Tapi tidak semuanya begitu. Anak kami bahkan tidak pernah hadir sama sekali untuk proses tutorial di PKBM karena semua pembelajaran dilakukan mandiri.

    Jika mencari yang fleksibel, kuncinya adalah mencari PKBM yang mungkin agak jauh dari tempat tinggal. Jadi diperluas pencariannya sehingga bisa lebih fleksibel.

    Seandainya tetap memilih PKBM terdekat dan ikut tutorial sekali seminggu juga tidak apa-apa (jika itu memang cocok dengan kriteria keluarga). Sebutannya tetap homeschooling jika orangtua memegang kendali penuh proses belajar anak dan menjadikan PKBM hanya pelengkap.

    Pendaftaran di PKBM

    Apa tujuan kak Ayu mendaftarkan anak di PKBM sejak usia 5 tahun? Agar bisa lebih cepat ikut ujian Paket A? Agar bisa melakukan kegiatan belajar di PKBM?

    Setahu saya, biasanya tidak ada kegiatan belajar di PKBM saat anak usia 7-9 tahun. Sebab, target belajar di PKBM di jenjang itu hanya literasi dan numerasi. Jadi sangat ringan dan sangat bisa dilakukan oleh orangtua di rumah. Jangan membayangkan PKBM seperti sekolah yang terstruktur dan belajar macam-macam.

    Pendaftaran di PKBM memang dimulai saat anak usia 7 tahun. Pendaftarannya tak ada hubungan dengan anak bisa membaca dan menulis. Ujian Paket A dilakukan saat anak usia 12 tahun, tidak bisa dipercepat (aturan saat ini).

    Jika anak sudah bisa membaca dan menulis kurang dari 7 tahun, itu kesempatan kakak melakukan stimulasi dan kegiatan2 lain untuk anak, misalnya pengembangan minat dan bakat, mengasah keterampilan dasar anak, dan lain-lain.

    Anak belajar berinisiatif, anak memelihara keingintahuan, melakukan aneka percobaan, mengasah keterampilan, stimulasi seni dan fisik, dan lain-lain.

    Jadi, banyak sekali kegiatan yang bisa dan perlu dipelajari anak di luar materi-materi belajar ala anak sekolah (mata pelajaran).

    Sebab, pendidikan adalah untuk menyiapkan bekal hidup anak agar mereka terampil menjalani kesehariannya dengan baik dan memberikan bekal untuk hidup mandiri dan berkarya saat remaja/dewasa.

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Kartu Ide Kegiatan Transaksi Keuangan untuk Anak Usia Dini #6337
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @yulita-khosuma

    Concern Anda benar sekali. Idealnya kegiatan-kegiatan anak sumber motivasinya bersifat internal, dari dalam.

    Membangun motivasi internal

    Proses membangun motivasi internal itu membutuhkan waktu yang panjang, rumit, dan berbeda-beda kondisinya pada setiap anak. Perlu tahapan proses dan sistem yang tepat untuk membangunnya.

    Termasuk yang mempengaruhi tumbuhnya motivasi internal adalah ekspektasi orangtua yang wajar terhadap anak.

    • apakah anak merasa memiliki prosesnya dan tahu bahwa kegiatan itu untuk kepentingannya?
    • siapa yang lebih berkepentingan atas kegiatan itu: anak atau orangtua?
    • jika anak tak melakukan sebuah hal, siapa yang rugi: anak atau orangtua?

    Jika ada kegiatan baik yang menurut kita penting untuk kepentingan anak; pastikan kita melatih dan membangun sistem di mana yang beruntung jika melakukan adalah anak, yang rugi jika tak melakukan adalah anak; bukan kita (orangtua).

    Sebagai contoh, makan sendiri. Itu untuk kepentingan siapa? Mengapa anak harus dipaksa makan sendiri? Mengapa orangtua terpancing emosinya jika anak tidak makan sendiri? Jika anak tak mau makan sendiri, yang rugi siapa?

