Forum Replies Created

Viewing 15 posts - 436 through 450 (of 766 total)
  • Author
    Posts
  • in reply to: Pertanyaan mengenai HSUD #6534
    Aar
    Keymaster

    Kak @catherine.kusnadi

    Proses-proses yang terjadi di rumah berbeda dengan di sekolah karena kondisi alamiahnya memang berbeda. Jika dibuat seperti sekolah yang terjadwal ketat mungkin bisa, tapi akan sangat berat dijalani, kak. Anak sulit dipaksa mengikuti jadwal saat di rumah.

    Oleh karena itu, guideline kurikulum seperti berusaha kami sederhanakan menjadi Parameter Perkembangan Anak supaya lebih mudah diadaptasi.

    Jenis kegiatan hariannya bisa disesuaikan dengan konteks keluarga, anak, dan kondisi yang paling memungkinkan.

    Semangat menjalin bonding & connection ya kak.. juga melakukan stimulasi sesuai tumbuh kembang anak.

    in reply to: Audit Diri #6538
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @novi

    Hasil audit awal tidak perlu dikirim ke mana-mana, kak. Itu untuk kakak.

    Sebagian besar proses yang terjadi dalam audit diri ini untuk kepentingan diri sendiri. Hasilnya disimpan untuk sendiri dan tidak dibagikan.

    Nanti ada hal2 yang perlu dibagikan secara anonim untuk jadi penyemangat diantara sesama peserta dan supaya bisa saling belajar.

    Semoga menjawab ya kak..

    in reply to: Audit Diri #6548
    Aar
    Keymaster

    Kak @sylvia.hariwaty

    Betul kak. Hari ideal adalah keseharian yang kita harapkan walaupun belum/jarang tercapai. Itu adalah harapan yang ingin kita tuju suatu saat nanti.

    Nah, untuk sampai ke kondisi ideal tersebut, kita perlu mengenali tantangannya dan membuat tangga-tangga prosesnya dengan membuat hari optimal (yang lebih realistis kita raih). Jika kita berhasil membangun kebiasaan yang membuat hari kita optimal, itu akan membuat langkah kita semakin dekat dengan harapan kita.

    Bentuk hari ideal, kenyataan, dan optimal bisa dalam bentuk checklist atau bersifat global. Jika berbentuk checklist, sebaiknya cukup global sehingga tidak menjadi patokan yang kaku.

    Semoga membantu.

    in reply to: Audit Diri #6549
    Aar
    Keymaster

    Wah, bagus sekali refleksinya kak @fikha.radhiita

    Orang lain dan pesan eksternal adalah trigger, cermin, dan alat bantu kita melakukan refleksi. Kita sendiri yang paling tahu kondisi kita dan paling bisa menemukan masalah inti dan solusi-solusi untuk kondisi kita sendiri.

    Tantangannya biasanya bukan karena kita tidak menemukan solusi personal untuk diri kita, tapi:

    • kita tahu solusinya, tapi kita kita ingin mencari solusi lain yang berbeda
    • kita ingin mendapatkan solusi yang lebih cepat & mudah
    • kita malas/takut/berat melakukannya
    • kita butuh validasi eksternal bahwa itu adalah solusi untuk kita

    Jika kita sering berlatih dan memiliki kekuatan hati untuk melangkah, Terkadang solusi kita membawa kita melangkah dengan jalan melingkar, tidak langsung, tapi sebenarnya itu bisa berjalan lebih berkelanjutan.

    Selamat bereksperimen, kak!

    in reply to: Audit Diri #6556
    Aar
    Keymaster

    Kak @fikha.radhiita

    Ada beberapa hal yang bisa dilakukan terkait dengan proses menentukan Hari Optimal.

    Spiritnya betul, yaitu mengurangi kesenjangan antara harapan ideal dan kenyataan. Seperti membuatkan anak tangga agar kita bisa bergerak dari kenyataan keseharian menuju hal yang ideal.

    Prosesnya bisa dengan:

    • Menata ulang waktu (mengatur durasi kegiatan, frekuensi, menata ulang jadwal)
    • Bisa juga mendefinisikan ulang kegiatan (yang terjadi tidak sesuai dengan kondisi kita). Prosesnya bisa dengan membagi kegiatan menjadi lebih kecil, membuat kegiatan berbeda dengan tujuan yang sama.

    Pengalaman kakak terkait dengan kebosanan dan konsistensi itu sangat wajar dan dialami oleh sebagian besar orang. Jadi, ini common problem dan tidak ada cara sederhana untuk menyelesaikannya karena keragaman konteks dan kerumitan diri kita sebagai manusia. Satu strategi yang berlaku pada seseorang belum tentu cocok dengan orang lain.

