Forum Replies Created

Viewing 15 posts - 451 through 465 (of 766 total)
  • Author
    Posts
  • in reply to: Podcast Jenjang Kompleksitas Tematik #6589
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @ipop.purintyas

    Terima kasih pertanyaannya.

    Ada kondisi2 ideal di mana sebuah proses belajar bisa dikolaborasikan dan semua tujuan bisa diraih. Tapi ada kalanya kita perlu melakukan pendekatan-pendekatan paling masuk akal dan bisa kita lakukan. Kita perlu mengenali tema2 yang bisa dilakukan dengan beragam gaya belajar. Tapi ada kalanya sebuah tema tidak bisa.

    Dengan kata lain, kita mencari titik optimal.

    Dalam pengalaman keluarga kami, gaya belajar itu hanya menjadi background pengetahuan orangtua tapi tidak menjadi hal utama dalam pertimbangan kami merancang kegiatan untuk anak. Kami sering mendorong anak untuk mencoba melakukan hal yang perlu dilakukannya agar dia semakin fleksibel dan lentur dalam proses belajarnya.

    Yang utama, proses belajar harus manageable, bisa terkelola. Perlu ada kompromi-kompromi yang dilakukan. Kalau tidak, nanti kita kusut.

    Mari kita ambil 1 contoh, misalnya belajar tema makanan, ambil contoh pizza.

    Apa tujuan kita belajar dengan tema pizza?

    Dari tema pizza, anak antara lain bisa belajar tentang:

    • Sejarah pizza
    • Menggambar & mewarnai pizza
    • Cara membuat pizza
    • Mencari tutorial pizza
    • Berbelanja bahan untuk membuat pizza
    • Menulis resep pizza
    • Membuat pizza bersama

    Kegiatan semacam ini bisa dilakukan berdua untuk anak usia 13 tahun dan 7 tahun.

    Kenali proses yang bisa dilakukan oleh anak usia 13 tahun dan apa yang bisa dilakukan oleh anak usia 7 tahun. Juga kegiatan yang bisa dilakukan bersama.

    Anak usia 13 tahun bisa:

    • melakukan riset tentang pizza
    • membuat silde tentang pizza
    • presentasi tentang pizza
    • mencari tutorial tentang pizza
    • menulis resep pizza

    Anak usia 7 tahun bisa:

    • menggambar pizza
    • mewarnai pizza
    • menonton tutorial membuat pizza
    • menceritakan ulang video yang ditonton
    • menulis resep pizza (jika anak sudah bisa menulis)

    Bersama-sama:

    • berbelanja bahan pizza
    • membuat pizza bersama

    Jika Anda merasa secara teknis ada yang perlu disesuaikan dengan kecenderungan cara belajar anak, prosesnya bisa ditambahkan.

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Podcast Kepedulian pada Kualitas #6594
    Aar
    Keymaster

    Kak @endang.sinulingga

    Semua proses berlangsung bertahap, ditingkatkan selangkah demi selangkah seperti naik tangga.

    Kepedulian terhadap kualitas dibangun setelah sebuah kegiatan/keterampilan sering dilakukan anak.

    Jadi, urutannya kurang lebih seperti ini:

    1. Anak mau melakukan

    Anak mau mencuci piring tapi belum bersih. Orangtua mengapresiasi kesediaan anak terlibat. Orangtua tidak mengkritik dan tidak memberikan masukan. Yang penting anak mau dan semakin mengetahui prosedur/cara mencuci piring. Jika kurang bersih, orangtua bisa mengulang mencucinya (tanpa sepengetahuan anak). Ini bagian dari proses membangun keterlibatan dan kepercayaan diri.

    Tanda: anak mau melakukan dan bisa melakukan dengan mudah

    2. Petunjuk kualitas

    Setelah beberapa kali mencuci, tunjukkan pada anak teknik mencuci yang baik. Jelaskan juga cara mengecek hasil cucian sebagai tanda bersih. Berikan contoh, minta anak melakukan dan berikan masukan cara kerja dan hasil kerja anak hingga anak mengerti dan bisa melakukannya sendiri.

