Forum Replies Created

Viewing 15 posts - 421 through 435 (of 766 total)
  • Author
    Posts
  • in reply to: Podcast Sosialisasi Homeschooling Anak Usia Dini #6421
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @novie.safita

    Semakin besar anak, variasi pola sosialisasi anak semakin beragam.

    Anak memiliki karakter yang beragam (introvert, ekstrovert), pilihan jenis kegiatan berbeda-beda, kebutuhan pertemanannya tak sama, infrastruktur sosial yang ada di sekitar juga berbeda.

    Kami punya 3 anak:

    1, Senangnya main dan gaul, kebutuhan pertemanannya tinggi. Pada waktu SMP/SMA, dia senang jalan ikut kegiatan di komunitas macam2 dan juga aneka workshop.

    Ini cerita tentang lingkaran pertemanannya: https://rumahinspirasi.com/contoh-sosialisasi-anak-homeschooling/

    2. Anak kedua suka seni, punya beberapa teman dekat yang selama pandemi suka chat, main game, dan ngobrol online tengah malam. Dia merasa cukup dengan itu dan tak merasa butuh banyak yang banyak di luar.

    3. Anak ketiga suka catur, kebutuhan pertemanannya lebih kecil lagi. Dia punya 3 sahabat sejak kecil dan sampai sekarang masih suka main Minecraft online bareng. Dia anak rumahan, tidak suka main. Yang kami pastikan adalah dia memiliki keberanian untuk berkegiatan jika dibutuhkan (melalui belanja dan travelling) dan bisa berkomunikasi dengan baik dengan siapapun.

    Jika ada konteks kondisi khusus yang ingin ditanyakan, ditulis saja kak. Nanti saya usahakan untuk menjawab.

    Mohon disertakan data usia anak, kota tempat tinggal, concern orangtua, dan kondisinya saat ini.

    in reply to: Audit Diri #6447
    Aar
    Keymaster

    Kak @elsa.murdiana

    • Pemantik kebahagiaan = penambah energi untuk menyelesaikan aksi dan rencana
    • Pelarian = menghindar dan kabur dari aksi yang seharusnya dilakukan

    Intinya, aksi tetap perlu dilakukan dan diselesaikan. Tak apa2 berhenti sejenak jika lelah atau kusut, tapi jangan kelamaan. Terus yang ditinggalkan tetap perlu diselesaikan.

    Semoga menjawab pertanyaan kak Elsa. 🙂

    in reply to: Audit Diri #6464
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @Rudi

    Banyak yang berasumsi bahwa pekerjaan multi-tasking akan memberikan keuntungan bagi kita bisa melakukan banyak hal.

    Ternyata multitasking itu tak selalu baik. Yang dikorbankan biasanya kualitas pekerjaan dan kedalaman. Multitasking hanya cocok untuk pekerjaan sederhana dan otomatis, tapi tak cocok untuk pekerjaan yang membutuhkan durasi lama dan kualitas tinggi.

    Dalam riset, ternyata multitasking itu “boros energi” dan membutuhkan waktu lebih banyak untuk menyelesaikan dibandingkan pekerjaan monotasking yang dilakukan berurutan.

    Percobaannya sederhana: dihitung waktu untuk menyebutkan huruf Alfabet A-Z dan Angka 1-10,

    Penyebutan secara berurutan Alfabet dulu, baru angka membutuhkan waktu sangat cepat.

    Sebaliknya, ketika penyebutan alfabet diselingi dengan angka: A, 1, B, 2, C, 3, dst, waktu yang dibutuhkan 3x lipat.

    Jadi, sebenarnya banyak “waktu transisi” yang terbuang dan butuh lebih banyak energi untuk fokus lagi mengerjakan sebuah pekerjaan jika terjadi perpindahan yang terlalu sering. Apalagi jika jenis pekerjaannya membutuhkan konsentrasi tinggi seperti membaca, menulis, berhitung, pekerjaan terkait mesin dan orang lain (diskusi, presentasi, mengobrol, dll).

    Saya dulu mengira multitasking itu tak terelakkan dan harus dilakukan supaya lebih produktif. Setelah saya mencoba monotasking, ternyata kualitas pekerjaan dan produktivitas saya justru lebih baik.