    Itulah pentingnya untuk lebih mengenal diri sendiri.

    Ada kondisi yang butuh dikuatkan (hingga akhirnya jadi kebiasaan), ada yang butuh istirahat (sebelum jalan lagi), ada yang butuh selingan (karena mudah bosan), ada yang butuh diperkecil (karena beban sekarang terlalu berat), dsb.

    Tidak ada solusi tunggal.

    Ketika kita tahu bahwa tubuh kita sudah bosan dan kelelahan setelah melakukan kegiatan 1 bulan untuk hal yang sama, maka kita perlu menerima itu. Alih-alih memaksakan untuk terus, mungkin kita perlu memakai strategi lain:

    • break… memutus siklus kebosanan (jika tubuh/mental tahu bahwa dia selalu punya waktu libur, resistensi bawah sadar kita biasanya akan berkurang).
    • mengubah jenis kegiatan (untuk tujuan yang sama)
    • mengubah pola agar tidak rutin dengan membuat selingan
    • Dll

    Yang kakak lakukan itu sudah bagus karena kakak mencoba mengenali respon tubuh/kebiasaan kakak.

    Proses selanjutnya yang perlu dilakukan adalah experimenting (melakukan percobaan) hingga akhirnya kita menemukan pola yang paling cocok dengan tubuh kita.

    in reply to: Audit Diri #6558
    Aar
    Keymaster

    Terima kasih kak @nia.purnama untuk pertanyaannya.

    Betul, bagian ini diprint/ditulis ulang sesuai dengan jumlah kebiasaan yang akan dibangun/diaudit.

    Sengaja kami jadikan 1 halaman supaya peserta bisa memilih jumlah kebiasaan yang ingin dilakukannya selama program ini.

    in reply to: Pertanyaan mengenai HSUD #6560
    Aar
    Keymaster

    Kak @catherine.kusnadi

    Terima kasih pertanyaannya.

    1. Apakah kakak sudah menonton dan mempelajari pembahasan tentang kurikulum HS Usia Dini di kelas: https://member.rumahinspirasi.com/courses/memulai-homeschooling-usia-dini/lessons/kurikulum-homeschooling-usia-dini/?
    Di materi itu saya jelaskan cara berpikir orangtua dan sampel2 kurikulum yang bisa digunakan.

    2. Dua-duanya bisa. Orangtua bisa menjalani proses berjadwal atau spontan.

    Karena rumah berbeda dengan sekolah, kegiatan paling umum dilakukan adalah yang bersifat spontan. Tapi terkadang orangtua suka bingung jika semuanya spontan, jadi orangtua merasa perlu membuat jadwal dan itu boleh-boleh saja. Fungsi jadwal adalah untuk orangtua, bukan untuk anak. Anda bisa atur jadwal setiap hari 30 menit berkegiatan bersama anak usai mandi dan sarapan.

    3. Suka tidak suka, anak melihat dan mengamati orangtua melalui kesehariannya. Itu terjadi kapan pun, Semua orangtua pasti mengalami kondisi ini karena tidak ada seorang pun diantara kita yang sempurna. Kami juga tidak sempurna dan punya banyak kekurangan. Yang bisa kita lakukan adalah menjadikan kesadaran kita sebagai pintu masuk untuk bertumbuh.

    Raising childern, raising ourselves. Mendidik anak, berarti mendidik diri kita sendiri. Kita perlu terus bertumbuh agar bisa semakin baik mendidik anak-anak kita.

    4. Pandemi memang menjadi masalah untuk semua orang, baik anak homeschooling maupun anak sekolah. Kita memang sedang berada dalam kondisi yang tidak normal dengan fokus untuk survival (yang utama adalah keamanan dan kesehatan). Jadi, kondisi ini perlu dimaklumi.

    Yang penting dilakukan adalah orangtua menguatkan kualitas interaksi dan komunikasi bersama anak. Banyak main dan berkegiatan bersama, termasuk jalan pagi, bersepeda atau olahraga bersama.

    Jika kondisinya sudah memungkinkan untuk berkegiatan di luar, nanti baru dipaparkan secara bertahap.

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Persiapan Awal Homeschooling Usia Dini #6561
    Aar
    Keymaster

    Wa’alaikum salam wr wb,

    Halo kak @miva.aziza

    Terima kasih pertanyaannya.

    Di era informasi yang sangat terbuka saat ini, salah satu tantangan orangtua adalah saat melihat praktek2 pengasuhan dan kehidupan orang lain. Juga cerita2 diantara pertemanan yang mendorong proses2 kompetitif yang tidak sehat untuk orangtua maupun anak.