    Berikan kesempatan anak melakukan sendiri.

    Tanda: anak mulai tahu teknik dan standar kualitas, sering mencuci dengan benar

    3. Masukan

    Jika Anda menemukan piring yang belum bersih dicuci anak, ajak anak melihat hasilnya kerjanya. Minta anak mengecek piring kering untuk menguci apakah dia bisa mengenali perbedaan piring bersih dan masih belum sempurna kebersihannya. Ajari dan temani untuk meningkatkan kualitas.

    Langkah ketiga ini mungkin terjadi beberapa kali. Saat menemui kondisi ke-3, pastikan untuk mengapresiasi hasil bersih yang sudah dilakukan dan masalah yang terjadi adalah anomali (hanya terjadi sesekali).

    Tanda: anak semakin terampil dan hasilnya bersih.


    Jadi prosesnya bertahap, kak.

    Proses penting adalah mengenali anak ada di tahapan yang mana saat ini. Selalu utamakan apresiasi, menjaga kepercayaan diri anak, dan secara bertahap meningkatkan kualitas proses dan hasil pekerjaannya.

    Demikian, semoga membantu.

    in reply to: Podcast Pendidikan 4.0 #6596
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @endang.sinulingga

    Terima kasih atas feedback dan ketelitian-nya.

    “The illiterate of the 21st century will NOT be those who cannot read and write…”

    🙏

    in reply to: Praktik GBL: Code Avenger #6605
    Aar
    Keymaster

    Sama-sama kak @Ita
    Semangat untuk terus berproses marathon bersama anak-anak.

    in reply to: Praktik GBL: Code Avenger #6607
    Aar
    Keymaster

    Kak @Ita

    Pendidikan adalah proses marathon, jangka panjang. Proses-proses yang terjadi perlu memperhatikan keberlanjutan dalam jangka panjang. Dan salah satu aspek penting untuk menjaga keberlanjutan jangka panjang adalah kesehatan.

    Kesehatan menempati prioritas utama dalam keseharian. Ini yang perlu jadi kriteria keputusan kakak.

    Membantu anak mengambil keputusan dan membiasakan gaya hidup yang sehat juga penting. Anak punya pengalaman kegiatan fisik dan keterampilan lain yang penting untuk hidupnya.

    Passion itu baik, tapi bukan segalanya. Pekerjaan jika dituruti tidak akan pernah ada habisnya. Tapi tubuh kita butuh istirahat dan ada banyak urusan lain dalam kehidupan yang juga perlu diselesaikan.

    Di sinilah tugas orangtua untuk membantu anak mencari balance.

    Jelaskan pada anak kriteria penting Anda dan diskusikan aturan mainnya.

    Jangan menyerah dan menuruti anak hanya gara2 “nanggung”. Ini akan terbawa dalam gaya hidup yang bisa merusak kualitas kesehatan dan kehidupan personal anak. Anak juga perlu belajar self-management.

    Jadilah orangtua yang memfasilitasi, sekaligus kuat & bijaksana.

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Podcast Materi Tambahan HS Usia Dini #6609
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @feni.widya

    Manusia itu memang kompleks. Banyak sekali aspek yang mempengaruhi sikap, baik terkait nature (bawaan) maupun nurture (stimulasi eksternal).

    Yang berada dalam kontrol kita adalah aspek nurture. Ini yang perlu kita maksimalkan sesuai perkembangan pengetahuan yang kita ketahui.

    1. Rasa nyaman tanpa kata

    Dalam rangka membangun rasa aman dan nyaman pada anak, yang bisa ditambahkan oleh kak Feni adalah memberikan affection yang bukan verbal untuk memberikan rasa aman dan nyaman. Berikan sentuhan fisik lembut yang memberikan rasa nyaman.