    Silakan kakak bereksperimen antara multitasking dan monotasking, kemudian direfleksikan. Dilihat mana yang lebih produktif dan berkualitas.

    in reply to: Podcast Jika Memutuskan Homeschooling #6498
    Aar
    Keymaster

    Pagi kak @utami.fk

    Terima kasih pertanyaannya.

    Usia 5 tahun 6 bulan ini ada di perbatasan antara akhir usia dini dan menjelang usia sekolah.

    Usia Dini dan Usia Sekolah memiliki pendekatan yang sangat berbeda.

    • Kebutuhan Usia Dini adalah kematangan psikologis (rasa aman & nyaman), tumbuh kembang anak, dan membangun kebiasaan baik.
    • Kebutuhan Usia Dini mulai masuk ke wawasan pengetahuan dan keterampilan, dengan tetap membangun kebiasaan baik anak.

    Idealnya kakak daftar Kelas Lengkap yang penuh fasilitas (termasuk webinar psikolog, parents club, aneka premium printables, dll).

    Tapi jika kakak ingin mendaftar kelas satuan, untuk kepentingan 1 tahun ke depan prosesnya bisa dimulai dari:

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Audit Diri #6500
    Aar
    Keymaster

    Kak @Dhita

    Boleh kak. Pilihan aksi memang tidak harus mengisi 4 alokasi waktu.

    Pilih yang paling sesuai dengan kondisi kakak. Jika kakak hanya ingin membangun kebiasaan baik di pagi hari, dipersilakan.

    in reply to: Audit Diri #6501
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @Dhita

    Pilihan jumlah kegiatan 3-5 itu kami ambil sebagai alat pandu. Jika kakak ingin menyederhanakan sehingga jumlahnya kurang dari 3, tidak apa-apa.

    Untuk menambahkan kesadaran, prosesnya sebaiknya dimulai dengan mengenali alasan kakak memilih aksi tersebut (jurnal hal 16)

    in reply to: Podcast Tips Project-based Learning #6504
    Aar
    Keymaster

    Semangat kak! 🤩 ☀

    in reply to: Podcast Peluang Homeschooling #6505
    Aar
    Keymaster

    Bagus refleksinya kak @rara.fatima

    Pengalaman kakak bisa menjadi cermin dan sumber empati saat menemani proses-proses anak yang memiliki karakter mirip. Fokus pada proses bertumbuh yang sesuai dengan anak, bukan kekhawatiran kita dan orang lain.

    Kesimpulan kakak sudah benar.

    Berikan ruang dan waktu anak memilih teman yang cocok dengannya. Yang sudah akrab dikuatkan.

    Semakin anak merasa nyaman dengan dirinya, dia akan semakin berani mencoba meluaskan lingkarannya (jika dirasa dibutuhkan). Dalam konteks anak introvert, kebutuhan pertemanan bukan terletak pada jumlah teman tapi kualitas pertemanan.

    Untuk menambah kepercayaan diri, yang perlu dilatih adalah keterampilan komunikasi anak. Jika dia terampil, dia tak ada masalah berkomunikasi dengan siapapun jika dibutuhkan.

    Semangat kak! 🤩

    in reply to: Podcast Peluang Homeschooling #6514
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @rara.fatima

    Kebutuhan anak introvert adalah space & time (ruang & waktu). Dia butuh waktu lebih lama untuk merasa nyaman dengan orang lain.

    Penjelasan kak Rara menunjukkan bahwa anak memang membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan situasi baru, termasuk bersama sepupu-sepupunya.

    Hal pertama yang perlu dilakukan adalah: jangan memaksa anak untuk main dan bergaul dengan orang lain.

    Jika anak masih ingin melihat saja kehebohan sepupu-sepupunya, biarkan saja. Jangan didorong dan dipaksa. Kalau orangtua merasa nyaman, anak juga akan merasa nyaman. Kalau orangtua terus mendorong, itu justru akan membuat anak merasa insecure.

    Yang kedua adalah melatih keterampilan sosial: bisa berkomunikasi dengan jelas, bertanya, mengobrol, presentasi, dll. Proses utama bersama orangtua. Proses lain adalah stimulasi terkait kepentingan mereka, misalnya: transaksi ke warung/supermarket.