    Untuk anak terampil makan sendiri, pastikan ada beberapa kondisi yang sesuai:

    • anak lapar
    • tidak ada susu & snack sebelum makan
    • anak makan tidak sambil main/menonton
    • berikan durasi waktu. Selesai atau tidak selesai, ambil piringnya. Alternatif pendekatan lain, biarkan anak menghabiskan makanan sampai berapa lama pun. Selama makanan belum habis, dia tak boleh meninggalkan meja dan melakukan kegiatan lain.
    • jika anak tak mau makan atau tidak habis, tidak ada snack setelahnya. Makanan baru akan ada lagi saat makan setelahnya

    Itu contoh sistem yang bisa dibangun untuk membangun kebiasaan makan sendiri dan membangun

    Memberikan reward

    Memberikan reward efektif untuk mengarahkan anak pada sebuah tindakan tertentu. Penggunaan reward boleh, tapi perlu dijagar agar tetap efektif.

    Reward akan efektif jika:

    • tidak menciptakan ketergantungan
    • paduan antara terpola/rutin & acak
    • dilakukan hanya sesekali atau dalam durasi tertentu (bukan seterusnya). Dalam jangka panjang yang dibangun adalah motivasi internal

    Jadi, kakak bisa memberikan reward, tapi pastikan hanya 1-2 kegiatan tertentu yang dianggap sangat penting.

    Demikian kak, semoga membantu. Jika ada pertanyaan lanjutan, dipersilakan.

    in reply to: Podcast Membangun Kebiasaan Baik Anak #6349
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @Taniags

    Ada beberapa penyebab yang mungkin terjadi saat anak usia 2 tahun memukul dan menendang jika keinginannya tidak dituruti:

    1. anak belum terampil mengekspresikan emosinya
    2. anak terbiasa mendapatkan keinginan dengan cara tersebut
    3. anak mencari perhatian orangtuanya

    Ada solusi jangka pendek dan jangka panjang bisa dilakukan.

    Solusi jangka pendek

    Solusi jangka pendek adalah terkait mencegah perilakunya secara langsung. Kuncinya ada di aturan main dan kepemimpinan orangtua.

    • orangtua perlu menjelaskan kepada anak bahwa memukul dan menendang adalah ekspresi yang tak diperbolehkan.
    • jika anak melakukan hal tersebut (memukul & menendang), cegah dan jangan biarkan anak melakukannya. Bawa anak ke kamar (tempat aman) dan jaga jarak.
    • “kamu boleh menangis dan marah-marah, tapi tidak boleh memukul dan menendang. Bunda tidak mau kamu melakukan itu.”
    • pastikan Anda menjaga jarak dan tidak terkena pukulan dan tendangan.
    • proses ini membutuhkan ketegasan dan konsistensi. Orangtua biasanya suka mengalah karena kasihan, ingin urusan cepat selesai kemudian menuruti permintaan anak. Sikap seperti ini bisa memperburuk perilaku dalam jangka panjang.

    Solusi jangka panjang

    Solusi jangka panjang terkait keterampilan mengekspresikan emosi dan regulasi diri.

    • jika anak minta sesuatu, pastikan keputusannya dilakukan secara rasional. Biasakan menjelaskan kepada anak mengapai permintaan/kegiatan xxx diizinkan dan mengapa permintaan/kegiatan yyy tidak diizinkan. Pastikan hal yang diizinkan dan tidak diizinkan ini berlaku konsisten.
    • untuk emosi-emosi yang lebih sederhana, lakuka validasi emosi dan ajarkan cara mengelola emosi.

    “Kakak lagi marah? Bunda ngerti kok kakak marah karena xxx… ” (dimengerti tapi tidak dituruti)
    “Kalau kakak marah, kakak boleh nangis dan teriak, tapi tidak boleh mukul atau menendang.” (ajarkan cara mengekspresikan)
    “Kalau kakak ingin mukul, kakak boleh pukul tempat tidur, tapi tidak pukul orang.” (ajarkan cara ekspresi yang aman dan bisa ditolerir)

    • perbanyak kegiatan-kegiatan santai yang membangun bonding dan koneksi anak, yang membuat anak merasa nyaman dan terpenuhi kebutuhan cintanya. Jalan bareng, ngobrol2, nonton bareng, dongeng, tebak-tebakan, makan es krim, dll.

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Podcast Prinsip Dasar Homeschooling Usia Dini #6350
    Aar
    Keymaster

    Noted kak @Taniags

    Dalam banyak kondisi, keluhan kita terhadap anak-anak kita seringkali muaranya adalah kondisi kita sendiri. Kita sedang kusut, kita sedang sibuk, hati kita sedang gundah, kita sedang ada masalah personal, dll.