    Orangtua bisa merasa insecure, takut salah/ketinggalan, dan kemudian mengambil pola2 pengasuhan yang kurang tepat.

    Kunci penting dalam proses pengasuhan usia dini adalah rasa aman dan tenang orangtua, yang kemudian ditransfer kepada anak melalui interaksi keseharian yang membahagiakan. Orangtua merasa nyaman dengan kehidupannya dan menerima kondisi anak apa-adanya, termasuk kekurangan-kekurangan yang mungkin dimiliki oleh anak.

    Goal utama dalam proses anak usia dini adalah:

    • membangun rasa aman dan nyaman anak yang buahnya adalah kepercayaan diri anak
    • membangun kemampuan-kemampuan dasar anak seperti terkait komunikasi & gerak fisik anak

    Dalam proses ini, kakak bisa memberikan porsi lebih besar pada area-area tertentu yang ingin diperbaiki, misalnya speech delay. Kakak bisa memperbesar porsi kegiatan mengobrol, membacakan buku, dan kegiatan lain terkait terapi wicara.

    Karena waktu yang dijalani sehari-hari panjang dan model HS Usia Dini bukan belajar materi akademik, kakak tetap bisa menstimulasi aspek lain pada anak-anak melalui kegiatan keseharian, termasuk kegiatan fisik dan stimulasi sensori.

    Yang penting kegiatannya dijadikan proses bermain dan bersenang-senang ya kak…

    Semoga membantu.

    in reply to: Podcast Tips Pengembangan Pembelajar Mandiri #6573
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @sarah.fauziyyah

    Kemampuan anak menyebutkan kegiatan yang diinginkan adalah hal yang baik. Ini adalah bagian dari stimulasi proses pengambilan keputusan.

    Hal lain yang perlu dilakukan orangtua adalah memperkaya pengalaman dan menambahkan variasi jenis kegiatan anak.

    Jadi tidak setiap saat Anda bertanya kepada anak, tapi Anda juga memperkenalkan kegiatan-kegiatan lain.

    “Kakak, yuk main xxx sama Bunda..”

    “Kakak, yuk bikin xxx bareng…”
    Dll

    Yang sekarang sudah bagus, kak.

    Variasi jenis kegiatan akan berkembang seiring bertambahnya usia dan pengalaman anak melakukan kegiatan lain.

    Jika ada kegiatan tertentu yang menurut Anda perlu dilakukannya, Anda bisa menawarkan dan mengajak anak (tidak perlu menunggu inisiatifnya).

    Demikian, semoga membantu.

    in reply to: Pengembangan Keterampilan Personal #6575
    Aar
    Keymaster

    Kak @nia.purnama

    Terima kasih atas sharingnya.

    Saya kebayang dinamika yang terjadi di lapangan dan tidak mudah untuk ditangani karena banyak sekali faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan yang tepat di lapangan.

    Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat?

    Ini juga agak tricky jawabannya karena kita tidak bisa memutlakkan sebuah keputusan karena ada dampak jangka pendek dan jangka panjang yang bisa jadi tidak selaras.

    Dalam jangka panjang baik, tapi dalam jangka pendek (saat itu) terjadi drama yang tidak mengenakkan.

    Atau sebaliknya, dalam jangka pendek anak senang tapi dalam jangka panjang membuat anak menjadi lemah.

    Lalu bagaimana?

    Ini sudah wisdom di lapangan dan semuanya perlu berproses dengan keputusan yang dibuat. Yang bisa kita lakukan bukan membuat keputusan sempurna, tetapi menyempurnakan keputusan yang sudah dibuat.

    Jika ada keputusan yang kurang tepat, kita terus merivisi dengan keputusan baru untuk membuat arah proses menjadi lebih baik.

    Begitulah kurang lebih dinamika proses pengambilan keputusan bersama anak-anak.

    Sekarang jawaban terhadap pertanyaan kak Nia.

    1. Menangani ketidaknyamanan

    Saat memberikan dukungan pada anak, biasanya alat kita adalah motivasi. Kita memberikan penyemangat pada anak agar mereka bisa lebih naik motivasinya untuk mengatasi masalah yang terjadi.

    Sebenarnya ada satu lagi alat yang bisa kita gunakan yaitu memberikan ruang bagi anak untuk mengelola ketidaknyamanannya. Jadi, alih-alih langsung masuk memberikan penyemangat dan masukan, kita memberikan ruang bagi anak untuk berproses. Kita memberikan rasa nyaman dengan makanan atau hal lain tanpa melalui kata-kata.