    Perbanyak peluk, cium, usapan di kepala, sentuhan di bahu yang memberikan rasa nyaman. Tanpa kata-kata dan tanpa harapan apapun.

    Ibu cuma mau bilang “sayang sama kakak!”

    2. Memberi ruang lebih luas

    Jika anak bersikap defensif, itu adalah pertanda bahwa dia tidak nyaman dan mungkin dia merasa kita masuk terlalu dalam (setiap orang punya batas kenyamanan yang berbeda-beda). Jadi kitalah yang perlu menyesuaikan diri dengan “mundur”.

    Cara mundur adalah dengan mengurangi pertanyaan, tapi memberikan rasa nyaman tanpa kata-kata.

    “Kapan pun kamu mau bercerita, Bunda siap mendengarkan.”

    Perbanyak diam dan mendengarkan. Ketika anak bercerita, dengarkan dan terima saja.

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Konsep Dasar tentang Pembelajar Mandiri #6611
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @Manda

    Betul sekali, kita dipengaruhi oleh nilai-nilai dan pengalaman hidup yang pernah kita jalani.

    Tak ada cara instan untuk mengubah budaya lama.

    Yang bisa kita lakukan adalah terus membangun upaya sadar untuk menggeser nilai-nilai:

    1. Dari kepatuhan ke logika

    Jelaskan alasan mengapa sebuah hal dilakukan. Mengapa itu penting bagi anak? Apa manfaatnya bagi anak? Apa yang perlu dilakukannya

    2. Dari kepatuhan ke kemandirian

    Geser tujuan Anda dari menuntutkan kepatuhan anak menjadi proses membimbing anak agar mandiri. Anak yang terbiasa patuh, akan mencari orang yang dipatuhi di luar. Anak yang terbiasa mandiri akan terampil menjaga dirinya di luar.

    3. Perbanyak mengobrol, bertanya, dan mendengarkan

    Secara sadar, mulai bangun pola komunikasi yang lebih horizontal. Perbanyak mengobrol tentang hal2 yang remeh tanpa memberikan nasihat. Obrolan tentang makanan kesukaan, cuaca, film, buku, cuaca, binatang, dll.

    Perbanyak bertanya dan menunggu anak menjawab. Belajarlah untuk mendengarkan jawaban/cerita/pendapat anak dengan antusias tanpa menghakimi.

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Podcast Lima Tahap Perkembangan #6612
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @Manda

    Terima kasih pertanyaannya.

    Isunya bukan sekadar senyum, tapi lebih mendasar lagi. Anak perlu menemukan makna mengapa mereka perlu melakukan itu. Orangtua juga perlu bersabar dalam proses yang baru saja dicoba beberapa hari.

    1. Penjelasan tentang perubahan

    Ketika Anda mengajak anak melakukan pekerjaan rumah, itu berarti ada hal baru yang berbeda dengan sebelumnya. Mengapa dulu tidak pernah diminta melakukan pekerjaan rumah? Mengapa sekarang harus mengerjakan pekerjaan rumah yang merepotkan?

    Anda perlu menjelaskan logika di kepala Anda alasannya dan apa untungnya buat anak (bukan buat orangtua) dengan melakukan pekerjaan rumah tangga.

    2. Mulai dengan hal terkait langsung dengan anak

    Jangan mulai dari beban dan kewajiban, tapi mulai dengan peran mereka membantu sebuah hal yang terkait dengan kepentingan hidup mereka.

    Contoh: ajak anak membantu proses terkait memasak/laundry. Peran anak membantu. Saat anak mengeluh karena berat, bantu anak membangun logika:

    “Memasak itu memang repot. Kalian perlu belajar memasak supaya kalian bisa menghargai makanan yang ada di meja bahwa ada orang (Bunda) yang repot dan capek menyiapkannya.”

    “Kalau kalian belajar memasak, kalian nanti kalau sekolah di luar negeri akan enak. Kalian terbiasa mandiri dan terampil mengurus diri sendiri.”