    Kekusutan itu sering menjadi pemicu ketidaksabaran kita dan bisa menimbulkan masalah berkelanjutan jika kemudian kita lampiaskan pada anak.

    Solusi yang efektif biasanya tidak terkait dengan aksi langsung pada anak. Solusi yang efektif biasanya dengan memperbaiki kondisi2 langsung terkait diri kita.

    Semangat kak… kami juga pernah mengalami kondisi-kondisi seperti ini, kok.

    ☀🌞

    in reply to: Podcast Prinsip Dasar Homeschooling Usia Dini #6361
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @Taniags

    Terima kasih sharing dan pertanyaannya.

    Syukurlah emosi marah-marah Anda hanya muncul seminggu terakhir ini. Anda juga menjelaskan pemicunya. Yang pertama bersifat eksternal: anak membuat rumah berantakan. Yang kedua adalah Anda kecapekan pulang kerja.

    Poin penting tentang kesiapan orangtua adalah kesehatan fisik dan kebugaran mental orangtua saat bersama anak. Faktor ini ada dalam kontrol orangtua dan memang sangat penting untuk dikelola.

    Faktor kesehatan dan kebugaran ini menjadi modal penting dalam proses HS Usia Dini, jauh lebih penting dibandingkan aneka hal tentang kurikulum, ide belajar, alat belajar, dan lainnya.

    Pertanyaan terbesar adalah:

    • apa yang membedakan capek Anda saat ini dibandingkan sebelumnya (yang membuat Anda lebih mudah terpancing amarah)?
    • apa yang bisa Anda lakukan agar tidak terlalu capek saat pulang kantor? Apakah jenis/beban pekerjaan bisa dinegosiasikan/diatur ulang? Apakah perlu minum suplemen? Atau olahraga tambahan untuk meningkatkan stamina?
    • seberapa mungkin solusi radikal seperti memilih mengasuh anak dibandingkan bekerja?

    Menjadi Ibu bekerja sekaligus mengasuh anak memang bukan hal ringan. Ini adalah hal yang berat dan orangtua yang bisa menjalani keduanya adalah para orangtua yang super.

    Dalam kaitan interaksi bersama anak, mungkin Anda perlu membuat protokol untuk menunda kegiatan bersama anak saat pulang bekerja, misalnya:

    • mandi dan menenangkan diri di kamar mandi sejenak agar lebih segar saat bertemu anak
    • memberikan pesan khusus kepada pengasuh untuk merapikan mainan sebelum Anda pulang atau melakukan hal2 yang biasanya menjadi sumber kekesalan Anda.

    Dalam kaitan tentang anak sendiri, kunci penting dalam proses pengasuhan anak usia dini adalah memenuhi kebutuhan rasa aman dan nyaman. Itu adalah pondasi penting untuk pertumbuhan jangka panjang anak. Banyak sekali masalah perilaku anak muncul karena anak sebenarnya sedang berusaha mencari perhatian orangtua. Jadi, pastikan fokus Anda di rumah saat bersama anak adalah bermain dan membangun ikatan kuat bersama anak untuk memenuhi kebutuhannya akan kehadiran Ibu.

    Pilihan jenis kegiatannya bisa sesederhana mengobrol, main balok bersama, mendongeng, dan kegiatan lain yang bisa dilakukan di kamar dan tidak terlalu menguras energi Anda.

    Demikian kak, semoga bisa menambahkan perspektif tentang hal yang bisa Anda lakukan untuk menangani tantangan yang sedang terjadi.

    in reply to: Tantangan Dokumentasi 2022 #6375
    Aar
    Keymaster

    Kak @esther.rita

    Semua data bersifat konfidential. Kami tidak akan menyebarkan data yang dikirim peserta ke publik.

    Jika ada dokumentasi yang menurut kami bagus untuk inspirasi masyarakat, kami akan minta izin dulu pada orangtua. Jika orangtua mengizinkan, kami akan publikasikan. Jika orangtua tidak mengizinkan, kami tidak akan mempublikasikan.

    Semoga menjawab.

    in reply to: Podcast Keragaman Sudut Pandang #6377
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @yulita-khosuma

    Terima kasih sharingnya.