    Terkadang hal semacam ini sesuai dengan kondisi lapangan karena kemampuan anak mengelola emosinya sendiri juga adalah pelajaran penting baginya untuk terampil mengelola emosi.

    Mendorong anak tetap berkegiatan walaupun kondisinya tidak nyaman adalah bagian dari belajar berkomitmen. Tidak apa-apa, kak.

    2. Empati vs. Mendorong

    Ini juga agak tricky. Poin pentingnya biasanya ada 2:

    ~ anak tahu bahwa dia perlu belajar berkomitmen dan tidak hanya tergantung mood (poin ekspektasi ini perlu disampaikan ke anak dan dimengerti anak)

    ~ mencari solusi lapangan. Poin penting yang perlu jadi diskusi bersama anak untuk mengurangi drama adalah:

    • “Kamu tahu nggak tujuan kegiatan ini?”
    • “Mengapa kamu cemberut?”
    • “Gimana caranya supaya tujuan kegiatan tersebut (sehat, belajar komitmen, dll) tercapai dan kamu menjalaninya dengan happy?”
    • “Bunda sih tetap pengin kamu sehat dan belajar komitmen. Itu sudah pasti. Tapi Bunda juga pengin kamu happy dan tidak cemberut. Jadi bagaimana enaknya?”

    Demikian kurang lebihnya, kak.

    Semoga membantu.

    in reply to: Podcast Jenjang Kompleksitas Tematik #6577
    Aar
    Keymaster

    Kak @afrani.maulidiah

    Dalam proses HS, tugas orangtua adalah melakukan pengamatan kapasitas anak dan merancang kegiatan yang sesuai kapasitas anak.

    Tak apa jika anak masih melakukan proses di level 1, yang penting adalah terus bertumbuh.

    Kriterianya 3:

    • anak merasa nyaman dan percaya diri (karena bisa melakukan kegiatan)
    • anak semakin terampil karena sering melakukan
    • anak sedikit mengalami kesulitan karena ada hal baru yang ditambahkan

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Podcast Mindset Homeschooling Usia Dini #6579
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @nicesun

    Update ilmu parenting bisa dilakukan di mana-mana, kak. Kami tidak membatasi proses belajar parenting di sebuah tempat tertentu.

    Dan lain-lain.

    Semoga membantu.

    in reply to: Pondasi dan Arah Homeschooling Usia Remaja #6580
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Nia Rahman.

    Pandemi ini memang menyulitkan, baik untuk orangtua maupun anak-anak. Keterbatasan kesempatan melalukan kegiatan fisik memang membuat proses interaksi sosial dan kegiatan bertemu fisik menjadi tidak dilakukan.

    Lalu bagaimana?

    Yang pertama, fokus kita saat ini adalah survival. Yang penting bisa melewati pandemi dalam kondisi hidup dan sehat. Ini menjadi prioritas tertinggi kita. Vaksin adalah salah satu upaya kita untuk meningkatkan probabilitas survive, ditambah dengan menjaga prokes.

    Yang kedua, prioritas ketiga kita adalah kesehatan mental. Yang penting anak tidak depresi dan stress. Itu sangat penting. Apalagi kebutuhan anak muda adalah main dan bergaul, yang saat ini tidak memungkinkan untuk dilakukan. Orangtua perlu sering ngobrol dan memperkuat hubungan bersama anak. Orangtua perlu menurunkan ekspektasi terhadap prestasi. Anak dan keluarga perlu mencari kegiatan yang bisa menjadi sarana pelepasan tekanan emosi, seperti olahraga. Olahraga dan kegiatan fisik itu penting agar yang lelah bukan mental, tapi fisik kita.

    Yang ketiga, baru kita cari cara mengoptimalkan keseharian.

    Untuk kegiatan membangun keterampilan sosial memang sulit kak, terutama menemukan pertemanan-pertemanan baru yang intens. Cara yang paling memungkinkan saat ini adalah kegiatan online itu realitanya. Kegiatan offline hanya bisa dilakukan bersama keluarga.

    Jadi yang bisa kita lakukan adalah mengoptimalkan 2 hal tersebut:

    • offline bersama keluarga
    • online bersama orang lain

    Untuk kegiatan offline bersama keluarga, pastikan untuk membangun kegiatan yang sama-sama disukai, misalnya: memasak bersama, main boardgame, setiap hari ada momen doa bersama, olahraga bersama, dll.

    Untuk kegiatan online, maksimalkan kegiatan dan pertemanan lama yang sudah dimiliki.