    “Kalau kalian terampil memasak, kalian akan survive di manapun. Kalian bisa masak makanan kesukaan kalian sendiri. Kalian bisa bersenang-senang melalui makanan.”

    Itu dulu mulainya, kak. Bantu anak memahami mengapa mereka perlu melakukannya, apa manfaatnya dan di mana asyiknya.

    Jangan langsung ke kewajiban dan dirasakan sebagai beban. Tidak ada seorang pun yang suka menerima tambahan beban walaupun diucapkan dengan kata-kata yang manis.

    Semoga membantu.

    in reply to: Podcast Apa Itu Pembelajar Mandiri #6613
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @Manda

    Terima kasih pertanyaannya.

    Proses perubahan dari bersekolah ke HS membutuhkan proses transisi, baik untuk anak maupun orangtua.

    Transisinya meliputi transisi budaya dan transisi legal.

    Transisi budaya berkaitan dengan perbedaan budaya dari kebiasaan bersekolah dan menjalani homeschooling.

    Yang paling terasa adalah, saat anak bersekolah semuanya sudah diatur oleh sistem, anak tidak perlu (bahkan tidak boleh) berinisiatif, semua materi belajar dan cara belajar, juga waktu belajar sudah ditentukan.

    Ketika menjalani HS, semua keharusan dan larangan itu tiba2 menjadi fleksibel. Ini menimbulkan perbedaan budaya yang perlu difahami.

    Orangtua pun butuh melakukan perubahan budaya terkait memaknai belajar. Belajar bukan hanya tentang mata pelajaran dan seperti di sekolah (pakai buku, worksheet, ujian, dll), tetapi terkait dengan semua aspek keseharian dan kehidupan.

    1. Deschooling

    Masa transisi ini disebut deschooling. Anak merasa libur dan butuh proses beradaptasi dengan sistem belajar baru yang lebih natural dengan kondisi rumah.

    Dalam proses deschooling biasanya terjadi kekacauan dan orangtua merasa panik karena anak tidak belajar (seperti di sekolah). Proses transsisi anak kelas 4 SD bisa sekitar 4-8 bulan, bisa lebih cepat atau lebih lambat.

    Dalam proses transisi ini, orangtua perlu lebih tenang dan mendampingi anak menemukan cara belajar. Orangtua perlu melepaskan dulu dengan proses belajar ala anak sekolah (berbasis pelajaran). Orangtua bisa mulai dari kursus/les yang disukai anak, misalnya: bahasa asing, musik, seni, dll. Belajar dimulai dari proyek yang disepakati. Belajar menjalani setiap hari dengan baik (tidak hanya nonton Youtube & main game).

    Jika anak sudah mulai menikmati kegiatan kesehariannya, seiring waktu baru ditambahkan kegiatan belajar lain sesuai kesepakatan.

    2. Transisi

    Dalam masa transisi, sebaiknya kesepakatannya terletak pada kualitas proses, bukan target hasil. Sepakati durasi kegiatan dan komitmen, sebelum pindah ke kegiatan lain. Anak belajar menekuni sebuah kegiatan dalam bimbingan orangtua.

    Jika durasi yang disepakati sudah diselesaikan, baru boleh pindah kegiatan lain.

    Dalam proses ini, penting sekali orangtua untuk melapangkan hati dan menemani proses anak yang masih dalam transisi dari model sekolah (yang serba harus) menjadi HS (yang serba boleh). Anak belajar memilih, menikmati kegiatan, dan secara bertahap belajar berkomitmen.

    Demikian, semoga membantu.

    .

    in reply to: Podcast Prinsip Dasar Homeschooling Usia Dini #6614
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Dedeh,

    Terima kasih pertanyaannya.

    Saya belum memahami konteks dari pertanyaan ini.