    Dalam proses memfasilitasi anak-anak, tetap perlu dipertimbangkan kapasitas keluarga. Ini prinsip yang tak bisa dilepaskan.

    Mimpinya tidak ditutup, tapi prosesnya “meliuk” dan dicarikan jalan penyalurannya. Apalagi minat anak memang masih berubah-ubah. Apalagi usianya masih 6 tahun.

    Di sini perlunya kreativitas orangtua untuk mengkomunikasikan harapan dan kondisi orangtua serta mencari alternatif solusi yang memungkinkan.

    1. Komunikasi

    Dalam proses berkomunikasi, penting untuk tetap memelihara semangat anak agar tidak patah. Anak berani tetap memelihara mimpinya.

    “Bagus kalau kamu senang bermusik. Jika kamu tekuni, itu bisa membawa kamu keliling dunia. Kuncinya kamu harus rajin berlatih, bukan hanya asal main/pukul-pukul saja.””

    “Kalau kamu suka musik, kamu bisa mulai berlatih. Kita perlu cari jalan bersama karena harga drum itu mahal. Harga drum itu sama dengan 2 bulan biaya makan keluarga kita. Kalau beli drum, berarti kita tidak makan 2 bulan. Adik mau? hehehe”

    2. Alternatif

    Mulai dengan apa yang bisa dilakukan, misalnya belajar timpani yang kurang lebih serupa (alat musik pukul). Atau belajar memakai alat musik bebas, yang penting berlatih musikalitasnya. Atau berlatih alat musik lain yang tersedia dan bisa diajarkan oleh orangtua.

    Demikian kak, anak-anak juga perlu belajar bahwa keinginan tidak terbatas dan sumber daya kita terbatas. Orang yang hebat tidak berhenti karena memiliki keterbatasan tapi juga tidak hanya memperturutkan keinginan saja.

    Semoga membantu.🙏

    in reply to: Podcast Tips Game-based Learning #6382
    Aar
    Keymaster

    Betul kak @nia.purnama

    Itu pendekatan yang kami gunakan.

    Coding itu keterampilan yang sangat spesifik yang kemungkinan besar ilmunya akan terus berkembang cepat seiring waktu.

    Jika anak sudah lebih kuat pondasi logikanya dan kemudian saat remaja mereka ingin belajar coding, prosesnya akan menjadi lebih mudah.

    in reply to: Podcast Tips Game-based Learning #6384
    Aar
    Keymaster

    Kak @nia.purnama

    Pemilihan jenis kegiatan anak-anak sudah ada dalam wilayah orangtua berdasarkan preferensi keluarga dan juga ketertarikan anak-anak.

    Belajar coding itu sebenarnya pondasinya adalah logika/algoritma. Anak belajar cara berpikir dan urutan pengambilan keputusan, bukan belajar bahasa pemrograman. Bahasa pemrogramannya sendiri hanya alat.

    Jadi, jika anak mau belajar coding pastikan bahwa dia tak hanya belajar bahasa saja, tapi belajar problem solving dan bikin2 sesuatu dengan kemampuannya.

    Kami juga sempat memperkenalkan coding kepada Duta saat dia tertarik Minecraft, tapi Duta tidak tertarik mendalaminya. Kami tidak memperkenalkan coding kepada Yudhis, tapi ketika SMP dia malam tertarik belajar coding secara otodidak dan ikut kompetisi coding. Tata juga sempat mengikuti kakaknya tertarik coding dan bikin2 aplikasi, tapi tidak berlanjut lama.

    Pendekatannya bisa 2 kak:

    1. Anak belajar coding dan bikin game sebagai pintu masuk belajar logika

    2. Anak belajar logika & matematika yang nanti bisa jadi pintu masuk belajar coding

    Keduanya bisa dijalani dan dipilih.

    Semoga membantu.

    in reply to: Podcast Tips Game-based Learning #6386
    Aar
    Keymaster

    Kak @yulianti.andayasari

    Keterampilan coding tak ada hubungannya dengan kesukaan/kemampuan bermain game. Keterampilan coding basisnya adalah kemampuan berlogika dan melakukan keterampilan teknis secara mendalam. Ilmu dasarnya adalah matematika dan algoritma.

    Implementasi coding ada di berbagai dunia digital dalam bentuk beragam, mulai sistem operasi, aneka aplikasi/software.