    Yang ketiga, anak memang perlu dipaparkan secara bertahap dengan orang lain. Tapi sekali lagi harus dengan suasana nyaman yaa.. bukan justru menambah rasa insecure anak.

    Yang keempat dan paling penting. Orangtua perlu belajar menerima diri introvert dan tidak ingin mengubah anak menjadi bentuk yang berbeda. Anak introvert punya kekuatan, tapi bukan di aspek pergaulan sosial yang sifatnya umum. Asahlah kekuatan anak introvert yang biasanya terkait dengan diri sendiri (bukan dengan orang lain): menggambar, memasak, bikin karya apapun yang tidak harus tergantung pada orang lain. Untuk anak usia 3 tahun, prosesnya masih panjang kak.. so, take it easy.

    Pertanyaan reflektif untuk kakak yang merasa introvert:

    • bagaimana cara kakak melatih keterampilan sosial yang membuat kakak bisa berhubungan dengan orang lain jika dibutuhkan?
    • apa kekuatan yang kakak miliki sebagai orang introvert?

    Jika kakak merasa nyaman sebagai introvert, kakak akan bisa berempati dan membantu anak menjadi introvert yang merasa nyaman dengan dirinya sendiri.

    in reply to: Audit Diri #6515
    Aar
    Keymaster

    Selamat mencoba dan bereksperimen kak @sylvia.hariwaty 🤩

    in reply to: Podcast Tips Project-based Learning #6516
    Aar
    Keymaster

    Kak @nia.purnama

    Sangat boleh, kak.

    Secara konseptual, PBL memang memiliki bentuk-bentuk terstruktur. Konsep ini biasanya dilakukan dalam konteks kelas. Karena ada constraint: durasi dan frekuensi pertemuan, relasi guru-murid yang bersifat formal, proses PBL biasanya lebih kaku dan jelas.

    Dalam konteks keluarga, proses-prosesnya bisa lebih cair.

    Yang penting menjadi pegangan orangtua adalah:

    • direction-nya menuju kemandirian anak (terampil menentukan tujuan, mengelola proses, dan melakukan refleksi).
    • kegiatan memanfaatkan dunia nyata dan bermakna bagi anak
    • tujuan antara bisa beragam: memaparkan pengalaman, membangun kecintaan. melatih stamina, dll.

    Di lapangan, banyak variasi kegiatan dan proses2 yang bisa dilakukan. Bentuk-bentuknya juga bisa sederhana dan kompleks.


    Jadi, maju terus kak!

    in reply to: Audit Diri #6523
    Aar
    Keymaster

    Betul kak @sylvia.hariwaty

    Blocking time itu bermanfaat untuk melatih kita fokus. Durasinya bisa kita latih sesuai kekuatan otot fokus kita.

    Tentang pengaturan waktu, salau saya bikinnya cycle harian kak, biar nggak stress dan lebih mudah dikelola.

    Saya juga tidak menetapkan isi kegiatannya apa supaya bisa lebih fleksibel. Jadi yang dilatih adalah kemampuan fokusnya dulu.

    Kegiatan yang saya pastikan hanya 2 bagian: sebelum tidur dan sesudah bangun (hingga mulai bekerja).

    in reply to: Pengembangan Keterampilan Personal #6524
    Aar
    Keymaster

    Betul kak @Ita

    Dalam kehidupan ini ada aspek: perlu & suka. Anak-anak perlu mengenal dua-duanya agar hidup mereka bisa berjalan baik.

    Terkadang kita harus melakukan hal yang perlu dilakukan, bukan yang suka kita lakukan. Contoh sederhana adalah membayar pajak, mencari SIM, membuat paspor, kegiatan di lingkungan tetangga, dan lain-lain.

    Kuncinya memang menceritakan “why” kepada anak-anak agar mereka memahami dan tidak suka-suka karena itu bisa menyulitkan kehidupan mereka sendiri.

    in reply to: Audit Diri #6527
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Sylvia,

    Kebiasaan baik berarti kegiatan yang ingin kita lakukan setiap hari yang akan memberikan pondasi/kekuatan/energi pada keseharian kita sehingga menjadi lebih terkelola.

    Hari optimal bisa ada durasi, bisa juga tidak ada durasi. Hari optimal adalah harapan yang kita lakukan.