    Mengapa anak usia 3 tahun mau masuk klub sepatu roda? Apa tujuan yang hendak diraih? Apa jenis kegiatan yang dilakukan di klub sepatu roda untuk anak usia 3 tahun?

    Ketika memfasilitasi kegiatan anak usia dini, poin penting yang perlu dilihat adalah:

    1. Keamanan & kesehatan
    pastikan kegiatan aman dan tidak membahayakan anak, baik secara fisik maupun mental

    2. Kesesuaian dengan perkembangan anak
    Dalam kaitan dengan olahraga, setiap jenis olahraga mensyaratkan kesiapan fisik pada organ tubuh tertentu. Untuk anak usia dini proses stimulasi motorik kasar yang dilakukan biasanya bersifat umum, misalnya: berjalan, berlari, melompat, naik tangga, berguling, dll. Apakah fisik anak sudah sesuai untuk melakukan kegiatan sepatu roda?

    3. Pola kegiatan
    Anak usia 3 tahun masih memiliki rentang fokus terbatas, oleh karena itu pola umum kegiatannya bersifat tidak formal. Anak mencoba sesuatu dan bersenang-senang.

    Demikian kurang lebihnya, kak.

    Semoga membantu.

    in reply to: Podcast Peluang Homeschooling #6618
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @ingrid.siahaan

    Bagaimana mengelola keseharian yang pas?

    Sebenarnya tidak ada teknis yang pas karena setiap keluarga punya harapan dan pola kegiatan unik. Kunci penting dalam mengelola keseharian proses HS adalah:

    • mengelola harapan orangtua
    • mencari pola yang sesuai dengan keluarga

    Untuk anak usia dini, sebenarnya prosesnya relatif ringan. Pegangannya adalah “Parameter Perkembangan Anak” yang bisa Anda unduh.

    Inti kegiatannya adalah:

    • Anak menjalani keseharian dengan happy
    • Anak belajar kemandirian (mandi, makan, minum, mengurus dirinya sendiri)
    • Membangun kebiasaan baik

    Jika ingin membangun disiplin, Anda bisa mulai dengan kegiatan yang terkait dengan kemandirian: bangun tidur, mandi, makan, pakaian, dan sikap keseharian. Termasuk disipling adalah anak2 bisa main sendiri/bersama tanpa bertengkar (itu berarti, Anda perlu menyediakan ruang dan materi2 siap pakai seperti kertas, alat tulis, balok, dan mainan siap pakai lain yang bisa dimainkan anak).

    Saat berkegiatan, fokus pada yang terbesar (6 tahun). Adiknya tidak perlu dibuatkan program khusus.
    Bangun pola yang sesuai dengan keluarga Anda, misalnya:

    • habis mandi berkegiatan bersama selama 30 menit bersama Mama, setelah itu mereka bebas (sediakan sarana untuk berkegiatan)
    • saat mereka bebas, Mama berkegiatan dengan urusan pekerjaan. Jika memungkinkan, libatkan mereka juga karena itu bisa jadi alat belajar. Anak membantu Mama dan Mama mengajak mengobrol terus mereka sambil mengerjakan urusan rumah.
    • kenalkan anak dengan jadwal kerja Mama. Kalau bisa ada tanda yang mereka kenal, semacam bendera atau yang lain. “Kalau Mama pegang komputer dan ada bendera ini, itu berarti Mama sedang bekerja. Kalian berkegiatan bebas. Kalian juga boleh nonton. Mama akan kerja. Kakak bantu jagain adik.”

    Jadi, yang dikelola adalah jadwal kita, bukan jadwal anak karena anak belum mengerti tentang jadwal. Targetnya diganti dengan menjaga kualitas kegiatan saat sedang bersama mereka. Jika hari itu anak menjalani kegiatan dengan bahagia dan prosesnya terkelola, itu berarti tanda keberhasilan.

    Tapi kalau kakak merasa butuh target, jadikan itu target orangtua, bukan target anak. Anak tahunya menjalani kegiatan dan pola yang dibuatkan orangtua.