    Untuk anak usia dini, yang perlu dijaga adalah dampak terhadap mental/emosi jika anak main game.

    Itu sih yang menjadi concern utama saya.

    Jika orangtua bisa mengelolanya, maka memperkenalkan game tak apa-apa. Tapi jika orangtua kemudian membiarkan anak dan tak terampil mengelola penggunaan game oleh anak-anak, akibatkan anak-anak bisa menjadi terserap dalam dunia game/gawai dan menjadi tidak tertarik pada hal lain di luar game/gawai.

    Ini yang merugikan untuk tumbuh kembang anak.

    Jadi, jika orangtua merasa bisa mengelolanya, dipersilakan.

    Tapi jika orangtua tidak terbiasa main game dan tidak mengenalnya, lebih baik pengenalan game itu ditunda.

    in reply to: Audit Diri #6392
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @Dhita

    Monotasking memiliki rentang spektrum yang sederhana hingga ideal.

    Yang ideal terjadi ketika proses bekerja dalam kontrol kita sepenuhnya dan minim distraksi sekitar. Kondisinya biasanya terjadi saat: di kantor, anak sudah memiliki kegiatan mandiri/besar.

    Dalam kondisi ideal, yang harus dikelola adalah diri sendiri supaya tidak terjadi distraksi (biasanya bersumber dari gawai: WA & medsos). Distraksi yang lain adalah ingin melakukan beberapa kegiatan sekaligus.

    Dalam kondisi ideal, kita bisa melakukan pekerjaan kita sepenuhnya dengan durasi panjang dan distraksi minimum.

    Dalam kondisi ada anak-anak yang masih belum mandiri, kita perlu melakukan modifikasi-modifikasi agar monotasking & deep work bisa dilakukan. Hasilnya tentu saja berbeda, tapi cara kerja ini sangat bisa meningkatkan produktivitas dibandingkan jika kita mudah pindah dari satu kegiata ke kegiatan lain.

    Modifikasi yang bisa dilakukan antara lain:

    • Blocking time sepenuhnya di pagi hari sejak kita bangun tidur hingga sebelum anak bangun. Ini adalah prime time kita yang bisa kita maksimalkan deep work.
    • Durasi satu blok waktu untuk proses monotasking biasanya sekitar 30 menit, diselingi break 5 menit (ini teknik Pomodoro). Untuk fleksibilitas, blocking time-nya diperkecil, misalnya 10 menit. Kita secara sadar membagi pekerjaan kita secara modular menjadi bagian kecil yang bisa diselesaikan 10 menit. Jika 10 menit bisa diteruskan, maka bisa dilanjutkan beberapa kali 10 menit sebelum break. Tapi jika ada distraksi, setidaknya anak bisa menunggu sebentar dan distraksi tidak terjadi secara random.
    • Karena anak adalah prioritas tertinggi (dalam pengalaman keluarga kami), maka pagi hari kami memastikan anak sudah “kenyang” berkegiatan intens bersama kami sebelum kami menyelesaikan urusan pekerjaan/pribadi. Setelah itu, anak berkegiatan bebas dan kita berikan alat berkegiatan (non gawai) dan kita jelaskan bahwa kami ada pekerjaan yang perlu diselesaikan. Nanti anak ditengok lagi sekitar 30 menit setelah bekerja (saat break) dan jika aman kita kembali lagi bekerja. Pada awalnya proses ini pasti tidak mudah, tapi anak lama-lama akan semakin mengenali polanya.
    • Jika anak terlatih memahami bahwa orangtua juga ada urusan yang perlu dikerjakan dan dia perlu menyelesaikan urusannya sendiri, semakin anak besar prosesnya akan semakin mudah.

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Podcast Gambar Besar Keterampilan Dasar #6396
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @atina.catur

    Ada 2 aspek pertanyaan Anda.

    1. Orangtua ingin anak mempelajari sesuatu
    2. Menumbuhkan minat belajar anak

    1. Orangtua ingin anak mempelajari sesuatu

    Sebagai orangtua yang mendapatkan tanggung jawab dari Tuhan mendidik anak, tentu saja kita bisa memiliki otoritas untuk menentukan hal-hal yang menurut kita baik untuk dipelajari anak. Ada beberapa koridor yang penting diperhatikan dalam proses ini:

    Pertama, pastikan pilihan itu untuk alasan kebaikan/kepentingan anak, bukan kepentingan keluarga/orang lain.