    • Dalam pengalaman kami, yang membuat anak2 remaja kami survive secara mental saat ini adalah mereka punya lingkaran persahabatan lama yang sering video call bersama saat malam, main game online bersama, dll.
    • Anak kami memanfaatkan kegiatan lama yang dilakukan secara online yaitu Agora Public Speaking. Di kelompok itu mereka mengasah keterampilannya dan sekaligus mengobrol bersama teman-temannya dalam bahasa Inggris. Nah, apakah anak punya kegiatan lama yang online bersama sahabat2nya?
    • Anak juga bisa mengikuti kegiatan online untuk hal yang disukainya (bukan karena kewajiban). Dua remaja kami melakukan kegiatan berbeda: yang satu belajar bahasa baru (Mandarin), adiknya main catur dan mengikuti aneka turnamen catur online.
    • Proses lain yang perlu dilakukan adalah melakukan kegiatan produktif yang membuat anak merasa berharga dan produktif. Menjadi produktif itu bikin happy. Tata merasa produktif karena merintis bisnis Kreasita.com dan membuat video2 untuk IG Kreasita. Duta merasa produktif karena terus belajar catur bersama pelatih, mengikuti turnamen, dan memantau perkembangan kekuatan caturnya.

    Demikian kak. Memang yang diharapkan dan dilakukan tidak sempurna. Fokus utamanya memang masih menjaga kesehatan mental dan membuat anak2 tetap terhubung dengan teman2nya di luar. Kita perlu berlapang hati menerimanya sampai kondisi lebih memungkinkan untuk berkegiatan secara fisik.

    Semoga membantu.

    in reply to: Podcast Keragaman Sudut Pandang #6582
    Aar
    Keymaster

    Kak @juli.pujiati

    Dua hal tersebut (visi pendidikan keluarga & tujuan pendidikan) sebenarnya saling kait-mengkait.

    Visi pendidikan biasanya terkait harapan orangtua tentang pendidikan yang ingin/perlu dijalani anak.

    Sementara itu, tujuan pendidikan lebih bersifat umum, tidak hanya terkait dengan keluarga kita. Tujuan pendidikan terkait apa yang ingin diraih dalam proses pendidikan anak. Ada aliran yang ditetapkan oleh orangtua (berarti ada ideal2 yang diharapkan), ada aliran yang tidak menetapkan tujuan di depan dan lebih mengikuti perkembangan kondisi anak.

    Secara praktis, kakak bisa menggunakan pendekatan seperti ini:

    • kakak kenali harapan orangtua
    • kakak lakukan stimulasi dan merancang kegiatan untuk mewujudkan harapan orangtua
    • sambil berproses melakukan kegiatan bersama anak, kakak amati kondisi anak terkait pemenuhan harapan. Jika masih selaras, berarti baik. Tapi ada kalanya harapan kita terlalu tinggi atau tidak sesuai dengan kondisi lapangan.
    • Nah, ketika kondisi lapangan dan harapan tidak sesuai, ini yang menjadi titik kritis. Apakah kita gagal (karena harapan tidak tercapai)? Apakah kita bisa melakukan perubahan kegiatan/metode sementara harapan tidak berubah? Atau harapan kita ada yang kurang pas sehingga perlu direvisi dan disempurnakan (karena yang gagal itu hanya sebagian kecil dibandingkan keberhasilan2 lain yang tercapai)?

    Demikian kurang lebihnya.

    Semoga membantu dan memperjelas ya kak..

    in reply to: Podcast Legalitas Homeschooling #6587
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @annisya.handayani

    Terima kasih pertanyaannya.

    Negara yang tidak menerima ijazah Paket adalah Jerman. Untuk kuliah di Jerman ada pra-university. Untuk masuk S1 perlu ambil Studienkolleg yang mensyaratkan ijazah SMA.

    Untuk negara lain, ijazah Paket biasanya diterima sebagai tanda kelulusan SMA. Di luar ijazah, biasanya setiap juruan dan perguruan tinggi mensyaratkan hal lain, misalnya: TOEFL/IELTS, portofolio, surat rekomendasi, beberapa diantaranya mensyaratkan Cambridge A Level untuk beberapa mata pelajaran.

    Jika memang tertarik untuk kuliah di LN, yang perlu dilakukan adalah mencari informasi persyaratan yang dibutuhkan untuk mendaftar karena setiap jurusan/PT berbeda-beda persyaratannya.

    Di lingkaran kami saat ini ada anak HS yang punya ijazah Paket C dan kuliah Arsitektur di Praha. Dia bisa diterima kuliah dengan modal portofolio karya-karya yang dibuatnya saat magang di perusahaan.

    Demikian kak, semoga menjawab.

Viewing 15 posts - 436 through 450 (of 766 total)
Scroll to Top