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Podcast Legalitas Homeschooling #6619
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @ingrid.siahaan

    1. PKBM itu sangat lebar sekali kualitas layanannya. Secara umum rata2 kualitasnya lebih rendah dibandingkan sekolah. Jadi, memang butuh survey dan usaha mengecek layanan PKBM yang kita minati.

    Memilih PKBM isunya ada 2:

    • Legalitas PKBM. Pastikan PKBM sudah punya nomor NPSN (Nomor Pokok Sekolah Nasional) dan sudah terakreditasi. Cara cek di sini: https://referensi.data.kemdikbud.go.id/index31.php
    • Jenis layanan. Ada PKBM yang mirip sekolah, ada yang belajarnya fleksibel. Ada yang harus hadir fisik. ada yang tidak. Ada yang bikin rapor, ada yang tidak. Ada yang menyediakan tutor & modul belajar, ada yang tidak. Ada yang mahal, ada yang murah, ada yang gratis (biasanya PKBM negeri).

    Supaya fleksibel, pilihlah PKBM yang legal dan tidak mengharuskan hadir di lokasi dan memberikan fleksibilitas untuk keluarga.

    2. PKBM tidak harus di kota yang sama dengan tempat tinggal kita. Kami tinggal di Jakarta dan PKBM tempat bernaung anak ada di kota Salatiga (Jawa Tengah). Mengapa? Karena cocok saja dengan keluarga kami.

    3. Pendaftaran di PKBM mulai usia 7 tahun. Ujian Paket A paling cepat usia 12 tahun. Di PKBM tidak ada akselerasi. Jika anak sudah bisa menyelesaikan materi pelajaran sebelum 12 tahun, manfaatkan waktunya untuk lebih banyak mengembangkan minat dan bakatnya, juga menambah banyak pengalaman di dunia nyata misalnya travelling, bantu2 pekerjaan orangtua, mencoba bisnis, dll.

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Game-Based Learning #6623
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @Ita

    Jika anak sudah terlanjur menyukai game dan menjadi tidak terkelola, ini memang menjadi proses menantang bagi anak dan orangtua.

    Butuh proses yang lebih struktural menyangkut kebijakan terkait gawai dan game.

    Yang utama, lakukan diskusi bersama anak. Jelaskan ekspektasi Anda:

    “Mama tidak melarang kamu main HP, tapi kita perlu mengelola prosesnya supaya kamu tidak kecanduan main game dan bisa membuat hidupmu jadi kacau. Kamu mengerti?”

    “HP itu alat bantu. Kita tidak boleh tergantung hidup kita padanya. Jadi, kita perlu berlatih untuk hidup tanpa HP dan merasa biasa-biasa saja karena kita punya kehidupan lain yang juga kita lakukan.”

    “Ukuran yang dianggap baik adalah kamu punya banyak kegiatan dan ketertarikan lain di luar HP. Kamu tidak selalu memegang HP. Jika tidak memegang HP emosinya tetap stabil. Kamu bisa diminta tolong untuk membantu saat dibutuhkan.”

    “Supaya kita sama-sama enak, kita perlu bikin aturan main terkait HP. Kita akan melakukannya secara bertahap.

    Buatlah aturan main terkait HP yang Anda sepakati bersama. Jangan terlalu drastis dari kebiasaan.

    • – Kapan boleh pegang HP dan kapan tidak boleh. Atur waktunya.
    • HP digunakan untuk proses produktif yaitu belajar. Jam main game diatur tersendiri
    • Saat pegang HP untuk belajar duduknya di tempat terbuka (bukan di kamar)
    • Saat jam produktif tidak nonton Youtube dan tidak main game. Main game dilakukan xxx (buatlah kesepakatan bersama. Variasinya bisa macam2: setelah target selesai, hanya xx jam, weekend, dsb).
    • Jika tidak belajar, HP diletakkan di meja
    • Setelah jam 9 malam, HP diletakkan di meja

    Ini aturan dasar kita. Jika kamu main game di luar waktu, maka jatah main game weekend dikurangi. Dalam kondisi terpaksa, HP juga bisa dicabut dan anak sama sekali tak memakai.