    Kedua, kenali lebih detil alasan mengapa sebuah hal harus dipelajari anak, misalnya: keselamatan, kesehatan, perintah agama, masa depan, dll.

    “Kamu perlu belajar renang supaya selamat ketika ada di air.”

    Ketiga, jumlahnya jangan terlalu banyak supaya anak tidak merasa terbebani.

    Keempat, berikan ruang bagi anak untuk memilih terkait teknis/cara. Misalnya:

    “Kamu perlu berolahraga agar sehat. Jenis olahraganya terserah kamu.”

    “Kamu perlu belajar xxx. Enaknya berapa kali kita melakukannya?”
    Kelima, berikan bimbingan dan fasilitasi proses agar anak mudah melakukannya. Jika orangtua menginginkan anak belajar sebuah hal tertentu, tanggung jawab pembimbingan ada di orangtua.

    2. Menumbuhkan minat belajar anak

    Minat anak untuk belajar akan bertumbuh jika:

    • anak tahu tujuan belajarnya
    • anak tahu keterkaitan yang dipelajari dengan hidupnya
    • anak mendapatkan manfaat langsung dengan materi yang dipelajari
    • anak menyukai metode/cara belajarnya

    Nah, kedua aspek tersebut perlu digabungkan jika ada hal-hal tertentu yang menurut orangtua perlu dipelajari anak.

    • Orangtua menjelaskan alasan hal tersebut penting untuk anak
    • Orangtua memikirkan cara agar proses belajarnya bermakna dan asyik

    Bagaimaa jika anak tetap tidak menikmati?

    Jika memang orangtua merasa itu adalah hal yang penting dan harus dipelajari anak, pastikan pendampingan terus sambil mengupayakan agar prosesnya berjalan semakin asyik dan bisa dinikmati oleh anak.

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Podcast Menguji Kecocokan #6404
    Aar
    Keymaster

    Kak @sarah.fauziyyah

    Concern ini juga dialami oleh banyak keluarga.

    Pertanyaannya, apa yang bisa kita lakukan untuk mengantisipasi ketidakpastian tentang kematian ini?

    Yang bisa kita lakukan adalah melakukan proses terbaik setiap saat dan melakukan hal-hal yang ada dalam kontrol kita untuk membantu keluarga menangani masalah jika kondisi buruk itu terjadi.

    Jika orangtua meninggal, apa pilihan yang ada?

    1. Anak tetap HS
    2. Anak pindah ke sekolah

    Kemungkinan yang terjadi adalah yang ke-2 dan itu tak apa-apa, kan?

    Sekolah juga baik dan kita semua adalah buah dari proses pendidikan melalui sekolah.

    Yang perlu disiapkan secara rasional adalah:

    • Anak terdaftar di PKBM untuk memudahkan proses legalitas dan perpindahan (jika dibutuhkan)
    • Anak belajar basic pelajaran sekolah, seperti literasi dan numerasi
    • Orangtua menanamkan nilai2 kelenturan dan adaptabilitas pada anak agar terampil menyelesaikan masalah-masalah dalam keseharian.

    Di lingkaran pertemanan kami ada keluarga yang anaknya HS, kemudian Ibu meninggal karena sakit cancer. Ayah memilih tidak melanjutkan HS dan anaknya bersekolah. Perpindahan terjadi waktu SD dan anaknya bersekolah hingga sekarang sudah kuliah. Semuanya beradaptasi dengan kondisi baru dan semuanya baik-baik saja.

    Demikian kak, semoga menambahkan perspektif yang berbeda.

    in reply to: Podcast Menguji Kecocokan #6405
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @sarah.fauziyyah
    Noted and no problem, kak.

    Yang penting dijajagi dan dijalani dulu. Masih ada waktu 2.5 tahun untuk melihat perkembangan anak dan perkembangan keluarga mengelola proses HS.

    Nanti dianalisis secara rasional saja: apakah lanjut HS atau anak bersekolah.

    Itu proses yang wajar dan banyak terjadi di keluarga.

    Fokus kita adalah membuat pilihan terbaik untuk anak dan keluarga.

Viewing 15 posts - 406 through 420 (of 766 total)
Scroll to Top