    Kebiasaan baik itu *diturunkan dari* harapan kita terhadap hari yang optimal. Milihnya jangan banyak-banyak, antara 3-5 kebiasaan baik.

    Misalnya, salah satu kebiaaan baik yang ingin dibangun adalah melakukan olahraga/yoga di pagi hari.

    Supaya bisa terlaksana menjadi kebiasaan, kakak perlu menuliskan durasi yang diharapkan: misalnya 20 menit dan durasi minimal 1 menit.

    Mengapa perlu durasi minimal? Supaya kita mudah berhasil dan tidak mudah merasa gagal.

    Jika dalam hari itu kita stretching sebentar 1 menit sambil masak, itu sudah masuk olahraga dan berhasil.

    Tentang pertanyaan ke-2: blocking time & cycle.

    Saya mengatur waktu dalam kelompok2 satuan. Satu satuan waktu idealnya 30 menit melakukan sebuah hal tanpa distraksi. Saya akan berusaha memaksa diri untuk tidak beralih kegiatan dalam 30 menit. Setelah 30 menit, saya baru beristirahat atau melakukan hal lain.

    Durasi 30 menit itu bisa diganti lebih kecil.

    Saat ini saya memakai blocking time 10 menit tanpa distraksi. Saat berkonsentrasi kegiatan 10 menit, saya berusaha fokus. Kegiatan baru beralih jika durasi blocking time 10 menit itu selesai. Setelah 10 menit saya istirahat 5 menit atau melakukan kegiatan bebas lain. Setelah itu kembali fokus 10 menit. Ini yang disebut 1 cycle.

    Nah, dalam 1 hari saya menentukan target personal 10 cycle. Itu berarti, dalam 1 hari saya minimal harus bisa bisa fokus 10 menit x 10 cycle. Jadi, dalam 1 hari saya berharap bisa benar-benar fokus bekerja 100 menit atau kurang 2 jam. Selebihnya kegiatannya mungkin acak atau gonta-ganti menyesuaikan dengan kondisi.

    Demikian kak, semoga menjawab.

    in reply to: Pengembangan Keterampilan Personal #6528
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @Ita

    Tentang materi belajar dan proses belajar anak, kita perlu kembalikan pada substansi dan tujuan-tujuannya.

    Tujuan pendidikan adalah untuk memberikan bekal hidup untuk anak-anak kita, baik saat ini maupun di masa depan.

    Materi belajar dan kegiatan belajar disusun berdasarkan analisis tentang kebutuhan: “apa sih yang butuh dipelajari anak-anak untuk bekal mereka?”

    Dalam sistem pendidikan secara umum, ada beberapa hal yang dinilai sebagai pondasi penting untuk berbagai bekal penting anak, antara lain: literasi.

    Mengapa literasi penting? Karena dia menjadi bekal untuk proses belajar banyak hal yang lain.

    Nah, seiring waktu, berkembang format2 materi belajar yang bisa digunakan anak, salah satunya video.

    Pertanyaannya: apakah video saja cukup untuk bekal hidup anak? Apakah semua materi pengetahuan/kehidupan selalu ada dalam bentuk video? Bagaimana jika ada materi yang tidak ada dalam format video?

    Pertanyaan itu yang perlu dijawab oleh kakak.

    Karena aspek pengetahuan itu sangat luas dan media belajar beragam, dalam pendapat saya anak tetap perlu terampil membaca teks.

    Keterampilan berbeda dengan kesukaan. Terampil berarti bisa melakukan dengan baik (jika dibutuhkan). Suka berarti preferensi atau kecenderungan.

    Artinya, jika suatu saat anak dibutuhkan untuk membaca dokumen yang panjang (misalnya dokumen legal), dia tetap bisa melakukannya. Tapi untuk yang sifatnya pilihan dan ada video yang tersedia, tentu saja pilihan menonton video tak masalah.

    Kondisi ini serupa dengan matematika. Mungkin anak tidak suka berhubungan dengan angka, tetapi dia tetap perlu memiliki keterampilan basic terkait logika dan matematika karena itu dibutuhkan untuk bekal hidup sehari-hari, misalnya melakukan transaksi dan memahami realitas dalam bentuk kuantitatif.

    Demikian kak, semoga membantu.

Viewing 15 posts - 421 through 435 (of 766 total)
Scroll to Top