    Proses semacam ini terkadang diperlukan. Anak jadi tidak belajar? Nggak apa2. Yang penting kesehatan mentalnya yang utama. Belajar bisa dilakukan di waktu lain dan bisa dikejar.

    Aturan main ini hanya contoh.

    Intinya diperjelas dan disepakati bersama anak.

    Yang terpenting adalah ditegakkan tanpa drama. Percuma marah2 kalau tidak ada aturan dasar yang disepakati dan aturan tidak ditegakkan.

    Demikian kak, semoga membantu.

    in reply to: Podcast Ijazah Anak Homeschooling #6627
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @indrawati.i gusti ayu

    Terima kasih pertanyaannya.

    Proses pendaftaran PT di luar negeri berbeda dengan di Indonesia. Prosesnya berbeda-beda, jadi perlu dicek PT yang diinginkan.

    Pertama, ijazah Paket secara legal kedudukan hukumnya sama dengan Ijazah SMA. Jadi, ijazah Paket C bisa digunakan sebagai syarat administratif untuk proses mendaftar PT di LN yang menyaratkan ijazah SMA.

    Pastikan anak juga terdaftar di PKBM yang menerbitkan rapor (untuk berjaga). Pengingat ini kami berikan karena dalam sistem lama PKBM tidak membuat rapor, tapi hanya menerbitkan ijazahnya. Dalam sistem yang baru, PKBM harus menerbitkan rapor per semester dan masuk dalam Dapodik (Data Pokok Pendidikan). Tapi, kemungkinan masih ada PKBM yang mengikuti pola kerja lama.

    Kedua, PT LN biasanya mensyaratkan hal-hal lain misalnya tes TOEFL, portofolio karya, surat rekomendasi, tes lain (misalnya SAT), dll. Nah, proses mendapatkan ini sama dengan anak sekolah.

    Di sekitar kami, ada 1 anak HS yang kuliah Arsitektur di Praha menggunakan ijazah Paket C. Yang dilihat oleh PT-nya bukan ijazah, tapi portofolio karyanya. Kebetulan anak ini betul2 senang dunia arsitektur dan sudah beberapa kali magang (cari sendiri) di beberapa biro arsitek.

    Jadi, langkah awal yang perlu dilakukan adalah mengecek prosedur pendaftaran di PT yang dituju untuk mengetahui prosedur dan persyaratan yang dibutuhkan.

    Demikian kak, semoga menjawab.

    in reply to: Podcast Miskonsepsi & Realita Homeschooling #6628
    Aar
    Keymaster

    Kak Dini,

    Cara menguji pemahaman anak adalah dengan mengajukan pertanyaan dan mengobrol.

    Mulai dari buku yang biasa dibaca anak, minta anak membaca, kemudian tanyakan sesuai pada anak. Jangan langsung materi pelajaran, tapi mulai dari buku cerita yang dikenal anak:
    ~ siapa nama tokohnya?
    ~ apa judul bukunya?
    ~ tanyakan hal-hal lain yang terkait isi buku (lokasi, waktu, jalan cerita, konflik, dsb)

    Jika anak mengalami kesulitan, kenali penyebabnya. Cari buku yang lebih sederhana. Atau, mulai dari membaca satu paragrap. Jika satu paragrap masih kesulitan, turunkan hingga satu kalimat.

    Jadi, prosesnya adalah: minta anak membaca dan setelah itu tanya isi yang dibacanya. Sekali lagi, prosesnya disesuaikan dengan kapasitas anak, bukan berdasarkan usianya.

    Semoga membantu.

Viewing 15 posts - 451 through 465 (of 766 total)
Scroll to Top